
Yara dan Ryder sama-sama memekik kaget saat mendengar ucapan Ayu, lalu mereka saling bertatapan selama beberapa saat, sampai akhirnya Yara memalingkan wajahnya dan memutus tatapan tersebut.
"Ca-calon suami Anda baik-baik saja, tapi ada sesuatu hal yang harus saya katakan. Bisa saya bicara sebentar dengannya?" ucap Yara kembali. Terserah mau calon suami atau apa, yang jelas dia harus bertanya sebenarnya apa yang laki-laki itu lakukan di tempat ini.
"Ikut aku!" ajak Ryder kemudian tanpa menunggu jawaban dari Ayu. Memangnya siapa wanita itu? Seenaknya saja memproklamirkan dirinya sebagai calon suaminya.
Yara lalu menganggukkan kepalanya dan bergegas mengejar langkah Ryder, sementara Ayu menatap dengan tidak suka. Dia yakin sekali jika Dokter itu pasti tertarik pada Ryder.
Ryder lalu menghentikan langkahnya saat sudah berjalan jauh dari banyak orang, dia lalu berbalik dan menunggu Yara yang masih berjalan ke arahnya.
Yara lalu berdiri tepat di hadapan Ryder dan menatap laki-laki itu dengan tajam, sementara Ryder menatapnya dengan hangat dan memuja.
"Apa yang kau lakukan di sini, Ryder?" tanya Yara secara langsung. "Seingatku negaramu tidak di sini, apalagi di desa ini." Tambahnya dengan tajam.
Ryder terdiam. Tidak mungkin dia mengatakan jika dia diusir oleh papanya dan pergi ke negara ini karena ingin bertemu dengannya, walau pada akhirnya dia terdampar di sebuah desa yang lumayan jauh dari kota.
"Kau tidak mau menjawab pertanyaanku?" sinis Yara. Entah kenapa dia merasa sangat kesal sekali saat ini.
"Aku tidak punya kewajiban untuk menjawab ucapanmu, Dokter Yara," ucap Ryder dengan lirih. Dia memilih untuk tidak mengatakannya, lagi pula tidak ada gunanya jika wanita itu mengetahui apa yang terjadi.
"Kau memang tidak punya kewajiban untuk menjawab pertanyaanku, Ryder. Tapi aku wajib menghentikan niat buruk yang ada dalam hatimu!" ucap Yara dengan tajam dan penuh dengan penekanan.
Ryder mengernyitkan kening bingung saat mendengar apa yang Yara katakan. Niat buruk? Apa maksudnya?
"Aku tidak tau apa alasanmu sampai datang ke negara ini, dan tinggal di desa terpencil seperti ini. Tapi jika kau melakukan hal buruk pada para wanita yang ada di sini, maka aku tidak akan tinggal diam," ujar Yara dengan sarkas dan penuh ancaman.
"Apa kau berpikir aku di sini untuk menyakiti para wanita?" tanya Ryder dengan nanar. Jangankan menyakiti wanita yang ada di sini, dia bahkan sama sekali tidak berminat.
__ADS_1
"Kenapa tidak. Bukankah kau pernah melakukan hal yang sama denganku?"
Deg.
Ryder terdiam. Ya, apa yang Yara katakan itu benar. Bagaimana mungkin dia bisa melupakan tentang semua itu? Itu adalah kesalahan terbesar dalam hidupnya yang telah dia lakukan, hingga menggores hati wanita yang sangat dia cintai.
"Maaf, aku tidak-"
"Aku menemuimu bukan untuk mendengar permintaan maaf," potong Yara dengan cepat. "Aku hanya ingin memperingatkanmu jika aku tidak akan tinggal diam jika kau berniat jahat pada para wanita yang ada di tempat ini. Baik yang muda atau pun tua. Jika sedikit saja kau menyentuh mereka, aku pasti akan memberi pelajaran yang tidak akan pernah kau lupakan."
Ryder terdiam saat mendengar ucapan Yara. Hatinya terasa benar-benar sakit ketika melihat kebencian yang besar dimata wanita itu, bahkan Yara juga memandangnya dengan sangat buruk seperti ini.
"Aku hanya ingin mengatakan itu saja. Setidaknya sadarlah dan jangan menyakiti orang lain lagi, memangnya apa salah mereka padamu? Setiap orang itu berharga, tetapi dengan seenak hati kau mempermainkan harga diri mereka. Suatu saat nanti kau akan merasakan bagaimana sakitnya saat harga dirimu diinjak-injak," ucap Yara dengan tajam, dan melesat tepat ke jantung Ryder.
Yara lalu berbalik dan segera pergi dari tempat itu tanpa melihat ke belakang. Dia mengepalkan kedua tangannya dengan erat, dan tidak akan lagi berurusan dengan laki-laki itu.
Ryder sadar jika apa yang Yara katakan tadi bukan hanya sekedar ancaman saja, tetapi lebih kepada curahan hati yang selama ini wanita itu pendam. Sebesar itulah dia telah menyakiti hati Yara, lalu bagaimana mungkin dia masih dengan tidak tahu malunya mengharapkan wanita itu?
"Aku bahkan tidak pantas hanya untuk memikirkannya, apa lagi memilikinya." Lirih Ryder. Dia lalu mengayunkan langkahnya untuk pergi meninggalkan tempat itu.
Tanpa Ryder sadari, sejak tadi Bayu ada di tempat itu dan mendengar semua percakapan antara dia dan Yara.
Bayu yang melihat Ryder sedang berjalan di tempat itu bergegas untuk menghampirinya karena ada sesuatu yang penting. Namun, dia menghentikan kakinya saat melihat seorang wanita juga berjalan ke arah Ryder bahkan berdiri dengan saling berhadapan. Dia terkejut saat melihat sosok wanita yang sedang bersama dengan Ryder, lalu memutuskan untuk menguping pembicaraan mereka.
"Sebenarnya kau itu siapa, Ryder? Aku tau kalau kau bukan orang biasa, tapi aku tidak menyangka jika kau juga bukan berasal dari negara ini. Lalu, apa tujuanmu sebenarnya?" Lirih Bayu. Dia merasa terkejut dan juga bingung.
Setelah berbicara dengan Ryder, Yara kembali ke tenda medis untuk bergabung dengan yang lain. Namun, rupanya mereka masih berada di rumah. Dia lalu memutuskan untuk masuk sendiri ke tempat itu.
__ADS_1
"Dokter!"
Langkah Yara terhenti saat mendengar suara panggilan seseorang, dia lalu berbalik dan menatap orang tersebut.
"Iya, ada yang bisa saya bantu?" tanya Yara dengan ramah. Dia berpikir jika ada seorang lelaki yang berdiri di belakangnya, ternyata ada 3 orang lelaki.
Ketiga lelaki itu menatap Yara dengan takjub. Mereka segera tancap gas untuk datang ke tempat ini saat ada seseorang yang mengatakan jika Dokter sukarelawan yang datang sangat cantik, dan ternyata Dokter itu memang benar-benar sangat cantik bak bidadari.
"Maaf, apa Anda mendengarku?" tanya Yara kembali membuat ketiga lelaki itu terkesiap.
"I-iya. Kami mau melakukan pemeriksaan, bisakah Dokter memeriksa kami?" ucap salah satu dari lelaki itu, yang langsung dibenarkan oleh teman-temannya.
"Tentu saja bisa. Tapi, saat ini teman-teman saya masih berada di rumah. Jadi saya tidak bisa masuk ke dalam," ujar Yara memberi penjelasan. Sebenarnya dia bisa masuk ke dalam karna punya kuncinya, tetapi tidak mungkin dia berada di dalam ruangan itu bersama dengan tiga lelaki.
"Bisakah Anda semua menunggu sebentar?" tanya Yara kembali.
Ketiga lelaki itu mengangguk lalu duduk di kursi yang ada di tempat itu. Mereka lalu meminta Yara untuk bergabung dengan mereka.
Ryder yang akan kembali ke pabrik dan melewati tempat itu menatap dengan tidak suka, matanya menyala merah saat melihat ketiga lelaki itu.
"Apa yang tiga lalat itu lakukan di sana?"
•
•
•
__ADS_1
Tbc.