
Zayyan mengernyitkan kening bingung saat melihat seorang wanita yang tidak dia kenal memanggil namanya. "Siapa yah?" Dia bertanya dengan gaya sok cool, tetapi dilihat-lihat wanita itu sangat cantik dan modis sekali.
"Wah, sudah lama kita tidak bertemu. maklum saja kalau kau tidak ingat dengan kakak," ucap wanita itu dengan senyum ramah.
Zayyan berusaha menggali ingatannya untuk mencaritahu siapa sebenarnya wanita yang ada di hadapannya saat ini. Namun, hasilnya nihil. Dia sama sekali tidak ingat. Tidak mungkinkan salah satu dari mantan pacarnya?
"Tidak, tidak ada mantan pacarku yang punya wajah secantik dia. Apa mungkin mereka operasi plastik?" gumam Zayyan.
Wanita itu tergelak saat mendengar gumaman Zayyan. Ternyata sejak dulu laki-laki itu tidak berubah, tetap lucu dan menggemaskan. Sangat jauh berbeda dengan kakaknya.
"Aku Zea, teman kuliahnya kakakmu," ucap Zea memberitahu.
Zayyan langsung menganggukkan kepalanya saat mendengar ucapan Zea. "Wah, aku sampai pangling. Kakak sangat cantik sekali." Dia berucap dengan jujur. Bukan berarti dulu Zea tidak cantik, tetapi sekarang penampilan wanita itu sangat berubah sekali.
"Terima kasih, Zayyan. Kau juga semakin tampan, sudah lama kan, kita tidak bertemu?" sahut Zea dengan ramah.
"Benar, sudah lama kita tidak bertemu. Itu sebabnya aku tidak mengenali Kakak," balas Zayyan. Lagipula dulu dia hanya sekali bertemu dengan Zea saat ikut kakaknya ke kampus, itu sebabnya dia sama sekali tidak ingat.
"Duh, maaf yah Zay, lama," seru seorang lelaki yang merupakan teman Zayyan. Dia lalu melirik ke arah wanita yang berada di hadapan laki-laki itu, dan dengan cepat menyenggol lengan Zayyan. "Siapa dia, pacarmu?"
"Jangan sembarangan!" bantah Zayyan sambil menginjak kaki temannya membuat laki-laki itu memekik kesakitan. "Kakak ini temannya kak Zafran." Dia lalu memberitahu.
Laki-laki bernama Clayton itu tampak mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian dia mengulurkan tangan ke hadapan wanita itu.
"Nama saya Clay, saya temannya Zayyan," ucap Clay dengan ramah.
"Gak nanyak!" seru Zayyan dengan sewot.
Clay mencebikkan bibirnya saat mendengar ucapan Zayyan, sementara Zea menerima uluran tangannya dengan ramah.
"Bagaimana kalau aku mentraktir kalian makan? Kalian baru pulang sekolah, 'kan?" ajak Zea.
Zayyan terdiam mendengar ajakan Zea, sementara Clay langsung menganganggukkan kepalanya. Kapan lagi dia bisa makan dengan seorang wanita cantik seperti ini? Udah gitu ditraktir lagi, sungguh kehidupan yang sempurna.
"Baiklah, tapi aku tidak bisa lama, Kak," ucap Zayyan setelah memikirkan ajakan Zea dengan baik dan benar.
__ADS_1
Zea merasa senang karena Zayyan mau menerima ajakannya. Kemudian dia mengajak mereka ke salah satu restoran yang berada tidak jauh dari tempat mereka, sekalian ingin mengakrabkan diri.
Sesampainya di restoran, Zayyan segera mengirim pesan pada sang mama bahwa dia akan pulang terlambat karena makan dulu bersama dengan teman. Dia tidak mau membuat mamanya khawatir jika tidak memberi kabar.
"Bagaimana kabar kedua orangtuamu, Zay? Mereka baik-baik saja kan?" tanya Zea.
Zayyan menganggukkan kepalanya sambil kembali memasukkan benda pipih itu ke dalam tas setelah pesannya sudah dibaca oleh sang mama.
"Mereka baik. Apa Kakak sudah bertemu dengan kak Zafran?" tanya Zayyan.
"Sudah. Waktu itu kami bertemu di pesta teman," jawab Zea. "Apa aku boleh berkunjung ke rumahmu, Zay? Aku ingin menyapa orangtuamu secara langsung." Dia bertanya dengan ragu.
"Tentu saja boleh, rumah kami terbuka untuk siapa saja kok," jawab Zayyan.
Zea merasa senang. Dia memang tidak pernah berkunjung ke rumah Zafran, tetapi dia pernah bertemu dengan kedua orangtua laki-laki itu beberapa kali dan ingin kembali menyapa mereka setelah sekian lama.
Tidak berselang lama, datanglah pelayan untuk menyajikan makanan. Kemudian mereka menyantapnya sambil mengobrol ria, tentu saja isi obrolan itu tentang Zafran karena Zea berusaha untuk mencaritahu keseharian laki-laki itu dari Zayyan. Dia bahkan mengajak Zayyan untuk foto bersama.
Setelah selesai, Zayyan pamit pulang duluan sebelum malam. Apalagi dia masih harus mengantar temannya dan tidak mau pulang terlalu malam.
Sayup-sayup Hana mendengar suara Via yang sedang menyanyikan sebuah lagu. Sepertinya wanita itu sedang menyanyikan lagu arab karena sangat asing sekali di telinganya.
"Kenapa kau melamun, Hana?"
Hana terjingkat kaget saat mendengar suara Jena membuat wanita itu tergelak. "Bi-bibik mengagetkanku." Dia mengusap dadanya yang berdebar kencang.
Jena menggelengkan kepalanya sambil tertawa pelan. "Makanya jangan melamun." Tegurnya.
Hana ikut tersenyum sambil melihat ke arah pintu keluar. "Aku enggak sedang melamun, Bik. Aku sedang mendengarkan nyanyian tante Via. Suaranya sangat indah sekali, dadaku sampai berdegup kencang." Jelasnya.
"Nyonya bukan sedang bernyanyi, tapi mengaji," sahut Jena.
Hana mengernyitkan kening bingung saat mendengar ucapan Jena. "Me-mengaji? Apa itu?" Dia sama sekali tidak mengerti.
Jena tersenyum lalu mengajak Hana untuk keluar dari dapur menuju ruang keluarga agar bisa lebih jelas mendengar suara majikannya mengaji.
__ADS_1
Hana merasa kaget saat mendengar suara Zafran juga. Berarti bukan hanya Via saja yang mengaji, tetapi Zafran dan Vano juga mengaji bersama dengan Via.
"Mengaji itu sama dengan membaca kitab agama mereka, Hana. Kitab itu namanya al-qur'an, aku juga sangat senang sekali mendengarnya," ucap Jena menjelaskan.
Hana mengangguk paham. Dia lalu mendengarkan suara mereka dengan khusyuk hingga membuat dadanya berdebar kencang, sungguh baru pertama kali dia mendengarkan suara yang sangat indah dan menyentuh hati seperti ini.
Tidak berselang lama, pulanglah Zayyan dengan tergesa-gesa membuat Hana dan Jena yang masih berada di ruang keluarga terjingkat kaget. Mereka segera berdiri melihat kedatangan laki-laki itu, sementara Zayyan hanya tersenyum sambil berlari menaiki anak tangga.
Setiap malam jum'at seperti ini, Via dan semua keluarganya memang akan membaca al-qur'an secara bersama-sama. Sekalian mengirim do'a untuk semua keluarga yang telah berpulang ke pangkuan Allah.
Bukan berarti hanya malam jum'at saja yang mengaji. Jika malam biasa, maka mereka akan mengaki di kamar masing-masing, tetapi khusus malam jum'at mereka akan mengaji bersama.
Hana yang merasa penasaran mendekati ruang shalat di mana Via dan yang lainnya berada. Dengan takut, Hana mengintip dari ujung ruangan itu hingga tampaklah Zafran sedang memegang al-qur'an.
Hana tertegun melihat penampilan Zafran saat ini. Wajah laki-laki itu tampak bercahaya saat memakai pakaian muslim dengan sarung yang melilit di bagian pinggangnya, tidak lupa Zafran juga memakai peci membuat auranya semakin terpancar.
"Dia, dia tampan sekali," gumam Hana sambil mengusap dadanya yang berdesir hebat. Jantungnya juga berdegup kencang tidak beraturan seperti ingin melompat keluar dari rongga dada.
Suara dari aluan ayat suci al-qur'an terasa mengalun-ngalun dalam benak Hana membuat tubuhnya bergetar, sampai ingin sekali rasanya dia bergabung dengan mereka untuk melihat apa yang sedang di baca.
Zayyan yang sudah selesai mandi dan bersiap dengan kecepatan cahaya, bergegas pergi ke ruang shalat untuk bergabung dengan keluarganya. Namun, langkahnya terhenti saat melihat Hana sedang berdiri di depan ruang shalat tersebut.
"Apa Kakak mau ikut masuk?"
Hana tersentak kaget saat mendengar suara Zayyan, begitu juga dengan Via dan yang lainnya hingga mereka berhenti membaca al-qur'an dan menoleh ke belakang.
"Hana?"
•
•
•
Tbc.
__ADS_1