
Semua orang berteriak dengan histeris saat melihat Hana terus berjalan ke arah jalanan, bahkan suara klakson dari para pengendara terdengar sahut-sahutan memekikkan telinga.
Hana sendiri merasa tidak peduli dan terus melangkahkan kaki dk tengah kendaraan yang sedang melaju kencang. Dia memejamkan kedua matanya karena sudah putus asa dan pasrah akan kematian, karena jika hidup pun dia selalu durundung oleh penyiksaan dan penderitaan.
"Awas!" teriak seorang lelaki yang langsung berlari ke arah Hana sambil berteriak dengan kuat, membuat wanita itu terkejut dan spontan mengerjapkan kedua matanya.
Dengan cepat lelaki itu menarik tangan Hana sampai membuat tubuh mereka terjatuh ke trotoar, sementara mobil yang hampir saja menabrak mereka langsung menginjak rem secara mendadak hingga suara rem itu berdengung kuat.
"Dasar gila! Apa kalian mau mati, hah?" teriak seorang lelaki yang merupakan supir mobil yang hampir saja terlibat kasus penabrakan. Dia benar-benar merasa murka dengan apa yang mereka lakukan di depan mobilnya.
Para pengendara lain juga ikut berteriak marah dengan apa yang terjadi, sementara Hana dan lelaki yang menolongnya segera membangunkan tubuh mereka.
"Kalau kalian kau mati, jangan di depan mobilku! Dasar gila!" umpat supir itu kembali. Dia lalu kembali melajukan mobilnya dengan diikuti para pengendara lain.
Tubuh Hana bergetar dengan apa yang baru saja terjadi. Dia tampak seperti orang bingung dengan wajah memucat karena baru tersadar dengan kesalahan yang dia lakukan, dan bahkan sampai hampir membuatnya kehilangan nyawa.
"Anda tidak apa-apa, Tuan?" tanya Junior dengan panik. Dia ikut berlari ke jalanan saat melihat apa yang Zafran lakukan.
Yah, Zafranlah yang telah menarik Hana dan menyelamatkan wanita itu dari maut. Dia yang akan masuk ke dalam mobil tidak sengaja melihat Hana berjalan ke arah jalan raya.
Tiba-tiba perasaan Zafran menjadi tidak enak saat melihat Hana, apalagi tatapan wanita itu tampak kosong dan terlihat jelas jika ingin melakukan percobaan bunuh diri.
Tanpa pikir panjang, Zafran langsung berlari untuk menyalamatkan Hana tanpa peduli dengan keselamatannya sendiri, karena bisa saja mereka berdua tertabrak oleh kendaraan yang sedang melintas.
Tanpa memperdulikan pertanyaan Junior, Zafran langsung menatap Hana dengan wajah merah padam karena merasa sangat emosi.
"Apa kau gila, hah?" bentak Zafran dengan kuat, kedua tangannya mengepal erat dengan urat-urat yang menonjol disekitar leher.
__ADS_1
Hana terdiam dengan kepala menunduk saat mendapat bentakan dari Zafran, sementara Zafran langsung mengusap wajahnya dengan kasar karena merasa benar-benar kesal dengan wanita yang saat ini ada di hadapannya.
Orang-orang yang masih berada di tempat itu juga merasa kesal dengan Hana. Bisa-bisanya wanita itu ingin melakukan percobaan bunuh diri yang nyaris membuat orang lain ikut berada sala bahaya, bahkan ada beberapa orang yang mengumpatinya dengan emosi.
Tanpa mengucapkan apa-apa lagi, Zafran langsung menarik Hana untuk menjauh dari tempat itu karena menjadi bahan tontonan orang-orang, tidak peduli jika saat ini wanita itu mengikuti langkahnya dengan tertatih.
Junior menghela napas kasar melihat kepergian sang tuan. Beberapa saat yang lalu dia merasa benar-benar syok dengan apa yang tuannya lakukan, bahkan dia merasa takut jika terjadi sesuatu dengan lelaki itu.
Junior lalu membubarkan orang-orang yang masih berada di tempat itu dan bergegas menyusul kepergian Zafran, perasaannya kembali gelisah karena melihat laki-laki itu sedang diliputi dengan kemarahan.
Zafran yang sudah sampai di samping mobil Junior langsung menghempaskan tangan Hana dengan kasar, sampai membuat wanita itu mendessah sakit.
"Sekarang jawab pertanyaanku, Hana! Sebenarnya apa yang kau lakukan barusan, hah? Kau ingin membunuh dirimu sendiri?" ucap Zafran dengan tajam dan penuh penekanan, kedua matanya berkilat marah.
Hana hanya bisa diam dan tetap menunduk. Kedua tangannya saling bertautan dengan erat dan bergetar, air mata bahkan sudah jatuh membasahi wajah.
Hana semakin menangis pilu mendengar ucapan Zafran, tubuhnya yang gemetar langsung terjatuh ke tanah membuat Zafran dan Junior tersentak kaget.
"Kenapa, kenapa aku selalu saja salah dimata orang lain?" ucap Hana dengan terisak pilu. "Hidupku penuh dengan kesalahan, saat aku ingin mati pun juga salah. Kenapa, kenapa semua ini terjadi padaku? Kenapa semua orang memperlakukan aku seperti ini?" Dia menangis dengan tersedu-sedu.
Zafran tercengang dan terpaku saat mendengar apa yang Hana ucapkan, begitu juga dengan Junior yang merasa jika saat ini wanita itu sedang terpuruk.
"Aku tidak pernah menyakiti siapapun, aku juga tidak pernah mengharapkan apapun. Aku hanya, hanya ingin diperlakukan dengan baik. Hanya itu saja," ucap Hana kembali dengan tersedu-sedu. Tangannya terulur memegangi dada yang terasa sangat sesak.
Hati Zafran bergetar melihat kesedihan yang teramat besar dalam tangisan Hana. Keadaan wanita itu membuatnya teringat dengan kesedihan sang kakak dulu saat dikhianati oleh seseorang yang sangat dicintai.
Cukup lama Hana melampiaskan semua rasa sakit yang selama ini dia rasakan, hingga membuat matanya terasa perih karena terlalu banyak menangis.
__ADS_1
Selama itu pula Zafran dan Junior hanya diam membiarkan Hana meluapkan semuanya. Mereka merasa sangat bersimpati dengan apa yang terjadi dengan wanita itu saat ini, walaupun tidak tahu pasti sebenarnya apa yang sudah terjadi dengab Hana.
Setelah merasa sedikit tenang, Hana mengusap wajahnya sambil berusaha untuk berdiri. Dia merasa sedikit lega karena sudah mengeluarkan semua yang ada dalam hati, walau rasa sakit masih membelenggu jiwanya.
"Ajak dia bersama kita, Junior. Kita akan mengantarnya pada suaminya," ucap Zafran sambil berbalik dan hendak masuk ke dalam mobil.
Hana tersentak kaget saat mendengar apa yang Zafran katakan, sementara Junior langsung menganggukkan kepala mendengar perintah laki-laki itu.
"Tu-tunggu sebentar," seru Hana membuat Zafran tidak jadi masuk ke dalam mobil. "Te-terima kasih karena sudah menolong saya, Tuan. Tapi saya bisa pergi sendiri." Dia berucap dengan pelan.
Zafran kembali membalikkan tubuhnya dengan tatapan tajam membuat Hana langsung menunduk takut. "Kenapa, apa kau tidak mau kembali pada suamimu?"
Hana mengangguk lemah. Dia lalu meminta maaf dan kembali mengucapkan terima kasih pada Zafran, dan segera pamit untuk pergi dari tempat itu.
"Ikutlah denganku, aku akan mengantarmu ke tempat yang kau tuju," ucap Zafran kemudian. Entah kenapa dia merasa cemas jika membiarkan wanita itu pergi sendiri.
Hana terdiam. Sekarang dia tidak tahu harus pergi ke mana, dan tidak ada tempat tujuan. Jika dia kembali ke rumah sang suami, maka bisa dipastikan kalau hari ini dia tidak akan lagi selamat dari amukan mereka.
"Naiklah, aku akan membawamu ke rumah orangtuaku!"
•
•
•
Tbc.
__ADS_1