
Zafran terbelalak dengan tidak percaya saat mendengar ucapan Ryder. Kedua matanya menatap dengan tajam dan penuh tanda tanya.
"Kenapa kau kaget seperti itu?" tanya Ryder sambil kembali tertawa.
Zafran menggelengkan kepalanya dengan heran. "Kenapa harus melakukan hal itu, apa kau berniat untuk mengajak mbak Yara tinggal di sini?"
Ryder tersenyum sambil kembali melangkahkan kakinya menuju rumah kakek Domi yang sudah terlihat di depan mata, sementara Zafran menatap Ryder dengan tajam.
"Aku merasa nyaman dan tenang berada di sini, Zaf. Lingkungannya sangat baik, juga orang-orang yang berada di tempat ini. Bukan hanya itu saja, desa ini juga memiliki peluang untuk menjadi desa yang sangat maju suatu saat nanti," ucap Ryder dengan yakin, dan dialah yang nantinya akan memajukan desa tersebut.
Zafran terdiam sambil memikirkan apa yang Ryder ucapkan. Lingkungannya memang terlihat baik dan nyaman, tetapi dia belum tahu bagaimana orang-orang yang berada di tempat itu. Lagi pula dia merasa tidak yakin jika mamanya mengizinkan Yara untuk tinggal di desa ini, karena jaraknya cukup jauh dari kota.
"Ryder!"
Lamunan Zafran terhenti saat mendengar teriakan seseorang, sontak dia melihat ke arah depan di mana tampak seorang wanita tua berjalan ke arah Ryder.
"Kau kembali, Nak. Kau kembali," seru Weny dengan terisak. Dia memeluk tubuh Ryder dengan erat karena merasa lega bisa bertemu dengan laki-laki itu lagi.
Ryder tersenyum lalu membalas pelukan nenek Weny. "Tentu saja, Nek. Aku kan sudah bilang akan kembali." Dia merasa senang melihat kekhawatiran di wajah wanita tua itu.
Weny menganggukkan kepala. Dia lalu melerai pelukannya sambil mengusap air mata yang masih membekas diwajah.
"Syukurlah kau baik-baik saja, Nak. Nenek sangat mengkhawatirkanmu," sahut Weny dengan lirih.
Ryder terus tersenyum sambil mengusap punggung tangan sang nenek, lalu beralih melihat ke arah Domi yang berdiri di belakang wanita itu.
"Kakek tahu kau akan kembali," ucap Domi dengan tatapan sayu. Dia juga merasa khawatir dengan Ryder, tetapi dia yakin jika laki-laki itu bisa mengatasi semua masalah yang sedang terjadi.
Sementara itu, Zafran yang masih berada di sana merasa terkejut saat melihat interaksi antara Ryder dengan wanita dan laki-laki tua itu. Dia merasa penasaran siapa mereka, dan kenapa bisa sangat akrab dengan Ryder.
"Ah iya. Kenalkan, ini Zafran. Dia adiknya Dokter Yara," ucap Ryder sambil melihat ke arah Zafran.
Zafran menganggukkan kepalanya sambil tersenyum tipis, dan dibalas dengan ramah oleh sepasang suami istri itu.
"Senang berkenalan denganmu, Zafran. Semoga kau betah tinggal di desa ini," sambut Domi dengan ramah.
"Senang berkenalan dengan Anda juga, Tuan," balas Zafran.
Domi tersenyum mendengar panggilan yang Zafran sematkan untuknya. "Panggil kakek saja, dan ini istri kakek. Namanya Weny."
__ADS_1
Zafran mengangguk paham, kemudian Weny dan Domi mengajak mereka untuk masuk ke dalam rumah. Tidak lupa menyiapkan minuman dan makanan ringan untuk mereka.
"Apa selama ini kau tinggal di sini?" tanya Zafran saat sudah berada di dalam rumah. Dia memperhatikan kesekitar rumah yang tampak sengat sederhana, bahkan dindingnya saja terbuat dari bambu.
"Benar, selama ini aku tinggal bersama dengan mereka," jawab Ryder sambil menganggukkan kepalanya. "Mulai hari ini, kau juga akan tinggal di sini. Apa kau keberatan?" Dia menatap Zafran yang sedang melihat ke seluruh penjuru rumah.
Zafran memalingkan wajahnya saat mendengar ucapan Ryder. "Tentu saja tidak. Tapi aku merasa tidak enak dengan mereka, apa mereka tidak keberatan kalau aku tinggal di sini?" Dia merasa tidak enak hati, dan ini adalah kali pertama dia tinggal bersama dengan orang lain.
"Tentu saja tidak, Zafran."
Zafran tersentak kaget saat mendengar suara Domi yang muncul dari arah dapur, begitu juga dengan Ryder yang langsung menoleh ke arah laki-laki tua itu.
"Tinggallah bersama kami dan jangan merasa sungkan. Tapi maaf, kami hanya punya gubuk reyot seperti ini," sambung Domi sambil mendudukkan tubuhnya ke kursi.
Zafran langsung menggelengkan kepalanya. "Bangunan dianggap rumah bukan karena kemewahan dan kebesarannya, tapi karna kehangatan di dalamnya, Kek. Terima kasih sudah memperbolehkanku tinggal di sini." Dia kembali mengangguk.
Domi merasa senang mendengar ucapan Zafran, tampak jelas jika laki-laki itu adalah orang baik, sama seperti Ryder dan juga Yara.
Setelah berbincang dengan Domi dan Weny, Ryder membawa Zafran ke dalam kamar yang akan ditempati oleh laki-laki itu. Tepat berada di samping kamarnya sendiri.
"Ini kamarmu, dan hanya ada satu kamar mandi di rumah ini. Jadi kita harus gantian."
Zafran mengangguk paham. Dia lalu mendudukkan tubuhnya di atas ranjang. Lumayanlah, kasurnya tidak terasa keras walau tidak selembut di rumahnya sendiri.
Malam harinya, di tempat lain terlihat Yara sudah bergabung dengan teman-temannya. Kedatangannya disambut dengan hangat oleh mereka, dan tidak lupa mereka juga menanyakan perihal keadaan Ryder.
"Alhamdulillah dia baik-baik saja. Tadi pagi aku datang ke sini juga bersamanya," jawab Yara.
Mereka merasa lega saat mendengarnya. Tentu saja mereka juga khawatir dengan kepergian laki-laki itu, apalagi Yara juga langsung menyusul pergi saat mengetahuinya.
Bak pucuk dicinta ulam pun tiba, baru saja mereka membicarakan tentang Ryder, dan sekarang laki-laki itu tampak sedang berjalan ke arah mereka yang sedang duduk di teras rumah.
"Eh, itu siapa laki-laki yang ada di samping Ryder?" seru seorang wanita yang bekerja sebagai tukang masak di rumah itu.
Yara langsung memukul keningnya sendiri karena lupa mengatakan perihal kedatangan Zafran, padahal sejak tadi dia sudah berniat untuk mengatakannya.
"Assalamu'alaikum," ucap Ryder, sementara Zafran hanya diam sambil tersenyum ke arah Yara.
Semua orang yang ada di tempat itu langsung menjawab salam Ryder secara bersamaan, termasuk Yara yang langsung mempersilahkan mereka untuk masuk.
__ADS_1
"Maaf semuanya, aku lupa mengatakan tentang kedatangan Zafran. Dia ini adikku," ucap Yara sambil merangkul lengan Zafran yang ada di sampingnya.
Semua orang mengangguk paham. Pantas saja wajah laki-laki itu terlihat sangat tampan, ternyata adik dari Yara yang juga punya wajah sangat cantik.
"Senang berkenalan dengan Anda, Tuan. Nama saya Ansel, saya rekan kerja Dokter Yara," ucap Ansel sambil mengulurkan tangannya.
Zafran menyambut uluran tangan itu. "Panggil saja saya Zafran, Dokter. Senang berkenalan dengan Anda." Dia lalu melepaskan jabatan tangan itu.
Mereka semua lalu berkenalan dengan Zafran secara bergantian, tidak terkecuali dengan seorang wanita yang menanyakan siapa laki-laki itu tadi.
"Maaf kalau kedatangan kami mengganggu Anda semua. Saya hanya ingin meminta tolong agar besok Anda semua bisa datang ke wilayah pabrik, karena saya ingin melakukan pemeriksaan medis pada semua pekerja di sana," ucap Ryder.
Yara dan yang lainnya mengangguk paham, kebetulan tugas mereka sudah selesai karena memang tinggal dua hari lagi mereka berada di tempat itu.
"Tentu saja, Tuan Ryder. Dengan senang hati kami pasti akan datang ke sana," sahut Ansel.
Ryder lalu mengucapkan terima kasih pada mereka semua karena sudah bersedia untuk datang, dan tidak lupa jika besok mereka akan dijemput oleh salah satu karyawannya.
"Kalau gitu kami-"
"Sebentar," potong Yara sambil melihat ke arah perban yang ada dilengan Ryder membuat ucapan laki-laki itu terhenti. "Ayo ikut aku sebentar, aku harus mengganti perbanmu!" Dia beranjak dari tempat itu dan mengajak Ryder ikut bersamanya.
Ryder mengangguk dengan patuh, dia lalu mengikuti Yara yang sudah duluan masuk ke dalam rumah.
"Aku merasa sangat kagum dan heran pada tuan Ryder," ucap Lewis tiba-tiba membuat semua mata melihat ke arahnya dengan heran, termasuk Zafran yang kini menatap Dokter itu dengan penuh tanda tanya.
"Apa maksudmu?" tanya Ansel tidak mengerti.
"Yah aku merasa kagum pada tuan Ryder karena dia sangat kuat. Lihat saja luka yang ada di kepalanya karena tertimpa balok waktu itu. Padahal lukanya cukup dalam, bahkan sampai membuatnya tidak sadarkan diri dalam waktu yang cukup lama. Tapi dia tetap terlihat biasa saja. Lalu sekarang? Lengannya juga terluka, aku heran kenapa dia bisa menahan semua itu?" ucap Lewis dengan tidak mengerti. Jika orang lain yang mengalaminya, pasti tidak akan sanggup untuk beraktivitas.
Ah, benar juga. Mereka semua setuju dengan apa yang Lewis ucapkan, sementara Zafran tampak menghela napas kasar.
"Tentu saja dia kuat, karena selama ini dia bersama dengan obatnya," sahut Zafran tiba-tiba.
"A-apa maksudnya?"
•
•
__ADS_1
•
Tbc.