
Yara tidak dapat melanjutkan ucapannya saat tiba-tiba mendengar suara panggilan seseorang, sontak dia menoleh ke arah samping begitu juga dengan Ryder dan Zafran.
Seorang wanita tampak berjalan menghampiri mereka sambil memasang wajah penuh senyuman.
"Maaf jika saya mengganggu Anda, Dokter," ucap Myra saat sudah sampai di samping Yara.
Yara menganggukkan kepalanya. "Tidak apa-apa, Nona. Anda tidak mengganggu kok."
Myra lalu beralih melihat ke arah Ryder yang juga sedang menatapnya, sementara Zafran juga ikut menatap ke arah wanita itu dengan tajam.
"Aku sudah mencarimu dari tadi, Ryder. Ternyata kau ada di sini," ucap Myra sambil mencebikkan bibirnya.
Ryder mengernyitkan kening heran. "Kenapa kau mencariku?" Dia bertanya sambil melihat ke arah Yara yang akan beranjak pergi dari tempat itu.
"Aku ingin-"
"Apa kau mau kutemani?" tawar Ryder sambil menahap jas Dokter Yara membuat wanita itu langsung menatapnya dengan sebal.
"Enggak perlu, Tuan Ryder. Terima kasih," tolak Yara sambil mengibaskan jasnya. Dia lalu membuang muka sebal dan beranjak pergi dari tempat itu.
Myra yang melihat semuanya semakin meradang. Dia yang baru bicara dua kata saja langsung dipotong oleh Ryder untuk bicara dengan Yara, benar-benar sama sekali tidak menghargainya.
"Maaf, Ryder. Apa kau bisa mendengarku sebentar?" ucap Myra sambil menahan amarah yang ada dalam hatinya.
Ryder yang masih setia melihat ke arah Yara tampak mendengus sebal sambil menoleh ke arah Myra. "Baiklah. Katakan saja." Dia menyuruh dengan acuh.
Myra kembali tersenyum. "Ayah menyuruhku untuk memberitahumu bahwa ada dokumen yang harus di urus, dan kau diminta untuk segera menyiapkannya."
"Dokumen apa, bukannya semua udah diselesaikan oleh Bayu?" tanya Ryder dengan tajam. Dia paling malas berurusan dengan dokumen desa, itu sebabnya menugaskan Bayu untuk mengurusnya.
Myra lalu mengatakan jika ada dokumen lain yang tertinggal, dan itu harus diselesaikan langsung oleh Ryder .
__ADS_1
"Kalau gitu biar Bunga saja yang mengurusnya," ucap Ryder. Lebih baik dia menghabiskan waktu bersama Yara dari pada mengurus dokumen itu.
Myra menggelengkan kepalanya. "Kak Bunga kan sedang sibuk mengurus pembangunan aliran air, jadi dia tidak bisa."
Benar juga, Ryder lupa jika sudah menyuruh Bunga untuk mengurus masalah air sebelum dia melakukan pembangunan secara besar-besaran.
"Aku saja yang mengurus dokumen itu, kau bisa tunggu di sini," ucap Zafran tiba-tiba. Dia yang sejak tadi diam memilin angkat bicara membuat Ryder langsung tersenyum senang.
"Benar. Kau bisa mengurus semua dokumen itu, biar aku yang mengurus masalah lain," balas Ryder dengan penuh makna, dan dijawab dengan anggukan kepala Zafran.
Ryder lalu kembali melihat ke arah Myra yang menatap dengan geram. "Kau bisa pergi bersama dengan Zafran, dan katakan pada Pak kades bahwa dia akan menggantikanku." Dia menepuk bahu Zafran.
Myra mengepalkan kedua tangannya dengan kesal. Si*alan, dia sudah tidak bisa lagi mencari alasan untuk tetap memaksa Ryder agar mau pergi bersamanya.
"Si*alan. Sebenarnya kenapa dia tidak mau ikut denganku, apa aku kurang menarik di matanya?" Myra benar-benar merasa marah. Penolakan demi penolakan yang Ryder berikan benar-benar menggores hatinya.
"Kenapa Anda diam, bukannya Anda bilang akan mengerjakan dokumen?"
Zafran menatap heran saat melihat raut wajah Myra, tetapi saat kemudian dia melangkahkan kakinya untuk mengikuti wanita itu.
Setelah keluar dari pabrik, Myra mengajak Zafran untuk pergi ke rumahnya karena mereka akan mengerjakan dokumen itu di sana.
Walau merasa aneh, Zafran tetap diam dan hanya mengangguk saja. Mereka lalu pergi dengan mengandarai sepeda motor milik Myra, tentu saja yang mengemudikannya adalah Zafran.
"Oh yah, kita belum kenalan kan. Namaku Myra, aku anak kepala desa di sini," ucap Mayra saat dalam perjalanan. Dia meletakkan kedua tangannya dipinggang Zafran membuat laki-laki itu menajamkan pandangannya.
"Aku membawa motor ini sangat pelan, jadi kau tidak perlu takut jika akan terjatuh," sahut Zafran dengan tajam membuat Myra langsung melepaskan pegangan tangannya.
"Ma-maaf, Zafran. Aku tidak sengaja." Lirih Myra dengan pelan, merasa pura-pura bersalah padahal sedang menahan kekesalan yang luar biasa.
"Dasar laki-laki si*alan. Berani sekali dia berkata seperti itu padaku, awas saja dia nanti." Myra menggertakkan giginya karena menahan amarah.
__ADS_1
Zafran sendiri hanya diam dan tidak lagi membalas ucapan Myra. Entah kenapa dia merasa sangat tidak nyaman bersama dengan wanita itu, padahal mereka tidak melakukan apa-apa dan hanya berboncengan seperti ini saja.
"Astaga!" Myra memekik kaget saat tiba-tiba Zafran menginjak rem sepeda motor itu secara mendadak membuat kepalanya menghantam kepala bagian belakang laki-laki itu. "Apa yang terjadi sih?" Dia bertanya dengan marah sambil mengusap keningnya yang berdengut sakit.
Tanpa memperdulikan ucapan Myra, Zafran langsung mencagakkan sepeda motor itu dan berlalu turun dari sana untuk menghampiri seorang wanita yang sedang terduduk di pinggir jalan, dan hampir saja tertabrak olehnya.
"Anda tidak apa-apa?" tanya Zafran dengan khawatir, terlihat lutut wanita itu terluka.
Myra yang masih berada di atas motor ikut menghampiri wanita itu. "Apa yang terjadi denganmu, Hana?" Dia bertanya dengan heran.
Hana yang baru selesai belanja ke warung tidak sengaja terpeleset di jalanan berbatu itu hingga membuat kakinya terluka. Itu sebabnya dia terduduk di tempat itu karena belum sanggup untuk berdiri.
"Ma-maafkan saya, Tuan. Sa-saya tidak sengaja jatuh, jadi duduk di sini," jawab Hana dengan pelan.
Zafran menghela napas lega saat mendengarnya, dia pikir wanita itu korban tabrak lari dari seseorang yang tidak bertanggung jawab.
"Tapi tunggu, bukankah dia ini wanita yang tadi malam di rumah mbak Yara?" Zafran baru tanda dengan Hana, wanita yang tadi malam juga berada di rumah yang di tempati oleh Yara.
Hana lalu berusaha untuk bangun sambil menahan sakit di kakinya, dan dibantu oleh Zafran walau hanya memegangi tangannya saja, sementara Myra hanya menatap diam.
"Kakimu terluka lumayan dalam, jadi mungkin kau akan susah untuk berjalan," ucap Zafran.
Hana menatap lukanya dengan sedih. Kenapa pula dia sampai bisa terjatuh seperti ini. Lalu, bagaimana dia pulang sekarang?
"Naiklah ke motor itu, aku akan mengantarmu."
•
•
•
__ADS_1
Tbc.