
Yara memeluk tubuh sang mama dengan erat, begitu juga dengan Riani yang memeluk anak sambungnya itu dengan tidak kalah erat.
Mereka lalu bertukar kabar dan saling melepas rindu satu sama lain. Walau hanya sekedar ibu tiri, tetapi Riani sangat menyayangi Yara seperti anaknya sendiri. Apalagi sejak kecil mereka memang dekat, bahkan sering menghabiskan waktu bersama.
Setelah sampai di rumah, Yara segera berkumpul dengan semua orang di meja makan untuk menikmati makan siang. Tawa canda menggema di ruang dapur dengan kebahagiaan yang terpancar di wajah semua orang, terutama oma dan opa Yara yang sudah lumayan lama tidak bertemu.
Selesai makan, mereka semua berpindah ke ruang keluarga. Riani mengantar Yara untuk istirahat sejenak di kamarnya, terlihat kamar itu tetap bersih dan terawat walau Yara tidak tinggal di sana.
"Mandi dan istirahat dulu, Yara. Pasti kau lelah 'kan?"
Yara menggelengkan kepalanya untui membantah ucapan sang mama. "Aku enggak lelah, Ma. Lagian cuma perjalanan beberapa jam saja."
"Walau pun hanya sebentar, akan lebih baik kalau kau istirahat. Hem." Riani duduk di samping Yara dan memandang putrinya itu dengan sendu.
Mau tidak mau Yara mengangguk dan berlalu pergi ke kamar mandi, sementara Riani terus menatap kepergian Yara dengan sendu. Tentu saja dia merasa sedih dengan apa yang terjadi pada wanita itu.
"Kenapa nasibmu dan Mamamu sama, Yara?" Riani mengusap air mata yang mulai menetes dari sudut matanya. "Apakah ini yang dinamakan karma atas apa yang sudah mas Mahen lakukan?"
Mungkin saja apa yang Riani pikirkan adalah benar. Sebuah karma pasti akan terjadi sesuai dengan apa yang dilakukan, baik sekarang atau di masa depan.
Karma tidak selalu menimpa seseorang yang berbuat kesalahan, bisa saja menimpa orang yang dia sayangi seperti anak, istri, atau pun keluarga yang lain.
"Ya Allah, bukankah hukuman atas apa yang mas Mahen lakukan sudah sangat cukup? Jika Engkau masih merasa murka dengan apa yang terjadi, aku mohon hukum kami saja, ya Allah. Tolong jangan hukum anak-anak kami, aku mohon."
Riani menengadahkan tangannya untuk memohon ampunan Allah, tentu saja dengan diiringi isak tangis yang tertahan.
__ADS_1
Tidak mau Yara melihatnya menangis, Riani memilih untuk menyusun pakaian putrinya itu ke dalam lemari. Dia menyusun semuanya agar Yara tidak perlu capek-capek mengemas pakaian, dan setelah itu dia berlalu keluar untuk berkumpul dengan yang lainnya.
Setelah selesai membersihkan diri, Yara keluar dari kamar mandi dengan berbalut jubah handuk. Dia tersenyum saat melihat kopernya sudah berpindah ke atas lemari, dia yakin jika sang mama sudah mengemas pakaiannya.
Yara lalu memakai pakaian dan merebahkan tubuhnya ke atas ranjang. Hatinya terasa hangat dan bahagia karena bertemu dengan keluarga yang dirindukan, dan benar saja jika keluarga adalah obat untuk semua rasa sakit yang menyesakkan dada.
*
*
*
Tepat pukul 5 sore, Yara terbangun dari tidurnya dan bergegas keluar kamar. Terlihat rumah itu tampak sepi, lalu terdengar suara semua orang di taman samping rumah.
Yara menganggukkan kepalanya untuk menjawab pertanyaan oma Camelia. "Wah, apa kita mau pesta barbeque?"
"Iya-iya." Yumi menjawab dengan penuh semangat sambil menujukkan sesuatu yang ada di tangannya.
"Loh, bukannya itu bakso, Dek?" Yara bergegas duduk di samping Yumi dan memindahkan adiknya itu ke atas pangkuannya.
"Iya. Mama buatin aku bakso, nanti bisa di panggang sama yang lain."
Yara mengangguk-anggukkan kepalanya sambil membantu Yumi untuk menusuk bakso itu dengan lidi.
"Kau akan tinggal di sini bersama kami 'kan, Yara?"
__ADS_1
Yara memalingkan wajahnya melihat ke arah opa Adrian. "Aku akan tinggal selama seminggu, Opa. Jika aku menetap di sini, bagaimana dengan klinikku?"
"Opa bisa bangunkan klinik atau pun rumah sakit untukmu di sini, jadi kau tidak perlu memikirkan apapun."
Mahen dan yang lainnya menyetujui apa yang opa Adrian katakan, tentu saja semua itu sangat mudah untuk dilakukan. Apa lagi dengan uang dan kekuasaan keluarga mereka, semua itu akan menjadi kenyataan hanya dengan kedipan mata saja.
Yara tersenyum simpul. "Aku sangat senang mendengarnya, Opa. Hanya saja aku sudah punya tim yang sangat baik di sana, rasanya tidak tega untuk meninggalkan mereka."
"Semua itu gampang, Sayang. Papa akan membawa mereka ke sini sesuai dengan keinginanmu,"
"Mas." Riani memegang lengan Mahen membuat suaminya itu menoleh ke arahnya. "Terserah Yara ingin tinggal di sana atau pun di sini. Semua sama saja, di sana keluarganya dan di sini juga keluarganya. Jadi senyaman dia saja ingin di mana."
Mahen menghela napas kasar, begitu juga dengan kedua orang tuanya. Apa yang Riani katakan adalah benar, dan tidak seharusnya mereka memaksa Yara untuk tinggal bersama mereka. Hanya saja ada rasa khawatir dan sedih karena takut mantan suami Yara kembali menganggunya.
Yara yang mengerti kecemasan keluarganya merasa benar-benar terharu. Rasa sayang mereka sangatlah besar, tentu saja membuat dia tidak bisa kembali mengingat masa lalu. Apalagi rasa sakitnya.
"Mama, Papa. Oma dan Opa. Aku baik-baik saja sekarang, jadi kalian tidak perlu cemas dan khawatir. Hem?" Semua orang menatap Yara dengan sendu. "Kasih sayang keluargaku sangatlah besar, tentu saja tidak ada sedikit pun rasa sakit dan masalah yang akan menghampiri di mana pun aku berada."
•
•
•
Tbc.
__ADS_1