
Ryder memekik kaget saat mendengar Yara menyebut nama papanya, mungkinkah papanya tahu jika selama ini dia tinggal di desa ini?
"Ada apa? Kenapa kau sekaget itu saat mendengarnya?" tanya Yara dengan tatapan curiga, membuta Ryder langsung menggelengkan kepalanya.
"Tidak ada, Kok," jawab Ryder sambil menggelengkan kepalanya. Tidak, dia tidak boleh membiarkan Yara mengetahui apa yang terjadi padanya setelah wanita itu pergi.
Yara menghela napas kasar lalu kembali melanjutkan langkah kakinya untuk keluar dari tempat itu. Begitu keluar dia merasa terkejut saat melihat ada banyak orang yang berada di sana.
"Yara."
Yara langsung memalingkan wajahnya ke arah samping saat mendengar panggilan seseorang. "Om Eric?" Dia segera menghampiri laki-laki itu dan langsung menyalimnya.
Eric tersenyum lebar saat melihat Yara, dia senang karena wanita itu sama sekali tidak berubah dan tetap memperlakukannya dengam ramah dan sopan, bahkan Yara mau merawat Ryder kembali padahal laki-laki itu sudah sangat menyakiti hati wanita itu.
Orang-orang yang ada di tempat itu benar-benar dibuat terkejut terus-terusan dengan apa yang terjadi. Mereka terkejut saat mengetahui jika ternyata Ryder anak dari lelaki kaya yang saat ini ada di hadapan mereka, pantas Ryder begitu tampan dengan bentuk tubuh yang sempurna, sangat jauh berbeda dari orang desa atau orang biasa.
Lalu, mereka juga dikejutkan saat melihat Dokter yang datang ke desa mereka beberapa hari yang lalu ternyata mengenal orang tua Ryder, atau sebenarnya Dokter Yara itu adalah tunangan Ryder? Itu sebabnya dia datang ke desa ini untuk melihat lelaki itu.
"Bagaimana kabar Om dan Tante?" tanya Yara dengan ramah. Kemudian dia mengajak Eric untuk masuk ke dalam jika ingin melihat bagaimana keadaan Ryder.
Eric lalu menjawab jika kabarnya dan sang istri baik-baik saja, walau selama kepergian Ryder istrinya lebih banyak murung dan malas untuk ngapa-ngapain. Sangking malasnya, bahkah sang istri tahan tidak melihat wajahnya walau dia selalu berada di samping wanita itu.
Eric lalu masuk ke dalam tempat itu untuk melihat bagaimana keadaan Ryder. Dia merasa lega saat melihat putranya itu baik-baik saja, padahal saat dalam perjalanan tadi dia sudah hampir pingsan begitu mendengar jika Ryder tertimpa balok. Memangnya siapa yang tidak jantungan saat mendengarnya?
__ADS_1
"Apa aku boleh menanyakan sesuatu pada Om?" tanya Yara sambil memelankan suaranya agar Ryder tidak mendengar apa yang dia katakan.
"Tentu saja." Eric menganggukkan kepalanya lalu berjalan keluar dari tempat itu. Dia tahu sepertinya Yara tidak mau jika Ryder mengetahui apa yang dia tanyakan.
Akhirnya Yara membawa Eric ke rumah yang dia tempati. Dia lalu menyuguhkan kopi dan makanan ringan untuk laki-laki itu, dan mempersilahkannya.
Eric menganggukkan kepalanya lalu menyeruput kopi yang sudah Yara beri untuknya, kemudian kembali meletakkan di atas meja.
"Apa yang ingin kau tanyakan pada Om, Yara?" tanya Eric.
Yara diam sejak untuk meyakinkan diei jika apa yang dia lakukan ini hanya bertanya saja dan tidak da maksud apa-apa.
"Sebenarnya apa yang sedang Ryder lakukan di sini, Om? Desa ini jauh dari kota, bahkan jauh dari tempat tinggal Om karena sudah berbeda negara. Tapi kenapa dia ada di ini?" tanya Yara dengan tajam. Dia berharap jika Eric mau mengatakan apa yang Ryder lakukan di desa ini.
"Apa Ryder tidak mengatakan sesuatu padamu?" tanya Eric dengan heran.
"Om tidak tahu alasan kenapa Ryder tidak ingin mengatakannya padamu, karena sebenarnya ada banyak hal yang terjadi setelah perbuatan jahat yang dia lakukan." Lirih Eric dengan suara pelan di akhir kalimatnya.
"Me-menangnya apa yang terjadi, Om?" tanya Yara dengan penasaran. Dari ucapan Eric, dia merasa jika sesuatu yang terjadi itu sangat besar hingga Ryder sendiri tidak mau mengatakannya.
Eric menarik napas panjang lalu menghembuskannya secara perlahan sebelum menceritakan apa yang telah terjadi pada Ryder. Dia berharap jika setelah ini akan ada sebuah cahaya yang menyinari hubungan antara putranya dengan Yara.
Setelah merasa tenang, Eric lalu menceritakan semuanya pada Yara tepat saat wanita itu pergi. Dia menceritakan semuanya dengan lengkap tanpa ada yang ditutupi sama sekali.
__ADS_1
Yara tercengang saat mendengar cerita Eric tentang apa yang sudah Ryder alami. Dia benar-benar tidak menyangka jika hal seperti itu terjadi pada Ryder. Lalu, kenapa laki-laki itu tidak mau menceritakan semua itu padanya?
"Awalnya Om juga kesusahan mencari di mana sebenarnya keberadaan Ryder, lalu salah satu anak buah Ryder mendapatkan rekaman video Ryder saat dia berada di bandara, tepat setelah kau dan adikmu berangkat pulang," ucap Eric.
Yara diam mendengarkan semua yang laki-laki paruh baya itu katakan. Perasaannya sedang campur aduk saat ini, dia benar-benar tidak percaya dengan apa yang sudah terjadi pada laki-laki itu. Apakah sejak saat itu Ryder berada di desa ini?
"Lalu kenapa Ryder ada di desa ini, Om? Maksudku jika pun dia ingin menemui atau mengejarku, pasti dia memilih untuk tinggal di kota, atau berada di sekeliling ku," ucap Yara dengan tidak mengerti. Jelas apa yang Ryder lakukan ini benar-benar membuatnya bingung.
"Jika soal itu, om juga tidak tahu apa alasannya. Tapi jika om jadi seperti dia, maka om pun pasti akan memilih tinggal di desa juga dari pada di kota," jawab Eric. "Om memberi dia hukuman agar bisa berpikir dan tidak kembali mengulangi kesalahan yang sama. Dia harus bisa menghargai dan memghormati orang lain, dia juga harus memulai semuanya dari nol tanpa ada nama keluarga yang tersemat di belakang namanya. Dan semua jawaban atas hukuman om itu yah ada di desa." Jelas Eric.
Yara kembali diam untuk memahami apa yang Eric katakan, dan ya. Dia baru menyadari apa yang laki-laki paruh baya itu katakan.
"Aku mengerti. Dia datang ke negara ini bukan karena hanya ingin melihatku saja, tetapi dia ingin menyembuhkan luka dari kesalahannya dan membuktikan jika dia bisa berubah menjadi yang lebih baik lagi." Lirih Yara sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.
Eric tersenyum saat mendengar ucapan Yara. Baguslah jika wanita itu sadar dan nantinya bisa menerima putranya walau sudah melakukan kesalahan, bukankah setiap orang berhak mendapat kesempatan kedua?
"Om tahu apa yang Ryder lakukan sudah benar-benar menyakitimu, bahkan om juga sangat murka saat mengetahuinya, begitu juga dengan mamanya. Itu sebabnya kami tidak mau melihat wajahnya untuk sementara waktu, karena apa yang dia lakukan benar-benar tidak manusiawo sekali. Tapi, satu hal yang kami ketahui. Yaitu perasaannya cintanya padamu benar-benar tulus, bahkan kami tidak pernah melihat dia menjadi seperti itu,"
"Aku mengerti, Om. Aku sangat mengerti sekali."
•
•
__ADS_1
•
Tbc.