Takdir Cinta Yang Kau Pilih

Takdir Cinta Yang Kau Pilih
Bab 121. Obat Hati.


__ADS_3

Yara terdiam saat mendengar ucapan Ryder, dia tetap membelakangi laki-laki itu walau kini hatinya berkecamuk hebat.


"Maaf jika kata-kataku barusan mengejutkanmu, Yara. Tapi kau sendiri sudah tahu bahwa aku benar-benar mencintaimu, dan aku ingin segera menikahimu," ucap Ryder lagi.


Yara tetap diam tanpa membalas atau pun memberikan reaksi atas perkataan Ryder. Dia sendiri merasa tidak tahu harus berkata apa pada laki-laki itu, dia bahkan bingung dengan perasaannya sendiri.


Bukanya dia tidak menyukai Ryder, Yara sendiri sadar jika dia juga jatuh hati pada laki-laki itu. Namun, entah kenapa hatinya merasa gelisah saat Ryder membahas tentang sebuah pernikahan. Dia benar-benar merasa takut jika masa lalunya kembali terulang.


"Ki-kita harus segera pulang, Ryder," ucap Yara mengalihkan perhatian. Dia lalu beranjak pergi dari tempat itu tanpa menunggu balasan dari laki-laki itu.


Ryder menatap punggung Yara dengan sedih. Mungkinkah wanita itu benar-benar tidak menyukainya? Dia langsung menggelengkan kepalanya dengan kuat.


"Tidak, aku yakin jika dia juga menyukaiku. Tapi, kenapa dia tidak memberikan jawaban apapun padaku?" gumam Ryder dengan bingung.


Ryder lalu melangkah gontai untuk mengikuti kepergian Yara. Perasaannya menjadi kacau dengan apa yang terjadi, tahu gitu dia tidak membahas soal pernikahan dengan wanita itu.


***


Malam harinya, Ryder dan Eric pamit dari rumah Vano untuk kembali ke hotel tempat di mana Eric menginap. Mereka merasa segan jika terus berada di rumah itu, apalagi suasana terasa sangat tidak nyaman untuk Ryder.


"Sekali lagi saya ucapkan terima kasih pada Anda, Tuan," ucap Vano yang nengantar kepergian Eric dan Ryder sampai ke halaman depan.


River juga tampak berada di tempat itu, dia juga mengucapkan banyak terima kasih pada Eric dan Ryder yang sudah membantu Vano untuk menyelamatkannya, padahal dulu dia sempat mengancam mereka perihal perlakukan Ryder terhadap Yara.

__ADS_1


Sementara itu, dari balik jendela ruang tamu Yara terus memperhatikan Ryder sampai laki-laki itu masuk ke dalam mobil. Senyum tipis terbit dibibirnya kala melihat laki-laki itu tersenyum, tetapi senyum itu seketika surut saat mengingat tentang apa yang Ryder katakan sore tadi.


Yara menghela napas berat sambil menyandarkan tubuhnya ke dinding, dia benar-benar merasa galau luar biasa hingga membuat kepalanya berdenyut pusing.


"Ada apa, Nak?"


Yara terlonjak kaget saat mendengar suara seseorang, sontak dia menoleh ke arah samping sambil memegangi dadanya yang berdebar keras.


"Ya Allah, Mama," ucap Yara sambil menghela napas kasar. "Mama ngagetin aja." Dia mengusap dadanya yang masih berdetak kencang.


Via tersenyum sambil menepuk bahu sang putri. "Makanya jangan melamun. Ayo, ikut mama!" Dia mengajak Yara untuk duduk di ruang keluarga karena ada sesuatu yang ingin dibicarakan.


Yara mengangguk lalu mengikuti langkah sang mama. Mereka duduk di ruang keluarga dengan saling bersampingan.


"Ada apa, Ma?" tanya Yara dengan penasaran.


"Sayang, mama ingin menanyakan sesuatu padamu. Tapi, mama harap kau tidak tersinggung dan tidak salah paham dengan apa yang mama tanyakan," ucap Via dengan pelan, dan dijawab dengan anggukan kepala Yara. "Bagaimana hubunganmu dengan Ryder, Nak? Apa kau menyukainya?"


Yara tersenyum tipis saat mendengar pertanyaan dari sang mama, sebenarnya dia sudah menduga jika mamanya akan bertanya tentang hal ini.


"Aku menyukainya Ma, aku juga jatuh cinta padanya. Hanya saja ada sesuatu yang terasa menyesakkan dada, dan aku merasa gelisah saat memikirkan tentang sebuah pernikahan," jawab Yara dengan jujur.


Via menatap Yara dengan sendu. Dia paham sekali dengan apa yang putrinya itu rasakan saat ini, karena dulu dia juga merasakan hal yang serupa ketika akan menikah dengan Vano.

__ADS_1


"Mama paham, Nak. Mama mengerti dengan apa yang kau rasakan saat ini," balas Via dengan lembut sambil menggenggam kedua tangan Yara. "Mama dulu juga merasakan semua itu. Apa kau mau tahu bagaimana perasaan mama dulu ketika papa Vano datang melamar?"


Yara langsung menganggukkan kepalanya. "Aku mau tahu, Ma. Aku, aku ingin mendengarnya."


Via tersenyum simpul, dia lalu menceritakan bagaimana perasaannya ketika Vano mengungkapkan tentang perasaan cinta, bahkan sampai menjadikannya sebagai istri dari laki-laki itu.


Awalnya, jelas Via merasa terkejut, bingung, dan sama sekali tidak menduganya. Namun, pada saat itu hubungan mereka memang sudah dekat secara emosional akibat sering mengasuh Yara secara bersama-sama, hingga memunculkan ikatan perasaan yang kuat.


Namun, ketika Vano ingin menikahinya. Perasaan takut, gelisah, dan panik mulai menyelimuti hati. Siang dan malam dia terus dihantui oleh kenangan masa lalu saat disakiti oleh sang mantan suami, bahkan dia sampai tidak bisa tidur dan hampir jatuh sakit karenanya.


Yara tercengang saat mendengar cerita dari sang mama, tidak disangka jika mamanya dulu merasakan sesuatu yang jauh lebih parah darinya.


"Tapi semua itu langsung hilang saat mama menyerahkan semuanya pada Allah, Nak," ucap Via setelah selesai menceritakan masa lalunya. "Siang malam mama terus berd'oa, dan menyerahkan segala garis takdir hidup mama kepada-Nya. Apapun yang Allah berikan, maka mama akan menerimanya dengan penuh bahagia."


Yara mengangguk paham. Benar, segala sakit dan gelisah hanya bisa disembuhkan dengan berserah diri kepada Allah.


"Rasa trauma dalam diri kita tidak akan hilang sampai kapan pun, Nak. Tapi, bukan berarti kita tidak bisa bahagia hanya karena itu," sambung Via sambil mengusap pipi Yara dengan lembut.


"Apapun yang terjadi, serahkan semuanya pada Allah, lepaskan semua beban dan belenggu yang ada dalam hatimu. Percayakan semuanya pada sang pemilik kehidupan, maka nanti Allah sendirilab yang akan melepaskan semua kesusahan dalam hatimu itu."



__ADS_1



Tbc.


__ADS_2