
Walaupun cara Zafran sangat ekstrim dan menyeramkan, serta tidak pantas untuk ditiru, tetapi Hana benar-benar mengerjapkan kedua matanya dengan wajah bingung. Wanita itu bahkan hampir melompat turun dari ranjang karena terkejut dengan apa yang Zafran lakukan.
"Ma-maaf, Tuan. Saya tidak-" Hana tidak dapat melanjutkan ucapannya karena tiba-tiba Zafran memeluk tubuhnya dengan erat membuat kedua matanya membelalak lebar, dan tubuhnya juga menegang.
"Syukurlah kau sudah sadar," ucap Zafran sambil menghela napas lega.
Hana hanya diam dengan tubuh kaku karena sangat syok dengan apa yang Zafran lakukan. Siapapun juga pasti akan sadar jika diperlakukan seperti tadi oleh laki-laki itu, bahkan nyawanya seperti melompat keluar dari tubuh sangking terkejutnya.
Zafran lalu melerai pelukannya dan menahan Hana dengan hangat. "Bagaimana perasaanmu saat ini, apa ada yang sakit?" Suaranya sangat lembut dan pelan.
Hana tersadar dari lamunan dan segera menganggukkan kepalanya. "Sa-saya baik-baik saja, Tuan." Dia menunduk karena merasa malu.
Zafran benar-benar merasa senang karena saat ini Hana sudah membuka kedua matanya. Sesaat yang lalu dia merasa seperti tidak akan bertemu dengan wanita itu lagi, itu sebabnya dia memaksa Hana untuk membuka mata.
Hana yang akan turun dari ranjang merasa terkejut saat baru sadar jika tangannya sedang terpasang infus, dia juga melihat ada beberapa macam obat yang terletak dinakas.
"Kau tidak boleh banyak bergerak dulu, kata Dokter kau harus banyak istirahat," ucap Zafran. Suaranya sudah kembali seperti biasa, begitu juga dengan raut wajahnya, tetapi tatapan matanya masih tampak sayu.
"Se-sebenarnya saya kenapa, Tuan?" tanya Hana dengan tidak mengerti. Seingatnya tadi dia sedang berjalan menuju kamar bersama dengan Jena, setelah itu semuanya terasa gelap dan berputar-putar. Mungkinkab dia pingsan?
"Ya, kau tadi pingsan."
"A-apa?" ucap Hana dengan kaget. Tidak disangka Zafran tahu apa yang sedang dia pikirkan.
"Kau tidak sadarkan diri saat aku pulang, setelah itu kau diperiksa oleh Dokter. Kau tahu alasan kenapa bisa pingsan?" tanya Zafran dengan tajam
Hana menggelengkan kepalanya dengan lemah karena tidak tahu alasan kenapa pingsan. Mungkinkah dia sedang kelelahan? Tidak, itu tidak mungkin.
"Kau terlalu stres dan banyak pikiran, sehingga kau merasa tertekan sampai akhirnya tidak sadarkan diri," sambung Zafran.
Hana tertegun mendengar penjelasan dari Zafran. Padahal selama ini dia sudah baik-baik saja, tetapi sekarang kenapa malah seperti ini?
"Maaf," ucap Hana sambil menundukkan kepalanya.
Zafran menghela napas kasar. "Sudah berapa kali kubilang, berhenti meminta maaf karena kau tidak salah apapun, Hana." Dia memberi penekanan disetiap kata-katanya membuat Hana semakin mengkerut takut. "Sekarang lihat aku!" Perintahnya kemudian.
__ADS_1
Hana menelan salivenya dengan kasar lalu menatap Zafran dengan ragu-ragu, walau saat ini dia ingin sekali berlari sejauh mungkin karena merasa takut.
"Aku tidak apa-apa, nama baikku tidak akan rusak hanya karena gosip murahan seperti itu, dan tidak semua orang percaya dengan gosip. Jadi kau tidak perlu memikirkannya," ucap Zafran kembali.
"Ta-tapi gara-gara saya-"
"Tidak, itu bukan gara-garamu, tapi gara-gara laki-laki bajing*an itu. Jadi jangan siksa dirimu sendiri hanya karena laki-laki seperti dia, dia tidak pantas untuk kau pikirkan, apalagi sampai membuatmu sakit seperti ini. Apa kau paham?"
Sesaat Hana terdiam untuk mencerna semua ucapan Zafran, dia lalu mengangguk lemah setelah mengerti dengan semua yang laki-laki itu katakan.
"Apa kau masih mencintai dia?"
Hana tersentak kaget mendengar pertanyaan Zafran. Tiba-tiba wajahnya memerah karena malu, padahal laki-laki itu hanya bertanya saja.
"Ti-tidak. Saya sudah tidak mencintai," jawab Hana dengan tergagap.
"Baguslah. Untuk apa kau mencintai laki-laki seperti itu, dasar bod*oh," umpat Zafran dengan kesal.
Hana mencebikkan bibirnya saat mendengar umpatan Zafran. Dia tahu kalau dia adalah wanita yang bod*oh, tetapi tidak harus dikatai bod*oh juga kali. Membuatnya sebal saja, dan sekarang dia sudah berani merasa sebal. Suatu peningkatan yang luar biasa.
"Aku lapar," ucap Zafran kembali sandar menyandarkam tubuhnya ke kursi.
"Mau ke mana?" tanya Zafran sambil menahan kaki Hana yang sudah akan menyentuh lantai.
"Saya ingin mengambilkan makanan untuk Anda, Tuan."
"Itu tidak perlu," seru Zafran sambil menggelengkan kepalanya. Dia lalu menunjuk ke arah meja di mana sudah tersedia makanan dan minuman.
Tatapan Hana lalu mengikuti arah tangan Zafran, dan dia terkejut saat melihat ada makanan dan minuman di atas meja. "Ka-kalau gitu kenapa Anda tidak makan, Tuan?"
"Itu karena kau."
"Hah?" Hana merasa tidak mengerti dengan apa yang Zafran katakan. Kenapa pula jadi gara-gara dia sementara laki-laki itu bisa makan sesuka hati?"
"Aku menunggumu karena ingin makan bersama," sambung Zafran sambil beranjak dari kursi untuk mengambil makanan dan minuman yang tadi diantar oleh Jena.
__ADS_1
Seketika wajah Hana memerah saat mendengar ucapan Zafran. Dadanya berdegup kencang karena jantungnya serasa mau meledak, sungguh dia merasa malu dan senang secara bersamaan.
"Hentikan, aku tidak boleh berpikir macam-macam." Hana menggelengkan kepalanya untuk menghilangkan segala pikiran yang iya-iya, dia tidak mau memikirkan sesuatu yang mustahil. Sudah syukur Zafran dan keluarga laki-laki itu mau menerimanya seperti ini.
"Ayo makan, aku sudah sangat lapar!" ajak Zafran setelah memberikan sepiring makanan untuk Hana.
Hana mengangguk sambil mengucapkan terima kasih. Dia lalu menyantap makanan yang Zafran beri untuk mengalihkan pikirannya, sementara Zafran sendiri tersenyum melihat Hana mau memakan makanan itu.
"Sekuat tenaga aku menyangkal perasaan ini, tetapi hari ini aku ditampar dengan perasaanku sendiri. Sekarang aku yakin kalau benar-benar menyukaimu, Hana." Zafran menghela napas kasar. Sungguh sangat aneh sekali, bisa-bisanya dia suka dengan Hana, dengan wanita yang masih berstatus istri orang. Sangat menggelikan sekali.
Sementara itu, di depan kamar terlihat Zea sedang menyandarkan tubuhnya ke dinding. Sebenarnya sudah sejak tadi dia datang ke rumah Zafran dan ingin melihat keadaan Hana setelah tahu jika wanita itu tidak sadarkan diri, tetapi dia tidak mau mengganggu Zafran dan Hana yang sepertinya sedang menghabiskan waktu bersama.
Zea menekan dadanya sendiri yang terasa sangat sakit. Bukan hanya sakit, tetapi juga menyesakkan. Namun, dia mencoba untuk tetap tegar dan menerima kenyataan bahwa Zafran benar-benar tidak menyukainya. Sungguh sangat menyedihkan sekali.
"Kenapa Anda tidak masuk, Nona?" tanya Jena yang baru selesai membuatkan minuman segar untuk Zea.
Dengan cepat Zea mengusap air matanya yang sempat jatuh membasahi wajah. "Tidak apa-apa, aku tidak mau mengganggu Hana. Dia pasti harus banyak istirahat." Dia tersenyum dengan canggung.
Jena membalas senyuman Zea dan mempersilahkan wanita itu untuk duduk, tetapi Zea malah ingin pamit pulang saja dengan alasan masih ada pekerjaan lain yang harus dia kerjakan.
"Kau datang untuk menemui Hana, 'kan?"
Zea yang sudah berdiri di ambang pintu menghentikan langkah kakinya saat mendengar suara Zafran. Sesaat dia menarik napas panjang lalu menghembuskannya dengan perlahan, mencoba untuk menenangkan diri dan bersikap biasa.
"Gimana yah, aku takut menganggu istirahatnya," ucap Zea sambil membalikkan tubuhnya. "Tapi kalau kau memaksa, maka aku akan melihatnya. Kau tidak boleh ikut!" Larangnya sambil menunjuk tepat ke wajah Zafran.
Zafran berdecih mendengar ucapan Zea, tetapi dia merasa senang karena wanita itu tampak baik-baik saja.
Zea lalu masuk ke dalam kamar Hana membuat wanita itu terkejut dan tidak menyangka jika dia akan datang. Tentu saja suasana kamar itu berubah ramai dan ceria karena kedatangannya, berbanding terbalik dengan suasana hatinya saat ini.
"Tuhan, jika memang dia tidak Kau takdirkan untukku, maka berilah ganti yang jauh lebih baik. Aku tidak sanggup jika harus melihatnya bersama dengan orang lain seorang diri, setidaknya beri aku pasangan supaya bisa mengobati rasa sakit ini."
•
•
__ADS_1
•
Tbc.