
Beberapa bulan kemudian ....
"Dokter Yara, ada yang mencari Anda," ucap Ambar sambil berjalan masuk ke dalam ruangan Yara, membuat wanita itu mendongakkan kepala dari pekerjaan dan menatapnya.
"Suruh masuk aja," balas Yara, dia lalu kembali fokus pada layar monitor yang sedang menampakkan laporan medis dari salah satu pasiennya.
Ambar menganggukkan kepalanya dan berlalu keluar untuk mempersilahkan tamu Yara masuk ke dalam ruangan itu.
"Suprise!" teriak seorang lelaki membuat Yara tersentak kaget, dan langsung melihat ke arah orang tersebut.
"Willi?" seru Yara dengan tidak percaya, terlihat laki-laki itu datang dengan membawa buket bunga di tangannya.
"Kakak gak senang ya, liat aku datang ke mari?" tanya William sambil mencebikkan bibirnya saat melihat raut wajah Yara. Padahal dia sudah berusaha keras menyelesaikan pekerjaan yang ada di luar kota, agar bisa segera menemui wanita itu.
Yara tergelak saat melihat wajah cemberut William. Dia lalu beranjak bangun dari kursi kebesarannya untuk menghampiri laki-laki itu.
"Kata siapa kakak gak senang? Kakak 'kan, cuma terkejut karena melihatmu di sini," ucap Yara dengan senyum lebar, masih tersisa gelak tawa diwajahnya.
William menyipitkan matanya dan menatap Yara dengan curiga. "Dih, ya sudahlah." Dia lalu memberikan bunga yang sejak tadi berada dalam genggaman tangannya. "Selamat ulang tahun Kak." Dia memberi ucapan selamat untuk Yara dengan senyum lebar.
"Terima kasih," balas Yara dengan wajah berseri-seri. Dia menerima bunga pemberian dari William dengan senyum merekah.
"Dasar pengkhianat!"
Yara dan William tersentak kaget saat mendengar umpatan seseorang, sontak mereka melihat ke arah pintu di mana Zafran dan Zayyan sudah berdiri di sana.
"Kakak bilang mau ngasi kado bareng, tapi kok malah duluan ke sini sih?" cibir Zayyan dengan kesal. Padahal dia sudah menunggu di rumah, rupanya William malah langsung menemui kakaknya ke rumah sakit.
"Haha, maaf-maaf. Aku 'kan mau jadi yang pertama," seru William membuat Zayyan langsung mengejarnya untuk memberi pelajaran.
__ADS_1
Yara dan Zafran menggelengkan kepala mereka saat melihat keributan dua orang itu. Benar-benar seperti tikus dan kucing jika sudah bertemu.
"Selamat ulang tahun, Mbak," ucap Zafran sambil meletakkan sebuah kotak beludru ke tangan sang kakak.
Yara tersenyum hangat saat mendengar ucapan selamat dari sang adik. "Terima kasih, Zafran." Dia mengusap pipi adiknya yang selama ini sudah banyak membantu dalam setiap masalah. Dia lalu melihat ke arah hadiah yang diberi oleh Zafran.
"Bukalah, Mbak," ucap Zafran, membuat Yara mengangguk dan langsung membuka kotak beludru itu.
"Masyaallah. Ini indah sekali, Dek," seru Yara saat melihat sebuah cincin berlian yang sangat berkilauan di dalam kotak tersebut. Dia mengambilnya dan langsung memakaikan cincin itu dijari manis, lalu menunjukkannya pada Zafran. "Bagaimana, apa ini cantik?"
"Tentu saja. Cincin itu sangat cantik dijari Mbak," jawab Zafran dengan tulus, disertai senyuman hangat yang membuat Yara ikut tersenyum.
Hari ini adalah hari ulang tahun Yara yang ke 29 tahun, itu sebabnya mereka semua sibuk menemuinya untuk mengucapkan selamat dan memberi hadiah sebagai perayaan telah bertambahnya usia.
Zayyan juga tidak mau kalah dari sang kakak, dia juga mengucapkan selamat untuk kakak perempuannya sambil memberikan hadiah sebuah tas bermerk yang sangat cantik.
Selama beberapa bulan ini, hubungan mereka dan William terjalin cukup baik. Laki-laki itu bahkan sudah menganggap mereka seperti saudaranya sendiri dan selalu menempel pada mereka, walau sering bertengkar dengan Zayyan.
"Kalau gitu kami pergi dulu ya Mbak, semangat kerjanya," ucap Zafran. Mereka tidak boleh mengganggu jam kerja sang kakak lama-lama.
"Ayo, mbak akan mengantar kalian!" ajak Yara sambil melangkah keluar dari ruangan itu dengan diikuti oleh mereka semua.
Beberapa petugas medis yang berpapasan dengan Yara tampak menyapanya dengan ramah, tentu saja sapaan itu langsung di balasnya dengan tidak kalah ramah dari mereka.
Yara mengantarkan adik-adiknya sampai ke parkiran rumah sakit. "Hati-hati di jalan ya." Dia mengingatkan mereka untuk hati-hati, lalu melambaikan tangannya saat mobil Zafran sudah melaju pergi dari tempat itu.
"Mereka sangat manis sekali. Tidak terasa waktu berlalu dengan cepat, sampai tidak sadar kalau adik-adikku sudah beranjak dewasa," gumam Yara sambil terus menatap ke arah mobil mereka yang sudah tidak terlihat lagi.
Yara lalu berbalik dan kembali masuk ke dalam rumah sakit untuk melanjutkan pekerjaannya. Namun, saat baru beberapa langkah meninggalkan parkiran. Terdengar suara seseorang yang sedang memanggilnya.
__ADS_1
"Yara, tunggu."
Yara membalikkan tubuh dan menatap lelaki yang sudah berdiri tegak di hadapannya. Laki-laki yang sudah beberapa kali menemuinya ke rumah sakit, dia bahkan tidak tahu dari mana laki-laki itu mengetahui jika dia bekerja di tempat ini.
"Ada apa?" tanya Yara dengan wajah datar, dan melihat ke sembarang arah.
"Aku hanya ingin memberikan sesuatu untukmu," ucap Aidan.
Yah, laki-laki itulah yang sudah beberapa kali datang menemui Yara ke rumah sakit padahal dia sudah melarangnya bahkan menolak untuk bertemu.
"Selamat ulang tahun, Yara." Aidan memberikan sebuah kotak berukuran sedang untuk Yara saat tidak mendengar jawaban dari wanita itu.
Yara terdiam sambil menatap hadiah yang Aidan beri. Dia lalu menghela napas kasar sambil mengambil hadiah tersebut.
"Terima kasih, tapi sebaiknya hentikan semua ini. Aku tidak mau menerima apapun darimu," ucap Yara dengan tajam, membuat senyuman yang ada di wajah Aidan langsung memudar.
Aidan menatap Yara dengan sendu. Dia tahu jika saat ini wanita itu sudah melupakannya, tetapi dia sama sekali tidak bisa menghilangkan Yara dari dalam pikirannya.
"Maaf, aku harus masuk ke dalam," ucap Yara sambil kembali berbalik dan membelakangi laki-laki itu.
"O-oh, baiklah. Semangat kerjanya," seru Aidan dengan suara lirih. Dia lalu kembali memakai helm, dan bersiap untuk pergi dari tempat itu dengan menggunakan motor yang sudah beberapa bulan ini menemaninya.
•
•
•
Tbc.
__ADS_1