Takdir Cinta Yang Kau Pilih

Takdir Cinta Yang Kau Pilih
Bab. 65. Kenalilah Siapa Tuhanmu.


__ADS_3

Ryder langsung memalingkan wajahnya ke arah Yara saat mendengar ucapan wanita itu, sementara Yara sendiri tersenyum sambil melihat lurus ke depan.


"Perhatikan jalanmu, Ryder. Kita bisa berakhir dirumah sakit lagi nanti."


Ryder kembali melihat ke arah depan saat mendengar perkataan Yara. Untung saja dia tidak lepas kendali dan segera melihat ke depan, jika tidak mereka mungkin akan benar-benar masuk rumah sakit.


"Jangan malu hanya karena tidak terbiasa mengucap salam, karena semua itu bisa diperbaiki secara perlahan. Tapi malulah saat kita tidak mengenal siapa Tuhan, padahal selama ini Dia lah yang telah memberi kita kehidupan."


Kata-kata yang Yara ucapkan terasa menghantam dada Ryder, hingga membuat tangannya mencengkram kemudi dengan kuat.


"Aku memang tidak tau siapa itu Tuhan, tapi apa kau sendiri mengetahuinya?" tanya Ryder tanpa memalingkan wajah, dia takut kembali membuat wanita itu dalam bahaya.


Yara tersenyum simpul mendengar pertanyaan dari Ryder. "Tentu saja aku tahu, Ryder. Aku selalu bicara dengan Tuhanku setiap hari, dari mulai pagi sampai malam. Terkadang di dalam mimpi pun aku berdo'a padanya."


Ryder semakin menciut. Segitu jauhkan hubungannya selama ini dengan Tuhan? Dia bahkan tidak ingat kapan terakhir kali dia mengingat Tuhan.


"Setiap manusia punya cara masing-masing untuk mengenal Tuhan mereka, tetapi bagi kita umat islam. Caranya adalah mengerjakan apa yang Dia perintahkan, contohnya shalat."


Secara tidak langsung, Yara sedang memberikan sedikit ceramah untuk Ryder dan berharap agar sedikit saja kata-kata yang diucapkan dapat diamalkan oleh laki-laki itu.


"Apa kau tau cerita tentang sekawanan semut, Ryder?" tanya Yara.


Ryder menggeleng tidak tahu. "Jangankan semut, aku saja tidak tahu tentangmu yang masih satu jenis denganku." Ingin sekali dia berkata seperti itu, tetapi dia masih mencoba untuk menahan diri.


"Allah melarang kita untuk membunuh semut, itu karena setiap hari semut berdizikir kepada-Nya. Jika Allah saja memuliakan semut, lalu bagaimana dengan kita yang tercipta paling mulia di antara makhluk yang lain?"


Yara menatap Ryder, membuat laki-laki itu terdiam dengan gugup. Sangat terlihat jelas garis perbedaan di antara mereka berdua.


"Tidak ada tingkatan dalam manusia, setiap manusia itu sama di hadapan Tuhan. Hanya bagaimana keimanan kita saja yang akan bicara. Apakah kita layak untuk masuk surga-Nya, atau akan berada dalam neraka-Nya."


Ryder semakin menatap rapat mulutnya. Dadanya bergejolak, padahal bukan kali pertama dia mendengar semua ucapan seperti itu.


Dulu, mamanya selalu mengingatkan tentang betapa pentingnya menjalankan perintah Tuhan. Namun, seiring berjalannya waktu. Sang mama tidak lagi bersuara karena dia sendiri juga tidak peduli.

__ADS_1


"Manusia cuma akan hidup sekali, Ryder. Maka jangan disia-siakan. Jika tinggal jasad dikandung badan, maka tidak ada arti harta benda yang selama ini dicari." Yara menjeda ucapannya untuk menarik napas sejenak, dan untuk pertama kalinya dia mengatakan hal seperti ini pada orang lain.


"Kau boleh saja hidup bahagia bergelimang harta, tapi percayalah jika kau tidak akan merasakan kebahagiaan yang sesungguhnya. Kau akan selalu merasa kurang dan juga was-was, kau tidak akan pernah merasa puas dengan segala hal. Apa kau merasa seperti itu?" tanya Yara membuat Ryder langsung menghentikan mobilnya, karena memang mereka sudah sampai.


"Sekarang katakan yang sejujurnya padaku, Yara. Apa saat ini kau sedang berdakwah?"


Yara tergelak saat mendengar ucapan Ryder, hingga membuat laki-laki itu terpaku sambil menatap wajahnya.


"Tentu saja. Kau adalah temanku, sudah menjadi kewajibanku untuk mengingatkanmu,"


"Benarkah?" tanya Ryder sambil tetap menatap wajah cantik nan manis yang ada di hadapannya.


Yara mengangguk. "Kau akan mendapatkan kebahagiaan yang sangat luar biasa jika mengenal Tuhanmu, Ryder. Percayalah." Dia tersenyum hangat.


Ryder kembali diam dengan jantung berdebar keras. "Kalau gitu, maukah kau bersama denganku untuk meraih kebahagiaan luar biasa itu?"


"Hem?"


Yara mengernyitkan kening bingung, sementara Ryder tersenyum simpul sambil mendekatkan tubuhnya membuat Yara terkesiap.


Deg.


Yara terdiam dengan debaran jantung menguat. Dia ingin mengatakan sesuatu, tetapi mulutnya tidak mau di ajak kerja sama.


Untuk beberapa saat, suasana hening terjadi di dalam mobil itu. Ryder terus memandang wajah Yara, sementara Yara berusaha untuk menenangkan diri.


Tok.


Tok.


Tok.


Ryder dan Yara tersentak kaget saat tiba-tiba ada seseorang yang mengetuk jendela mobil itu, membuat mereka langsung menoleh ke arah kanan.

__ADS_1


"Alan?"


Ryder langsung menurunkan jendela mobilnya, terlihat dua orang temannya sudah berdiri di tempat itu.


"Ngapain aja dari tadi kok gak turun-turun?" tanya Alan dengan tajam, tetapi dia mengedipkan matanya saat melihat keberadaan Yara.


Ryder berdecak kesal dan bergegas keluar dari mobil itu, begitu juga dengan Yara yang mengikutinya.


"Apa kau tidak bisa membuat orang lain bahagia sehari saja?" sembur Ryder dengan melotot tajam. Bisa-bisanya dalam momen seperti itu temannya harus datang mengganggu.


"Kenapa, apa kau sedang anu-anuan?"


Ryder langsung menginjak kaki Alan dengan kuat, membuat laki-laki itu mengerrang dengan suara tertahan.


"Ayo Yara, kita tinggalkan makhluk hina ini!" ajak Ryder kemudian membuat Yara menundukkan kepalanya dengan terkekeh pelan.


Ryder lalu mengajak Yara untuk memasuki tempat acara. Terlihat orang-orang sudah berdatangan di tempat itu, dan langsung menatap ke arah mereka.


Yara tersenyum canggung saat di tatap semua orang, sementara Ryder membusungkan dada dengan bangga.


Jelas semua orang terkejut saat melihat Ryder datang bersama seorang wanita, apalagi terlihat jelas jika wanita yang laki-laki itu bawa bukan wanita yang sama seperti mereka.


"Hallo, Dokter Yara!"


Yara menganggukkan kepalanya saat Shanty menyapa, begitu juga dengan Bisma yang tidak bisa memalingkan wajahnya dari wanita itu.


"Baiklah, karena tamu kehormatan kita sudah datang. Are you ready?" teriak Alan yang ternyata sudah berada di atas panggung, sambil mengangkat sebotol wine yang ada di tangannya.




__ADS_1


Tbc.



__ADS_2