Takdir Cinta Yang Kau Pilih

Takdir Cinta Yang Kau Pilih
Bab 109. Kekhawatiran Yara.


__ADS_3

Mereka lalu mulai membahas rencana penyerangan terhadap Luke. Kali ini Caldo akan menumpas laki-laki itu sampai tamat, apalagi dengan bantuan dari mantan tangan kanannya dan juga Vano.


Sebenarnya Vano dan Eric yang meminta bantuannya, tetapi tentu saja yang akan menerima keuntungan nanti Caldo juga karena musuh mereka sama. Musuh dari musuhmu adalah teman, itulah istilah yang tepat untuk apa yang sedang terjadi saat ini.


***


Malam harinya, Yara yang akan melihat keadaan Ryder merasa terkejut saat tidak menemukan keberadaan laki-laki itu. Dia dan rekannya lalu pergi ke rumah Weny untuk melihat apakah Ryder pulang ke rumah wanita itu atau tidak.


"Ryder sedang pergi, Dokter," jawab Weny saat ditanya mengenai Ryder, sementara Domi hanya diam sambil memperhatikan mereka.


"Pe-pergi?" tanya Yara dengan tidak percaya. "Dia pergi ke mana dengan keadaan seperti itu, Nek?" Dia bertanya dengan panik, entah kenapa perasaannya menjadi tidak tenang.


Weny melirik ke arah Domi seolah bertanya apa yang harus dia katakan pada Yara, sementara Yara menatap Weny dengan tajam dan raut khawatir tergambar jelas diwajahnya.


"Ada pekerjaan yang harus dia lakukan, Dokter. Mungkin beberapa hari mendatang dia akan kembali," jawab Domi. Tidak mungkin dia mengatakan jika Ryder sedang menemui ayahnya, tetapi jika dikatakan pun tidak masalah. Hanya saja dia tidak tahu masalah apa yang sedang menjerat laki-laki itu dan keluarganya.


"Apa saya bisa minta nomor ponselnya? Saya ingin menghubungi Ryder," pinta Yara yang dijawab dengan gelengan kepala mereka.


Sejak tinggal di desa, Ryder memang tidak punya ponsel. Bahkan semua pekerjaan yang menggunakan benda pipih itu diserahkan pada Bayu.


Yara terdiam saat mendapat jawaban dari mereka, dia dan rekannya lalu pamit untuk kembali ke tenda medis. Dia merasa bingung dengan kepergian Ryder yang tiba-tiba seperti ini, apalagi dia tidak bisa menghubungi laki-laki itu.


"Sudahlah. Terserah dia mau pergi ke mana, aku tidak peduli," gumam Yara. Dia kemudian memutuskan untuk istirahat. Terserah laki-laki itu mau pergi atau pun terluka, tetapi awas saja jika Ryder kembali menemuinya.


Yara yang sudah berada di kamar tiba-tiba teringat dengan sang mama. Sudah beberapa hari ini dia tidak menelepon mamanya, lalu memutuskan untuk menghubunginya.

__ADS_1


"Halo, assalamu'alaikum, Ma," ucap Yara saat panggilan teleponnya sudah diangkat oleh sang mama.


Mereka lalu menghabiskan waktu untuk mengobrol ria, tetapi Via sama sekali tidak mengatakan masalah yang sedang terjadi dalam keluarga mereka. Dia tidak mau membuat Yara merasa khawatir dan mengganggu pekerjaan putrinya itu.


Setelah hampir 1 jam melepas rindu, Yara lalu bersiap untuk tidur dan mengucapkan selamat malam pada sang mama. Namun, tiba-tiba terdengar suara Zafran dan juga Zayyan.


"Ponsel kami mati, Ma. Tolong Mama hubungi Papa dan katakan kalau kami sudah menemukan tempat penyerangan Om River."


Yara terkesiap saat mendengar suara Zafran, lalu tiba-tiba panggilan itu terputus membuat dia tidak bisa bertanya maksud dari ucapan adiknya yang dia dengar.


"Apa ada sesuatu yang terjadi pada Om River?"


Yara mulai bertanya-tanya. Dia yang akan kembali menelepon sang mama mengurungkan niatnya. Dia yakin kalau mamanya tidak akan mengatakan apa yang terjadi. Jika sang mama memang mau mengatakannya, pasti tadi sudah menceritakan apa yang terjadi pada River.


"Aku akan tunggu sampai ponsel Zayyan kembali hidup, setelah itu aku akan bertanya padanya," gumam Yara. Jika bertanya pada Zayyan, maka adiknya itu pasti akan menjawabnya.


Yara lalu segera menelepon sang adik dan berharap jika ponsel Zayyan sudah aktif kembali, lalu dia tersenyum saat panggilannya berhasil terhubung.


"Halo, Mbak," jawab Zayyan disebrang telepon, membuat Yara langsung tersenyum cerah.


Yara lalu bertanya bagaimana kabar semua orang pada Zayyan sebelum bertanya tentang apa yang terjadi. Setelah itu dia baru bertanya apa yang sedang terjadi pada River.


"O-om River baik-baik aja, Mbak," jawab Zayyan.


Namun, Yara langsung membantah jawaban sang adik dan mengatakan jika tadi dia tidak sengaja mendengar suara Zafran, dan mendengar jika River sedang diserang.

__ADS_1


Mau tidak mau Zayyan terpaksa mengatakan semuanya pada Yara, tentu saja karena ancaman yang kakaknya itu berikan.


"Astaghfirullah. Bagaimana mungkin orang tua William tega melakukan semua itu?" tanya Yara dengan tidak percaya. Dia merasa sangat syok saat mendengar apa yang sedang terjadi.


"Seperti itulah kenyataannya, Mbak. Saat ini papa dan tuan Eric sedang bertemu dengan seseorang untuk merencanakan penyerangan pada Felix."


Yara kembali terkesiap saat Zayyan menyebut nama orang tua Ryder, mungkinkah laki-laki itu pergi karena ingin menyelesaikan masalah ini juga?


"A-apa Ryder juga ada di sana?" tanya Yara dengan lirih.


"Ryder? Apa dia ada di sini?" Zayyan malah balik bertanya pada sang kakak, membuat Yara menghela napas kasar.


Kemudian dia mematikan panggilan itu dan menyuruh Zayyan agar segera istirahat, setelahnya dia segera menghubungi Romi untuk meminta izin agar bisa pulang ke rumah.


"Kenapa mendadak, Yara?" tanya Romi saat panggilan mereka sudah terhubung, dan Yara sudah mengatakan apa yang dia inginkan.


"Maaf, Tuan. Saat ini sedang ada masalah dalam keluarga saya, saya harap Anda bisa memberi izin," pinta Yara dengan harap.


Setelah sediki menunggu, Akhirnya Romi memperbolehkan Yara untuk kembali. Namun, jika masalah keluarganya sudah selesai, maka dia harus kembali ke desa itu lagi.


"Syukurlah tuan Romi mengizinkannya, besok pagi aku akan langsung pulang."



__ADS_1



Tbc.


__ADS_2