
Cukup lama Zafran menghabiskan waktu di pesta itu, apalagi dengan kedatangan Zea yang ikut memeriahkan acara. Terlihat hubungan mereka berdua sangat dekat, bahkan sampai membuat Junior terus memperhatikan.
Jam sudah menunjukkan pukul 1 dini hari, tetapi tidak ada satu pun orang yang ada di tempat itu berniat untuk pulang dan meninggalkan pesta.
"Ini sudah terlalu malam, aku harus segera pulang," ucap Zafran di sela-sela obrolannya dan Zea.
Zea langsung melihat jam yang melingkar dipergelangan tangannya saat mendengar ucapan Zafran. "Benar, ini sudah jam 1. Kau pasti lelah karena sibuk bekerja dan harus segera istirahat." Dia berucap dengan penuh perhatian.
Zafran tersenyum. Dia lalu beranjak dari sofa dengan diikuti Junior. "Kau juga pulanglah, Zea. Tidak baik seorang wanita berada di luar rumah dijam segini."
Zea langsung menganggukkan kepalanya dan bersiap untuk pulang juga. Dia lalu menggelengkan kepalanya saat melihat teman-teman yang lain sudah terkapar mabuk di kursi mereka masing-masing.
"Ayo, kita harus pamit pada Frans!" ajak Zafran sambil melihat ke arah Junior, dan dibalas dengan anggukan laki-laki itu.
"Tu-tunggu, Zafran," seru Zea membuat Zafran tidak jadi melangkahkan kaki. Laki-laki itu lalu melihat ke arahnya dengan heran. "Apa kau bisa mengantarku? Tadi aku sudah menyuruh supirku pulang duluan." Dia berucap dengan pelan.
"Tentu saja, Ayo!" sahut Zafran.
Zea langsung tersenyum lebar mendengar jawaban Zafran. Dengan cepat dia mengikuti langkah laki-laki itu untuk mencari keberadaan Frans. Beruntung tadi dia menyuruh supirnya untuk pulang duluan, jadi dia bisa pulang bersama dengan Zafran.
Setelah menemukan Frans yang sedang terkapar di dalam rumah, Zafran lalu pergi dari tempat itu bersama dengan Junior dan Zea.
"Rumahmu masih tetap sama 'kan?" tanya Zafran sambil melirik ke arah Zea yang sedang duduk di sampingnya.
Zea mengangguk. "Aku masih tinggal di sana Zaf, dan tidak akan pindah. Kau boleh sesekali berkunjung ke sana juga."
Zafran tersenyum sambil ikut menganggukkan kepalanya. Dia lalu menyebutkan di mana alamat rumah Zea pada Junior yang saat ini sedang mengemudikan mobil itu.
Tidak berselang lama, sampailah mereka ke tempat tujuan. Zafran langsung pamit pulang saat Zea bermaksud untuk mengajaknya singgah sebentar, karena memang tidak mungkin dia bertamu ke rumah orang lain saat dini hari seperti ini.
__ADS_1
Junior lalu kembali melajukan mobilnya menuju rumah Zafran. Sepanjang perjalanan, tidak ada yang bersuara di dalam mobil karena sama-sama merasa lelah sekali hari ini.
"Menginaplah di sini, Zaf. Bahaya jika pulang di jam segini," ucap Zafran saat mereka sudah sampai di rumahnya.
Junior mengangguk. Dia juga malas sekali untuk pulang karena merasa sangat lelah dan ingin segera berbaring di atas ranjang. Dia lalu mengikuti langkah Zafran untuk masuk ke dalam rumah.
"Kalian baru pulang?"
Zafran dan Junior terjingkat kaget saat mendengar suara seseorang, terlihat Vano sedang berjalan dari arah dapur sambil membawa sebotol air mineral.
"Papa belum tidur?" tanya Zafran sambil menatap sang papa dengan heran. Padahal jam sudah menunjukkan pukul 2 dini hari, tetapi papanya masih belum tidur juga.
"Tadi siang papa tidur sampai sore, jadi sekarang belum ngantuk," jawab Vano sambil mendudukkan tubuhnya di sofa.
Zafran mengangguk paham. Dia lalu pamit ke kamar untuk membersihkan diri dan istirahat, karena besok masih banyak sekali pekerjaan yang harus diselesaikan.
"Baiklah, cepat mandi dan istirahat. Kau juga, Junior. Hari ini pasti kalian sangat lelah," ucap Vano kemudian.
Sementara itu, di tempat lain terlihat Yara dan Ryder juga masih terjaga padahal hari sudah hampir subuh.
Sebenarnya tadi mereka sudah sempat tidur selam beberapa jam. Namun, tiba-tiba Yara terbangun dan tidak lagi bisa memejamkan kedua matanya. Jelas saja Ryder juga ikut terbangun karena memang dibangunkan oleh sang istri.
"Ada apa, Sayang? Kenapa kau bangun?" tanya Ryder sambil menguap. Dia masih merasa ngantuk, bahkan kedua matanya tampak menyipit karena terkena sinar lampu.
Yara menghela napas kasar. "Aku lapar, Mas. Makanya terbangun."
Ryder langsung menatap sang istri dengan heran. Selama mereka menikah, baru pertama kali ini Yara lapar saat dini hari, padahal sebelum tidur mereka sempat makan camilan dari tetangga sebelah rumah.
"Ayo, temani aku makan!" ajak Yara sambil beranjak turun dari ranjang. Namun, tangannya ditahan oleh Ryder membuatnya kembali melihat ke arah laki-laki itu.
__ADS_1
"Yakin, mau makan dijam segini?" tanya Ryder sambil menunjuk ke arah jam yang tergantung di dinding, dan terlihat sekarang sudah pukul 2 dini hari.
Yara mengangguk. "Yakinlah Mas, aku kan lapar." Dia mengernyitkan kening heran. Memangnya kenapa tidak yakin makan dijam segini?
Ryder tidak lagi bersuara dan memutuskan untuk ikut turun dari ranjang. Mereka lalu turun menuju lantai satu di mana dapur berada dan menghidupkan lampu di beberapa ruangan.
"Bagaimana kalau makan camilan saja? Tidak baik loh, makan berat dijam segini," ucap Ryder sambil mendudukkan tubuhnya ke kursi makan.
Yara terdiam sambil menatap cemilan yang ada di atas meja. Setelah keluarga mereka pulang, mereka memang belum sempat belanja karena disibukkan dengan mengatur barang-barang yang ada di dalam rumah.
"Tapi aku gak mau makan itu, Mas. Aku mau makan yang pedas-pedas," sahut Yara sambil menelan salivenya dengan kasar. Dia sudah membayangkan betapa enaknya memakan makanan yang pedas dan berkuah saat ini.
Ryder semakin menatap Yara dengan heran. Makan dijam segini saja sudah sangat aneh, lalu sekarang istrinya itu ingin makan makanan yang pedas. Apakah ada yang salah dengan Yara saat ini?
"Bagaimana kalau kita makan mie instan, Mas mau juga kan?" tawar Yara. Dia berjalan ke arah lemari untuk memeriksa apakah masih ada mie instan yang tersisa, lalu tersenyum cerah saat melihat apa yang dia inginkan masih ada di sana.
"Kalau dikasi telur dan sosis pasti tambah enak," ucap Yara dengan semangat. Dia lalu mulai mempersiapkan semua bahan-bahan yang ada di hadapannya dengan tidak sabar.
Ryder hanya diam sambil terus memperhatikan gerak-gerik Yara. Sepertinya memang ada yang aneh dengan istrinya itu, sampai akhirnya dia menyadari sesuatu dan langsung mendekati sang istri.
"Sayang, apa kau sedang hamil?"
"A-apa?"
•
•
•
__ADS_1
Tbc.