Takdir Cinta Yang Kau Pilih

Takdir Cinta Yang Kau Pilih
Bab 178. Kabar Bahagia.


__ADS_3

Yara merasa terkejut saat mendengar ucapan Ryder. Dia lalu terdiam dengan pikiran melayang-layang saat teringat dengan sesuatu. Benar, dia belum mengalami menstruasi sejak menikah dengan Ryder. Sangking sibuknya menyiapkan ini dan itu, dia sampai tidak ingat dengan hal tersebut.


"Sayang, kenapa kau diam saja?" tanya Ryder kembali sambil memegang kedua bahu Yara, lalu mengguncang tubuh wanita itu agar tersadar dari lamunan. "Katakan padaku, Sayang. Apa kau benar-benar hamil?" Dia menatap dengan mata berbinar dan penuh harap.


Yara yang baru tersadar dari lamunan beralih menatap Ryder dengan hangat. Dia merasa bahagia sekali memiliki suami siaga seperti laki-laki itu, Ryder bahkan sampai membahas tentang kehamilan padahal dia sendiri tidak pernah memikirkan tentang semua itu. Dia jadi merasa malu, sebenarnya siapa yang Dokter di sini?


"Aku tidak tahu sedang hamil atau tidak, Mas. Aku belum pernah memeriksanya, tapi selama menikah aku memang belum menstruasi," jawab Yara.


Ryder tersenyum lebar. "Semoga saja kau benar-benar hamil, Sayang. Besok kita bisa memeriksanya." Dia lalu memeluk Yara dengan erat.


Yara mengangguk. "Insyaallah, Mas. Besok pagi kita akan memeriksanya." Dia membalas pelukan sang suami dengan tidak kalah erat. Semoga saja harapan mereka dikabulkan oleh Tuhan, jika tidak pun maka mereka akan tetap bersabar dan berusaha.


"Ya sudah, kalau gitu kau duduk saja. Biar aku yang memasak mie ini," ucap Ryder kemudian setelah melerai pelukannya.


Yara tersenyum sambil memberikan tatapan ejekan. "Memangnya Mas bisa masak?"


Dengan cepat Ryder menggelengkan kepalanya. Dia memang tidak bisa memasak, bahkan tidak pernah masuk ke dapur untuk menyiapkan bahan masakan. Namun, kali ini dia benar-benar ingin membuatkannya untuk sang istri tercinta.


"Kau bisa memberitahuku cara masaknya, Sayang. Ayo cepat, nanti keburu subuh!" seru Ryder dengan semangat.


Yara menganggukkan kepalanya. Dia lalu duduk dikursi yang tadi diduduki oleh Ryder, dan mulai memberitahu tata cara memasak mie pada suaminya itu.


Dengan semangat membara, Ryder menyiapkan semua bahan masakan sesuai dengan arahan Yara. Lalu mulai memasukkan satu per-satu bahan ke dalam alat masak, tidak lupa mencicipi rasanya agar bisa dinikmati oleh lidah.


Beberapa saat kemudian, dua mangkuk berisi mie kuah pedas sudah tersaji di atas meja membuat air liur Yara langsung menetes. Dia sudah tidak sabar untuk mencicipinya saat ini juga.


"Makanlah dengan perlahan, Sayang, dan ini minumnya," ucap Ryder sambil meletakkan dua gelas berisi air mineral ke atas meja.


Yara mengangguk paham. Dia lalu mulai menikmati mie itu dengan mengucap basmallah tidak lupa mengajak Ryder untuk menikmatinya sebelum mie mengembang.


"Wah, rasanya lezat sekali. Ternyata kau pintar memasak yah Mas," seru Yara saat sudah memasukkan beberapa sendok mie kuah itu ke dalam mulut. Rasa dari makanam itu benar-benar lezat, sampai dia memberikan pujian dan dua jempol untuk sang suami.

__ADS_1


Ryder tersenyum senang mendengar pujian Yara. Tidak disangka memasak seperti ini bisa membuatnya bahagia, apalagi mendapat pujian dari orang yang disayang.


"Mie ini bisa lezat karena aku memasaknya sesuai dengan arahanmu, Sayang. Sudah, cepat habiskan sebelum hari semakin pagi," seru Ryder.


Yara kembali mengangguk sambil menikmati mie kuah itu. Makanan instan sejuta umat yang disukai banyak orang, tetapi entah kenapa rasanya sangat lezat sekali padahal hanya dimasak biasa saja.


Setelah selesai makan, mereka kembali ke kamar dan duduk di atas ranjang. Mereka lalu membahas masalah pembangunan rumah sakit yang sudah hampir selesai, sambil menunggu makanan yang ada di dalam perut mereka dicerna.


***


Keesokan paginya, Yara dan Ryder bangun kesiangan karena jam empat subuh baru kembali terpejam. Terlihat para pembantu dan pekerja kebun sudah selesai mengerjakan pekerjaan mereka, tetapi sang tuan dan nyonya pemilik rumah belum juga menampakkan diri.


"Tuan dan Nyonya baik-baik saja 'kan?" ucap salah satu pembantu di rumah itu. Dia merasa khawatir karena sang majikan belum bangun juga, padahal sudah hampir jam 10 pagi.


"Tentu saja. Sepertinya tadi malam beliau terbangun dan memasak, aku lihat ada piring kotor dan kuali di dapur," sahut pembantu yang satunya lagi. Dia yang semalam sudah mencuci semua piring sebelum pulang ke rumah, terkejut saat pagi ini melihat sudah ada piring kotor.


"Ryder!"


Kedua pembantu itu terkejut saat mendengar panggilan seseorang, dengan cepat salah satu dari mereka keluar untuk melihat siapa yang sedang bertamu.


Edward tersenyum lalu melangkah masuk ke dalam rumah sambil membawa beberapa laporan yang harus ditanda tangani oleh Ryder.


"Di mana Ryder, apa dia sudah pergi ke pabrik?" tanya Edward pada pembantu itu.


Pembantu itu menggelengkan kepala. Namun, belum sempat dia menjawab. Tiba-tiba terdengar suara langkah seseorang yang saat ini sedang menuruni tangga.


"Loh, Anda ada di sini?" ucap Ryder sambil mengusap wajahnya yang masih mengantuk.


Edward menggelengkan kepalanya melihat Ryder yang masih berantakan dan muka bantal. "Ya ampun, jam segini kau baru bangun?" Dia menatap tidak percaya.


Ryder tersenyum lebar sambil mendudukkan tubuhnya di sofa. "Kami kesiangan, Om. Makanya baru bangun." Dia lalu menceritakan jika Yara terbangun dan merasa lapar dijam 2 dini hari, lalu mereka kembali tidur saat jam 4.

__ADS_1


Edward tersenyum mendengarnya. "Ya sudah, tidak papa-papa kalau seperti itu. Yang penting kalian harus jaga kesehatan." Ucapnya.


Ryder mengangguk paham. Dia lalu memanggil salah satu pembantu dan meminta tolong agar pergi ke apotek terdekat untuk membeli tespek, kebetulan Yara tidak punya persediaan di rumah.


"Tespek?" tanya Edward dengan kaget. "Apa Yara hamil, Ryder?" Dia merasa kaget sekaligus senang.


"Belum tahu, Om. Kami baru akan memeriksanya, semoga saja istriku benar-benar hamil," sahut Ryder.


Edward langsung mengaminkan ucapan Ryder dan ikut merasa senang dengan kabar itu. Dia lalu memberitahukan maksud kedatangannya pagi ini ke rumah mereka, sambil memberikan laporan yang sejak tadi dia pegang pada laki-laki itu.


Beberapa saat kemudian, pembantu sudah kembali ke rumah dan menyerahkan tespek yang dia beli pada Ryder. Dengan cepat Ryder pergi ke kamar untuk memberikannya pada sang istri. Kebetulan Edward juga sudah pergi dari rumahnya.


"Sayang, ini tespeknya," seru Ryder sambil masuk ke dalam kamar.


Yara yang baru selesai memakai pakaian karena baru siap mandi langsung beralih melihat ke arah Ryder. "Sebentar Mas, aku siapkan ini dulu." Dia bergegas menutup lemari dan beranjak mendekati sang suami.


Yara lalu kembali masuk ke dalam kamar mandi untuk mengambil urin yang sebelumnya sudah dia tampung, lalu memasukkan tespek ke dalam urin tersebut untuk memeriksa hasilnya.


Jantung Yara dan Ryder berdegup kencang saat menunggu hasil dari tespek tersebut. Tidak berselang lama, muncullah garis di alat tes kehamilan tersebut.


"I-ini, ini-" Yara tidak dapat melanjutkan ucapannya karena merasa syok saat melihat dua garis berwarna merah di tespek tersebut, sementara Ryder yang tidak mengerti langsung panik melihat reaksi sang istri.


"A-apa yang terjadi, Sayang? Bagaimana hasilnya?" tanya Ryder dengan cemas, wajahnya berubah panik melihat Yara diam dengan tangan gemetaran.


Yara yang masih menunduk langsung menatap Ryder dengan mata berkaca-kaca. Dengan cepat dia memeluk tubuh suaminya itu dengan tangis kebahagiaan.


"Aku hamil, Mas. Aku hamil. Sebentar lagi kita akan menjadi orangtua."



__ADS_1



Tbc.


__ADS_2