Takdir Cinta Yang Kau Pilih

Takdir Cinta Yang Kau Pilih
Bab. 77. Menguak Aktivitas Gelap Perusahaan.


__ADS_3

Eric hanya bisa diam dengan kepala tertunduk saat mendengar ucapan Mahen. Benar, dia dan keluarganya lah yang tidak tahu terima kasih karena sudah ditolong tetapi malah bersikap kurang ajar.


"Sekali lagi saya mohon maaf yang sebesar-besarnya pada Anda, Tuan. Saya sangat menyesal dengan apa yang Ryder lakukan, saya berjanji akan memberi pelajaran padanya," ucap Eric untuk yang kesekian kalinya.


Mahen menghela napas kasar. Percuma juga dia melampiaskan semua kemarahan pada Eric yang sebenarnya juga tidak tahu apa-apa.


"Baiklah, saya hanya ingin mengatakan itu saja. Saya harap putra Anda tidak mengganggu anak saya lagi, karena anak saya sudah sangat menderita karena seorang lelaki."


Suara Mahen lirih terdengar. Ada sebuah getaran dalam setiap kata yang dia ucapkan, karena teringat jelas apa yang sudah terjadi dengan putrinya. Setelah Aidan, kini Ryder yang menggores luka dihati Yara.


"Saya mengerti, Tuan. Tolong sampaikan maaf saya pada Nona Yara, saya benar-benar merasa sangat bersalah," balas Eric sambil menatap Mahen dengan getir dan penuh penyesalan.


Mahan lalu segera pamit dari tempat itu dan kembali ke perusahaan. Walau tidak bertemu langsung dengan Ryder, tetapi hatinya lumayan puas bisa mengeluarkan semuanya pada Eric.


"Maaf, Tuan."


Eric memalingkan wajahnya ke belakang saat mendengar suara seseorang. "Di mana dia?" Dia menatap sekretarisnya dengan tajam.


"Tuan Ryder tidak ada di ruangannya, Tuan. Niko mengatakan jika beliau pergi 30 menit yang lalu."


Brak.


Eric langsung membanting kursi yang ada di sampingnya membuat sang sekretaris tersentak kaget. "Seret bajing*an itu ke hadapanku sekarang juga!" Rahangnya mengeras dengan wajah merah padam menahan amarah. Apa yang Ryder lakukan saat ini benar-benar sangat keterlaluan, dan dia tidak akan memaafkannya.


"Ba-baik, Tuan." Laki-laki itu segera keluar dari ruangan saat melihat kemarahan sang tuan besar. Dia harus segera mencari di mana keberadaan Ryder sebelum Eric bertambah murka.


Sementara itu, di salah satu ruangan sebuah restoran, terlihat Ryder dan teman-temannya sudah berkumpul di tempat itu.


Makanan dan minuman sudah tersaji di hadapan mereka semua, tetapi entah kenapa suasana terasa sangat tegang dan mencekam.

__ADS_1


"Apa, apa kau masih marah dengan kami, Ryder?" tanya Alan dengan pelan. Sejak semalam laki-laki itu sama sekali tidak mau bicara dengan mereka.


"Tidak. Makanlah, setelah itu ada yang mau aku bicarakan pada kalian," ucap Ryder sambil memasukkan potongan daging ke dalam mulutnya.


Alan, Bisma, dan juga Shanty saling pandang saat mendengar ucapan Ryder. Mereka sedang menerka-nerka apa yang akan laki-laki itu katakan, yang pasti itu bukan sesuatu hal yang baik.


Beberapa saat kemudian, mereka sudah menyelesaikan acara makan-makannya dan tetap duduk di kursi masing-masing. Sesekali Alan dan yang lainnya memperhatikan gurat wajah Ryder, tetapi wajahnya benar-benar tidak terbaca.


"Aku ingin agar permainan itu dibubarkan,"


"Apa?"


Alan, Bisma, dan juga Shanty memekik kaget saat mendengar ucapan Ryder. "Ke-kenapa dibubarkan, Ryder? Apa gara-gara masalah Yara waktu itu?"


Ryder langsung menatap Shanty dengan tajam saat mendengar temannya itu menyebut nama Yara. "Jangan sebut namanya dengan mulut kalian!" Ucapannya terdengar penuh dengan ancaman.


"Aku yang mendirikannya, jadi aku berhak untuk membubarkannya kapan saja." Ucapannya sama tajam dengan tatapan matanya yang terhunus untuk mereka bertiga.


"Tapi kami ikut andil di dalamnya, Ryder. Lagipula komunitas kita bukan hanya tentang taruhan itu saja, tetapi jauh lebih luas cakupannya." Shanty terlihat sangat tidak rela sekali jika komunitas mereka dibubarkan.


Ryder terdiam dengan menghela napas frustasi. Memang benar jika komunitas yang dia dirikan bukan hanya sekedar menjadikan wanita sebagai bahan taruhan saja, tetapi aktivitas yang sebenarnya adalah menyelidiki dan menguak aktivitas gelap dalam suatu perusahaan.


Pesta itu hanya sekedar hiburan bagi para anggota yang sudah menjadi rekan bisnis mereka, juga sebagai investor yang mendanai peralatan yang mereka gunakan. Padahal dibalik semua itu, kerja Ryder dan teman-temannya adalah menguak segala aktivitas ilegal yang terjadi dalam perusahaan.


Itu sebabnya River mengatakan jika Eric bukan orang biasa, karena laki-laki itu mantan tangan kanan dari pimpinan mafia yang terkenal di daratan Eropa. Lalu keahliannya itu menurun pada Ryder, yang sangat ahli dalam hal membongkar kebusukan suatu perusahaan.


"Jangan gegabah, Ryder. Hanya karena seorang wanita kau-"


"Hanya? Hanya kau bilang?"

__ADS_1


Glek.


Bisma tidak jadi melanjutkan ucapannya saat mendapat tatapan tajam nan kelam dari Ryder, sementara Ryder sendiri menatap laki-laki itu dengan amarah yang tertahan.


"Sudahlah. Aku tidak mau lagi ada komunitas itu, jadi kalian bereskan semuanya," ucap Ryder kemudian.


Toh tujuan pesta itu selain untuk hiburan, juga untuk menyamarkan aktivitas mereka agar tidak terendus oleh masyarakat umum. Jadi, semua orang mengenal mereka yah karena pesta taruhan itu.


"Ryder, aku mohon jangan bubarkan semuanya. Kami janji akan membersihkan komunitas kita jika itu yang kau inginkan, tidak akan ada lagi wanita-wanita maupun minuman di sana," pinta Alan. Komunitas itu adalah dunia mereka, dan separuh hidup mereka sudah dihabiskan dalam kegiatan itu.


Ryder diam sejenak untuk memikirkan apa yang mereka katakan, dia lalu mengusap wajahnya dengan kasar karena berada diambang kebingungan.


"Kami mohon, Ryder. Pekerjaan itu adalah hidup kami," mereka menatap Ryder dengan sendu dan penuh harap membuat Ryder terpaksa menurutinya.


"Baiklah. Tapi bereskan semuanya,"


"Maaf, Tuan."


Semua orang terlonjak kaget saat melihat kedatangan sekretaris dari orang tua Ryder, begitu juga dengan Ryder sendiri.


"Tuan mencari Anda, Anda harus segera menemui beliau," ucap laki-laki itu membuat Ryder merasa ada sesuatu yang terjadi dengan papanya.





Tbc.

__ADS_1


__ADS_2