Takdir Cinta Yang Kau Pilih

Takdir Cinta Yang Kau Pilih
Bab 198. Terketuknya Pintu Hati.


__ADS_3

Hana menundukkan kepalanya dengan tangan saling bertautan, dia merasa sangat bersalah karena sudah lancang melakukan hal seperti ini.


"Ma-maafkan saya. Saya, saya tidak bermaksud untuk menguping," ucap Hana dengan tergagap dan takut.


Via tersenyum sambil menutup al-qur'an yang sedang dia pegang dan meletakkannya di tempat yang telah tersedia. Dia lalu beranjak dari tempat itu untuk menghampiri Hana.


"Kenapa kau berdiri di sini, Hana?" tanya Via dengan lembut, dia lalu menyuruh Zayyan untuk masuk dan bergabung dengan kakak dan papanya.


Hana menatap Via dengan takut-takut. "Saya, saya merasa sangat tersentuh saat mendengar suara tante mengaji. Hingga tanpa sadar saya mendekat ke tempat ini dan melihatnya. Maafkan saya." Dia kembali menundukkan kepalannya.


Via kembali tersenyum karena merasa senang mendengar jawaban Hana. "Tidak apa-apa, Hana. Tidak ada yang salah dengan itu. Apa kau mau mendengarnya dari dekat?"


Hana tersentak kaget mendengar ucapan Via. Benarkah dia boleh mendengar mereka mengaji dari dekat sementara agamanya dan mereka tidak sama?


"Tapi kau hanya bisa mendengarnya saja karena agama tante melarang non-muslim untuk menyentuh al-qur'an," sambung Via.


Hana langsung menganggukkan kepalanya. "Ti-tidak apa-apa, Tante. Saya hanya akan mendengarnya dari sini, Tante boleh melanjutkannya lagi." Dia tersenyum senang.


Via lalu menyuruh Hana untuk menunggu sebentar karena dia ingin mengambil sesuatu di dalam kamar, sementara Vano dan yang lainnya hanya diam mendengarkan. Mereka merasa senang dengan apa yang terjadi pada Hana, terutama Zafran. Laki-laki itu bahkan tersenyum saat mendengar Hana tersentuh mendengar suara mereka.


Tidak berselang lama, Via kembali lagi sambil membawa sesuatu ditangannya, yaitu sebuah pasmina panjang berwarna hitam lalu memakaikannya di kepala Hana.


Dada Hana kembali bergejolak dengan jantung berdegup kencang saat pasmina itu berada di kepalanya. Seluruh tubuhnya bergetar hingga rasanya ada sesuatu yang mengalir dalam hati.


"Tidak apa-apa kan, kalau menutup kepala seperti ini?" tanya Via. Dia hanya meletakkan pasmina itu begitu saja tanpa jarum, setidaknya bisa menutup kepala Hana.


Hana menganggukkan kepalanya. Kemudian Via mengajak Hana untuk masuk ke dalam ruangan itu dan bergabung bersama dengan yang lainnya. Setelah Zayyan selesai shalat, mereka kembali membaca surah yasin sampai selesai.


Kedua tangan Hana mengepal kuat menahan gejolak yang ada dalam dadanya. Namun, perlahan gejolak itu menghilang dan berganti dengan rasa tenang dan damai yang terasa mengalir dalam hatinya.


Tanpa sadar air mata menetes membasahi wajah Hana. Setiap alunan ayat suci al-qur'an itu terasa mengobrak-obrak hatinya, seolah ada kesedihan yang mendalam.


Setelah selesai, Via sengaja membaca arti dari ayat al-qur'an itu supaya Hana memahaminya. Begitu juga dengan suami dan anak-anaknya.


"Allah sudah menggariskan takdir untuk semua umatnya, tetapi kita tetap harus berjuang dan memperbaiki diri. Tidak ada yang bisa mengubah keadaan selain diri sendiri, siapapun yang bekerja keras dan sabar, maka Allah akan memberi balasan yang luar biasa," ucap Via setelah selesai membacakan arti dari apa yang mereka baca.


Semua orang terlihat khusyuk mendengarkan apa yang Via ucapkan, begitu juga dengan Hana yang tampak fokus mendengarkan semuanya dengan air mata yang terus membahasi wajah.

__ADS_1


Dengan cepat Hana mengusap air matanya saat sadar jika semuanya sudah selesai, sementara yang lain hanya diam sambil sesekali memperhatikannya.


Mereka semua lalu berganti pakaian dan bergegas menuju meja makan di mana semua makanan sudah tersaji dengan lengkap. Malam ini makan malam mereka sedikit terlambat karena kedatangan Hana di ruang shalat.


"Kau tidak makan, Zay?" tanya Vano sambil memasukkan suapan demi suapan ke dalam mulutnya.


Zayyan menggelengkan kepala. "Aku masih kenyang, tadi diajak makan sama temannya kakak di restoran." Dia menjawab dengan jujur sambil memakan buah apel yang sudah di cuci.


Zafran yang mendengar ucapan sang adik langsung menghentikan aktivitas makannya. "Temanku?"


Zayyan mengangguk. "Iya, tadi aku ketemu sama kak Zea." Dia lalu menceritakan apa yang terjadi sore tadi bersama dengan wanita itu.


Zafran terdiam mendengar cerita Zayyan. Tidak disangka Zea akan menyapa adiknya dengan ramah seperti itu, tetapi wanita itu memang pernah bertemu dengan Zayyan, dan Zea juga memang wanita yang ramah. Namun, kenapa dia merasa tidak nyaman?


"Kayaknya dia suka sama Kakak deh," ucap Zayyan setelah selesai menceritakan semuanya.


"Jangan bicara sembarangan, kami hanya teman," bantah Zafran.


Klenting.


Semua orang tersentak kaget saat Hana tidak sengaja menjatuhkan sendok yang berada di tangannya, membuat suara sendok yang terbentur dengan lantai menggema di tempat itu.


Semua orang yang semula melihat ke arah Hana kini melanjutkan makan mereka, kecuali Zayyan yang menatap wanita itu dengan tatapan curiga. Mungkinkah Hana menyukai kakaknya, sehingga terkejut dan menjatuhkan sendok saat dia mengatakan jika Zea menyukai sang kakak?


"Hehe, apa itu benar?" gumam Zayyan sambil senyum-senyum.


Zafran yang duduk di samping Zayyan langsung memasukkan potongan apel ke dalam mulut Zayyan yang sedang senyum-senyum sendiri, membuat adiknya itu langsung tersedak.


"Kakak mau membunuhku?" pekik Zayyan sambil terbatuk-batuk.


Dengan cepat Via memberikan segelas air untuk Zayyan yang langsung diminum sampai habis tak bersisa. "Jangan main-main seperti itu, Zaf. Bahaya." Tegurnya.


Zafran mencebikkan bibirnya sambil menepuk punggung Zayyan agar batuk adiknya itu berhenti. "Makanya jangan ngomong macam-macam!" Ancamnya dengan tajam.


"Cih. Aku kan cuma ngomong kenyatannya aja," cibir Zayyan.


Vano menghela napas kasar melihat tingkah kedua putranya. Padahal mereka sudah sama-sama dewasa, tetapi masih saja bersikap seperti anak kecil.

__ADS_1


Setelah selesai makan, mereka berkumpul di ruang keluarga. Rutinitas yang selalu mereka lakukan agar tetap dekat dengan semua keluarga, walaupun hanya sekedar cerita-cerita saja selama satu jam.


"Kak, aku ada tugas melukis," ucap Zayyan yang baru ingat jika ada tugas dan harus dikumpulkan besok.


"Bukan urusanku," sahut Zafran dengan acuh tak acuh membuat Zayyan mencebikkan bibirnya.


Tanpa peduli dengan ucapan sang kakak, Zayyan tetap pergi ke kamar untuk mengambil peralatan melukisnya karena dia benar-benar nol jika soal gambar-menggambar, tetapi tidak dengan kakaknya yang pintar menggambar. Memang kakaknya itu pintar dalam segala hal.


"Aku disuruh melukis pemandangan untuk memeriahkan festival minggu depan, karena pihak sekolah mengundang pejabat," ucap Zayyan sudah kembali bergabung dengan semua orang.


Zafran berdecak kesal mendengar ucapan sang adik. "Kenapa tidak besok saja sih?" Dia merasa melas dan juga lelah.


"Besok sudah dikumpul, hehe," sahut Zayyan sambil cengengesan.


"Dasar gila. Kau pikir melukis itu gampang apa," pekik Zafran bertambah kesal sambil memukul kepala sang adik.


"Maaf, aku lupa," ucap Zayyan sambil mengusap-ngusap kepalanya yang terasa panas dan berdenyut sakit.


Zafran benar-benar sangat kesal sekali. Sepertinya malam ini dia harus begadang untuk menyiapkan tugas adik kurang ajarnya itu, dan dia tidak bisa melukis hanya asal-asalan saja.


"Ma-maaf, jika tidak keberatan, apa boleh saya yang mengerjakan lukisan itu?" ucap Hana dengan pelan. "Lukisan saya memang tidak bagus, tapi saya bisa berusaha." Sambungnya kembali.


"Kakak bisa melukis?" tanya Zayyan dan dijawab dengan anggukan kepala Hana. "Baiklah, tapi yang bagus yah Kak. Supaya- Aw!" Dia kembali memekik kesakitan saat sang mama mencubit lengannya.


"Dasar tidak tahu terima kasih. Sudah bagus dibuatkan, tapi malah ngomong kayak gitu," ucap Via dengan tajam.


Zayyan kembali cengengesan sambil menyusap lengannya. "Iya-iya. Kalau gitu makasih yah kak." Dia lalu memberikan alat-alat lukisnya pada Hana.


Hana menganggukkan kepalanya dengan mata berbinar-binar. Sudah lama sekali dia tidak melukis sejak menikah dengan Dion karena tidak punya waktu istirahat, semoga tangannya tidak kaku dan bisa mengerjakannya.


"Semoga hasilnya bagus supaya Zayyan tidak kecewa."




__ADS_1


Tbc.


__ADS_2