
Zafran lalu beranjak pergi dari tempat itu dan masuk ke dalam restoran dengan diikuti oleh Junior, sementara Hana hanya dia di tempat dengan bingung karena tidak mengerti dengan apa yang laki-laki itu katakan.
"Memangnya kapan aku tidak menegakkan kepala saat sedang jalan?" gumam Hana. Dia lalu menggelengkan kepalanya dan berlalu pergi dari tempat itu sebelum suaminya melihat jika dia belum juga pergi dari sana.
Zafran dan Junior berjalan ke ruangan yang sudah dipesan secara khusus oleh Junior, dia lalu membuka pintu ruangan itu dan terlihatlah seorang lelaki yang sudah lebih dulu sampai di tempat itu.
"Selamat datang, Tuan," seru Dion sambil tersenyum ke arah Junior yang saat ini sedang berdiri di ambang pintu.
Zafran yang berdiri di belakang Junior menajamkan pandangannya saat melihat siapa laki-laki yang ada di dalam ruangan itu. Apakah laki-laki itu adalah anak dari salah satu pemilik saham di perusahaannya?
"Silahkan, Tuan," ucap Junior sambil mempersilahkan sang tuan untuk masuk ke dalam ruangan.
Zafran melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam ruangan membuat Dion terperanjat kaget saat melihatnya, mungkin laki-laki itu ingat dengan pertemuan mereka di desa waktu itu.
"Ka-kau?" seru Dion sambil menunjuk ke arah Zafran yang sudah berdiri di hadapannya. Dia tidak menyangka bisa bertemu dengan laki-laki itu, tetapi apa yang sedang dia lakukan di sini.
"Turunkan tanganmu!" ucap Junior dengan tajam saat melihat tangan Dion menunjuk ke arah sang tuan. Kedua matanya berkilat marah saat melihat ketidaksopanan laki-laki itu.
Dion langsung menurunkan tangannya saat mendengar ucapan Junior, dia lalu menatap kedua lelaki itu secara bergantian dengan bingung.
"Tidak disangka kita bisa bertemu di sini," ucap Zafran sambil mendudukkan tubuhnya di kursi yang sudah di tarik mundur oleh Junior, dan semua itu tidak lepas dari pandangan Dion.
"Y-ya, aku juga tidak menyangka kita bertemu di sini," sahut Dion dengan pelan. Tiba-tiba dia merasa cemas saat melihat apa yang ada di hadapannya, apa jangan-jangan Zafran itu adalah anak dari pemilik perusahaan Sky Group?
"Duduklah, kenapa kai berdiri terus?"
Dion langsung mendudukkan tubuhnya di kursi saat mendengar ucapan Zafran, dia merasa sangat terintimidasi oleh laki-laki itu.
Junior lalu meletakkan beberasa berkas di atas meja, tepat di hadapan Dion yang saat ini sedang menatap dengan penuh tanda tangan.
"Itu adalah beberapa berkas yang harus Anda lengkapi jika ingin bergabung dalam proyek cabang baru," ucap Junior.
Dion menganggukkan kepalanya dan segera melihat berkas tersebut, sementara Zafran hanya dia sambil terus menatap laki-laki itu dengan tajam.
Tidak berselang lama, datanglah pelayan ke dalam ruangan itu untuk mengantarkan makanan dan minuman, dia menyajikannya di atas meja lalu mempersilahkan mereka untuk menikmatinya.
Zafran tersenyum sinis saat melihat Dion. Ke mana sosok laki-laki yang sombong dan keras kepala waktu itu? Dion pasti sudah tahu siapa dia sehingga tidak berani lagi mengeluarkan taring.
Setelah selesai makan, mereka lalu membahas tentang keinginan Dion untuk bergabung dengan proyek yang sedang Zafran jalankan. Itu sebabnya dia yang bertemu dengan laki-laki itu untuk melihat bagaimana kemampuannya.
__ADS_1
***
Dua jam kemudian, Dion sudah menyelesaikan presentasinya di hadapan Zafran. Ternyata dugaannya benar jika laki-laki itu adalah anak dari pemilil Sky Group, dia pasti akan mendapat keuntungan besar jika bisa menjalian hubungan baik dengannya.
"Kami akan menghubungi Anda nanti," ucap Junior sambil beranjak dari kursi karena melihat Zafran berdiri, membuat Dion juga ikut bangun dari tempat duduknya.
"Terima kasih karena sudah meluangkan waktu Anda, Tuan. Saya senang bisa bertemu dengan Anda lagi."
"Lagi?" tanya Zafran sambil tersenyum sinis.
"Benar, Tuan. Kita kan pernah bertemu di desa Hyla waktu itu. Apa Anda tidak ingat dengan saya?" tanya Dion dengan semangat.
Zafran langsung tergelak. "Ya ya ya, tentu saja saya ingat. Mana mungkin saya lupa dengan laki-laki yang sudah memaki saya."
Deg.
Senyum yang ada di bibir Dion langsung lenyap dan berganti dengan wajah pias. "Ma-maafkan saya, Tuan. Saya tidak bermaksud seperti itu." Dia menundukkan kepalanya, tetapi kedua tangannya terkepal erat seperti sedang menahan emosi, dan tentu saja Zafran melihat semua itu.
Tanpa mengatakan apa-apa, Zafran langsung berbalik dan berlalu keluar dari tempat itu. Begitu juga dengan Junior yang akan selalu mengikuti apa yang tuannya lakukan, hingga tinggalah Dion seorang diri di dalam ruangan itu.
"Si*alan!" Dion mengumpat kesal begitu Zafran dan Junior meninggalkan tempat itu. "Sombong sekali dia mentang-mentang anak orang kaya." Dia meninju meja yang ada di hadapannya, lalu memekik kesakitan saat tangan yang dipakai untuk meninju meja berdenyut.
"Aku harus mendekatinya. Jika aku dekat dengannya, papa pasti akan percaya padaku dan menyerahkan saham itu padaku," gumam Dion dengan tatapan sinis. Dia harus memanfaatkan Zafran untuk mendapat saham ayahnya, walau saham itu hanya berjumlah 2 persen saja.
Sementara itu, di tempat lain terlihat Yara dan Ryder sedang jalan-jalan ke mall sekalian belanja keperluan mereka. Sudah lama sekali Yara tidak belanja karena sibuk dengan pekerjaannya, itu sebabanya dia harus memanfaatkan waktu libur ini dengan sebaik mungkin.
"Ya Allah, gemesnya," seru Yara saat melihat baju anak bayi yang tergantung di salah satu toko. Dengan cepat dia masuk ke toko itu untuk melihatnya dari dekat.
Ryder yang melihat kepergian Yara tampak mengernyitkan kening heran, dia lalu segera menyusul istrinya itu.
"Lihat, bajunya games sekali "kan?" ucap Yara sambil menunjukkan baju anak bayi yang dia lihat tadi.
Ryder menatap baju itu dengan tatapan biasa saja. "Sayang, kita baru berbuat satu kali loh. Masa kamu udah nyidam sih?"
Yara langsung mencubit pinggang Ryder saat mendengar ocehan suaminya itu, membuat Ryder langsung memekik kesakitan.
"Sakit tau, suka sekali mencubit orang," ucap Ryder sambil mengusap-usap pinggangnya yang berdenyut sakit.
"Abisnya Mas sih, ada-ada aja yang dibilang," balas Yara sambil mengerucutkan bibirnya. Dia lalu mengajak Ryder untuk melihat-lihat pakaian yang ada di toko itu sekalian membeli untuk adik-adiknya kecilnya.
__ADS_1
Setelah mengelilingi mall dan belanja berbagai macam benda, mereka lalu memutuskan untuk pulang. Dalam perjalanan, Yara singgah sebentar ke toko bunga karena ingin membeli bibit untuk taman yang ada di samping rumahnya.
"Wah, dia tampan sekali," seru seseorang saat melihat Ryder.
"Iya benar. Apa dia itu artis?" ucap yang lainnya dengan memakai seragam sekolah.
Yara yang mendengar ucapan gadis-gadis itu langsung menoleh ke arah mereka, lalu melirikke arah Ryder yang hanya diam dan tidak peduli dengan apa yang terjadi.
"Ehem, Mas, kamu suka bunga apa?" tanya Yara, sengaja menguatkan volume suaranya agar gadis-gadis itu mendengar ucapannya.
"Semua bunganya cantik, pilih saja sesukamu, Sayang," sahut Ryder.
Gadis-gadis itu langsung heboh saat mendengar ucapan Ryder. Sangat disayangkan sekali ternyata laki-laki itu sudah punya kekasih, tetapi jika masih kekasih saja tidak apa-apa kan?
"Baiklah, suamiku," ucap Yara kemudian.
Pupus sudah harapan para gadis-gadis itu saat mendengar ucapan Yara, sementara Yara sendiri tersenyum senang melihat raut kesedihan diwajah mereka semua.
"Ternyata kau bisa cemburu juga yah," ucap Ryder saat mereka sudah kembali ke mobil.
Yara mengernyitkan kening heran. "Hem, apa maksud Mas?" Dia merasa tidak mengerti.
Tanpa menjawab pertanyaan Yara, Ryder langsung mengecup bibir wanita itu membuat kedua mata Yara langsung melotot.
"Mas!" pekik Yara sambil menutup mulutnya dengan tangan.
"Apa?" tanya Ryder sambil tergelak, pura-pura tidak melakukan dosa.
Yara mendengus sebal. Bisa-bisanya Ryder main sosor begitu saja, bagaimana jika ada yang melihat mereka?
"Tapi tidak apa-apa, aku suka saat melihat cemburu tadi."
•
•
•
Tbc.
__ADS_1