Takdir Cinta Yang Kau Pilih

Takdir Cinta Yang Kau Pilih
Bab 210. Terlalu Syok dan Stres.


__ADS_3

Hari ini Hana sama sekali tidak bisa fokus belajar karena masalah yang sedang terjadi, sampai akhirnya dia meminta maaf pada sang guru.


"Tidak apa-apa, kita lanjut besok saja. Setelah ini istirahatlah, wajahmu sangat pucat, Hana," ucap Arvin.


Hana menganggukkan kepalanya lalu mengantar Arvin sampai ke depan pintu. Kemudian dia menutup pintu itu saat Arvin sudah pergi dan berjalan gontai menuju kamar.


"Apa kau baik-baik saja, Hana?" tanya Jena dengan khawatir saat melihat wajah Hana sangat pucat.


Hana mengangguk lemah. "Aku hanya lemas saja, Bik. Bisakah Bibi mengantarku ke kamar?"


"Tentu saja. Ayo, pelan-pelan," ucap Jena sambil memapahn tubuh Hana yang sangat dingin dan lemas, bahkan tubuh wanita itu sudah basah karena keringat.


Baru saja beberapa langkah menuju kamar, tiba-tiba Hana tidak sadarkan diri membuat Jena berteriak panik dan memanggil yang lainnya.


Rin dan yang lainnya segera berlari menuju sumbee teriakan Jena, mereka semua terkejut saat melihat Hana sudah tergeletak di atas lantai, dan bertepatan dengan kedatangan Zafran dan Junior.


"Apa yang terjadi?" teriak Zafran membuat semua orang terjingkat kaget. Dia berlari untuk menghampiri Hana dan langsung memegangi kepala wanita itu, sementara yang lain tampak sedikit menjauh. "Apa yang terjadi denganmu, Hana?" Dia menatap dengan penuh khawatir.


Jena kemudian menceritakan kejadian beberapa saat yang lalu sebelum Hana tidak sadarkan diri, sampai akhirnya wanita itu itu jatuh pingsan.


"Panggil Dokter!" perintah Zafran sambil menggendong Hana ala bridal style lalu membawanya ke dalam kamar, sementara Junior segera menghubungi Dokter pribadi keluarga Zafran.


Perlahan Zafran membaringkan tubuh Hana ke atas ranjang dengan tatapan penuh kekhawatiran. Dia segera menarik selimut untuk menutupi tubuh Hana yang sangat dingin, tetapi anehnya keringat terus mengucur di wajah wanita itu.


"Apa yang terjadi denganmu, Hana? Sadarlah," gumam Zafran sambil menggenggam sebelah tangan Hana dan menatap dengan sendu. Dia merasa sangat khawatir karena wajah Hana tampak sangat pucat bak tidak teraliri oleh darah.


Tidak berselang lama, datanglah Dokter Smith yang langsung memeriksa keadaan Hana. Dia melakukan pemeriksaan secara menyeluruh dan memasang infus untuk wanita itu, sementara Zafran dan Junior menunggu dengan khawatir.


"Kakak!"


Jena dan yang lainnya terjingkat kaget saat mendengar teriakan Zayyan. Mereka sedang berdiri di depan pintu kamar Hana karena ingin tahu apa yang terjadi dengan wanita itu.


"Apa yang kalian lakukan di sini? Di mana kak Zafran?" tanya Zayyan dengan menggebu-gebu. Dia yang sedang berada di sekolah merasa sangat terkejut memdengar tentang gosip itu, dan yang memberitahukannya adalah Zea. Itu sebabnya dia langsung izin pulang dengan alasan ada masalah keluarga.


"Tuan Zafran sedang ada di dalam kamar Hana, Tuan," jawab Jena.


"Terima kasih, Bik," ucap Zayyan sambil melangkah masuk ke dalam rumah. Kedua matanya lalu terbelalak lebar melihat Dokter sedang memeriksa keadaan Hana. "Apa yang terjadi?" Tanyanya dengan kaget.

__ADS_1


Zafran dan Junior langsung menoleh ke arah pintu saat mendengar suara Zayyan. "Kau tidak sekolah, Zay?" Zafran menatap dengan heran.


"Sekarang sekolah itu tidak penting, Kak," jawab Zayyan dengan kesal. Bisa-bisanya dalam keadaan seperti ini kakaknya menanyakan tentang sekolah.


"Kau-"


"Ka-kami keluar sebentar, Tuan," potong Junior dengan cepat sambil menarik paksa Zayyan agar keluar dari kamar itu sebelum Zafran murka.


"Apa sih Kak? Aku mau bersama kak Hana!" ucap Zayyan dengan kesal sambil berusaha untuk melepaskan tarikan Junior, tetapi tenaga laki-laki itu sangat kuat sekali.


"Diam. Apa kau mau diamuk sama kakakmu?" tanya Junior dengan tajam sambil melepaskan tarikannya saat sudah berada diluar kamar.


"Cih." Zayyan berdecih saat mencebikkan bibirnya. "Tapi apa gosip itu benar, Kak?" Dia lalu membahas masalah gosip yang dia dengar.


"Apa-apaan sih? Bisa-bisanya kepalamu habis dipukul sama tuan Zafran kalau dengar omonganmu," ucap Junior dengan kesal. Kepalanya semakin berdenyut sakit mendengar ocehan Zayyan.


"Iya-iya, aku tahu itu gak benar," seru Zayyan sambil bersedekap dada. "Tapi siapa yang buat gosip itu? Aku yakin kalau itu pasti perbuatan suami kak Hana. Dasar brengs*ek!" Dia merasa kesal sendiri.


Junior menggelengkan kepalanya mendengar ucapan Zayyan. "Pokoknya jangan membuat kakakmu emosi, sekarang ada banyak masalah yang harus dia hadapi." Dia memperingatkan agar tidak terjadi perang saudara di antara mereka.


Beberapa saat kemudian, terlihat Dokter sudah selesai melakukan pemeriksaan pada Hana. Dia lalu membereskan alat-alat medisnya dan beranjak bangun dari ranjang.


"Bagaimana keadaannya, Dokter?" tanya Zafran dengan cemas.


Dokter paruh baya itu tersenyum. "Anda tidak perlu khawatir, Tuan. Keadaannya baik-baik saja. Dia hanya sedang syok dan merasa tertekan karena sesuatu, hingga membuatnya stres sampai tekanan darahnya turun dan melemahkan pertahanan tubuh." Dia memberikan penjelasan.


Zafran menghela napas lega, kekhawatiran yang sejak tadi membelenggu hatinya seakan lenyap saat mendengar penjelasan Dokter. Namun, dia merasa sedih karena Hana jadi seperti ini pasti karena berita bohong yang Dion sebarkan.


Dokter lalu memberikan beberapa obat dan vitamin untuk Hana. Sebentar lagi wanita itu pasti sadar, dan diharapkan agar tidak menambah tekanan dalam diri Hana.


Junior dan Zayyan lalu masuk ke dalam kamar saat Dokter sudah keluar dan pergi dari rumah itu. Zayyan lalu bertanya pada sang kakak bagaimana keadaan Hana saat ini.


"Dia baik-baik saja. Kata Dokter dia sedang stres dan tertekan," jawab Zafran.


Junior dan Zayyan mengangguk-anggukkan kepala mereka saat mendengar ucapan Zafran. Terlihat laki-laki itu terus menatap Hana sambil duduk di samping ranjang.


"Saya akan mencari semua bukti secepat mungkin, Tuan," ucap Junior. Dia paham jika Hana stres karena perbuatan Dion.

__ADS_1


"A-aku juga ingin membantu kak Junior, izinkan aku pergi bersamanya, Kak?" pinta Zayyan dengan penuh harap.


Zafran menganggukkan kepalanya. "Baiklah. Kalian boleh pergi, tapi tetap harus berhati-hati. Terutama kau, Zayyan."


Zayyan mengangguk paham. Dia dan Junior lalu beranjak keluar dari kamar dan pergi untuk menyelidiki apa yang telah Dion lakukan. Mereka harus bergerak cepat supaya kesehatan Hana tidak semakin buruk akibat memikirkan masalah yang sedang terjadi.


Setelah kepergian Zayyan, terlihat Jena masuk ke dalam kamar sambil membawa makanan dan minuman untuk Zafran dan Hana. Sekarang sudah saatnya jam makan siang, dan mereka berdua harus segera makan.


"Makan siang dulu, Tuan," ucap Jena dengan pelan.


Zafran melirik ke arah Jena. Terlihat wanita itu sedang memabawa makanan untuknya. "Taruh saja di sana, aku akan menunggu Hana sadar." Dia menunjuk ke arah meja yang ada di dalam kamar itu.


Perlahan Jena memindahkan manakanan dan mainuman dari nampan ke atas meja, kemudian dia pamit untuk keluar dari ruangan itu.


"Sadarlah, Hana. Kenapa kau tidur terus?" gumam Zafran sambil mengusap kening Hana yang basah terkena keringat.


Tiba-tiba Hana mengernyitkan wajahnya membuat Zafran tersentak kaget. Dia segera memanggil Hana agar wanita itu membuka kedua matanya.


"Maaf, maafkan aku," ucap Hana dengan lirih sambil tetap memejamkan kedua matanya, sepertinya dia sedang mengigau di bawah alam sadar.


"Tidak, Hana. Kau tidak salah apapun, jadi aku mohon bukalah matamu," pinta Zafran dengan sendu. Kedua matanya bahkan tampak menggantung mendung.


Keringat Hana semakin mengucur deras, dia terus saja mengggumamkan kata maaf, tetapi tetap tidak membuka kedua matanya.


"Aku salah, seharusnya aku tidak bersamamu. Maafkan aku," gumam Hana lagi.


Zafran benar-benar merasa tidak sabar melihat keadaan Hana saat ini. Dengan cepat dia mendudukkan tubuh wanita itu dan menahan punggung Hana dengan bantal.


"Buka matamu, Hana. Buka! Ini aku Zafran, aku bilang buka matamu!"





Tbc.

__ADS_1


__ADS_2