Takdir Cinta Yang Kau Pilih

Takdir Cinta Yang Kau Pilih
Bab 194. Proses Penyelidikan.


__ADS_3

Hana tercengang mendengar ucapan Vano, sementara Via dan kedua anaknya tampak menganggukkan kepala mendengar perintah dari sang papa.


"Masalah ini bukan hanya tentang Hana dan mereka saja, tapi tentang kemanusiaan. Bisa-bisanya mereka memperlakukan manusia lain seperti binatang, dasar sampah!" sambung Vano dengan penuh kemarahan.


Dada Hana berdegup kencang melihat kemarahan diwajah orangtua Zafran, dia lalu melirik ke arah laki-laki itu dan juga Zayyan. Terlihat kedua lelaki itu juga murka dengan apa yang terjadi padanya.


Dengan cepat Hana beranjak dari sofa lalu membungkukkan tubuhnya di hadapan semua orang membuat mereka terkejut dan merasa heran.


"Apa yang kau lakukan, Hana?" tanya Via sambil berdiri dari sofa.


Hana tetap menbungkukkan tubuhnya bahkan sampai sembilan puluh derajat. "Terima kasih, terima kasih banyak, Tuan. Terima kasih karena sudah bersedia membantu saya, saya benar-benar sangat berterima kasih." Suaranya bergetar dengan lirih.


Vano dan kedua putranya tercengang melihat apa yang Hana lakukan, apalagi wanita itu sampai mengucapkan terima kasih beberapa kali membuat hati mereka berdesir.


Via sendiri langsung menghampiri Hana dan menyuruh wanita itu untuk menghentikan perbuatannya, dan tidak perlu berterima kasih sampai seperti itu karena mereka membantunya dengan tulus.


"Saya tidak bisa membalas kebaikan Anda semua, tapi saya janji saya akan selalu mengingatnya sampai mati. Jika Tuhan memberi kesempatan, maka saya akan berusaha untuk membalasnya walau tidak sebesar bantuan ini," ucap Hana dengan tulus.


Via tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. "Baiklah. Kau memang harus membalas bantuan kami ini, tapi balaslah dengan cara mengurus dirimu sendiri dengan baik. Walau sangat susah, tapi cobalah untuk mengobati luka yang ada di dalam hatimu. Jika kau sudah merasa baik dan bahagia, maka saat itulah kau sudah membalas bantuan kami ini."


Hana langsung memeluk tubuh Via dengan erat membuat wanita itu tercengang. Untuk pertama kalinya dia berani memeluk Via seperti ini karena merasa benar-benar berterima kasih.


Setelah selesai, mereka semua lalu beranjak pergi ke kamar masing-masing untuk mengistirahatkan diri. Jam juga sudah menunjukkan pukul 11 malam, jadi sudah saatnya untuk istirahat.


Di dalam kamar, Zafran sama sekali tidak bisa tidur dan memilih untuk berdiri di balkon sambil menatap langit malam. Sinar rembulan menerpa wajahnya, bersama dengan tiupan angin yang terasa menusuk kulit.


Zafran memejamkan kedua matanya saat kembali mengingat tentang apa yang Hana lakukan tadi, bahkan kini wajah wanita itu sering mondar-mandir dalam benaknya.


"Kenapa aku gila seperti ini sih?" gumam Zafran dengan kesal. Sepertinya dia terlalu hanyut dalam kisah hidup Hana sehingga terus mengingat wanita itu. "Yah, ini pasti karena aku terlalu terbawa emosi. Aku harus segera menyelesaikan masalah wanita itu, setelah selesai aku pasti akan melupakannya." Dia mengusap wajahnya dengan kasar.


Setelah menghabiskan waktu selama satu jam, Zafran kembali masuk ke dalam kamar untuk memaksa akan matanya terpejam. Namun, sebelum itu dia ingin ke dapur untuk mengambil minuman.


Hana yang juga sedang berada di dapur untuk mengambil minuman, tidak sengaja bertabrakan dengan Zafran saat akan keluar dari tempat itu membuat Zafran langsung menangkap tubuhnya yang akan terjatuh ke lantai.

__ADS_1


Grep.


Zafran memeluk tubuh Hana dengan erat karena merasa terkejut saat tidak sengaja bertabrakan dengan wanita itu, tangannya seperti bergerak sendiri untuk menangkap Hana agar tidak terjatuh ke lantai.


Kedua mata Hana membelalak lebar saat tubuhnya berada dalam dekapan Zafran, sementara Zafran juga menatap Hana dengan tatapan terkejut.


Tatapan mereka berdua terkunci selama beberapa saat dengan tubuh yang saling menempel dengan erat. Tidak tahu suara jantung siapa yang saat ini berdegup dengan kencang, yang pasti suaranya sampai terdengar ke telinga mereka berdua.


"Ka-kau tidak apa-apa?" tanya Zafran dengan tergagap.


Hana langsung tersadar dari lamunan saat mendengar suara Zafran. Dengan cepat dia mendorong tubuh lelaki itu lalu memperbaiki posisi berdirinya.


"Ma-maafkan saya, Tuan. Saya tidak sengaja menabrak Anda," ucap Hana sambil menundukkan kepalanya.


Zafran terdiam sambil menatap Hana dengan tajam. Dia sendiri juga tidak sadar dengan keberadaan wanita itu, hingga akhirnya mereka bertabrakan.


"Angkat kepalamu, kau tidak salah apapun," perintah Zafran.


Hana tersentak kaget lalu perlahan mengangkat kepalanya untuk melihat ke arah Zafran membuat mereka kembali bertatapan, tetapi Zafran langsung mengalihkan pandangan darinya.


Zafran mengangguk. "Aku ingin mengambil minum, kau kembalilah ke kamar dan istirahat." Dia lalu masuk ke dapur dan berjalan menuju lemari pendingin.


Hana yang masih memegang sebotol air mineral langsung menyusul langkah Zafran membuat laki-laki itu berhenti. "Ambil ini saja, Tuan. Tadi saya juga ingin mengambil minum." Dia menyerahkan minuman yang ada ditangannya pada Zafran.


Zafran kembali diam sambil menatap botol minuman yang Hana beri membuat wanita itu merasa sedikit canggung. "Aku bisa mengambil minum sendiri kok, itukan minummu." Tolaknya.


"Tidak apa-apa, Tuan. Nanti saya bisa mengambil lagi, tinggal ambil di sana," ucap Hana sambil menunjuk ke arah lemari pendingin.


Zafran tersenyum tipis. Seharusnya kan dia yang bilang begitu, kenapa pula Hana malah memberikan minuman itu padanya? Benar-benar tidak habis pikir.


"Baiklah." Zafran terpaksa mengambil minuman itu karena Hana terus mengulurkan di hadapannya, kemudian dia berbalik dan kembali berjalan menuju kamar.


Hana tersenyum senang karena Zafran mau menerima minuman yang dia beri. Mulai sekarang dia harus melayani dan membantu semua orang karena hanya itulah yang bisa dia lakukan. Kemudian dia kembali mengambil minuman di dalam lemari pendingin dan membawanya ke dalam kamar.

__ADS_1


*


*


Keesokan harinya, sesuai dengan apa yang Vano katakan, Hana dan Via berangkat menuju pusat perceraian regional untuk membuat laporan perpisahan antara Hana dan Dion.


Vano sendiri berangkat ke perusahaan bersama dengan Zafran. Mereka harus membicarakan masalah Hana dengan River dan juga Junior, kedua orang itu pasti bisa menemukan bukti tentang kekerasan yang selama ini Hana alami.


"Saya akan mencari semua buktinya, Tuan," ucap Junior saat sudah mendengar semua cerita tentang Hana.


Vano menganggukkan kepalanya karena merasa senang dengan kesigapan Junior. "Kita harus memasukkan mereka ke dalam penjara, setidaknya mereka harus di hukum walau hanya satu tahun saja."


River dan Junior mengangguk paham mendengar ucapan Vano, sementara Zafran hanya diam sambil mendengarkan apa yang sedang mereka bicarakan.


"Baiklah, untuk sekarang itu saja yang harus kalian lakukan. Lagi pula hukum perpisahan di negara ini sudah berubah mengikuti aturan baru, di mana pasangan boleh berpisah tanpa ada alasan yang berat, seperti perselingkuhan atau sebagainya. Jadi kalau tidak suka, bisa langsung saja bercerai tanpa mencari kesalahan masing-masing pihak," ucap Vano kembali.


Zafran, River, dan Junior tercengang mendengar penjelasan Vano. Mereka baru mengetahui tentang peraturan terbaru itu, karena setahu mereka sangat susah sekali untuk melakukan perceraian di negara ini.


"Jadi kalau nanti kak Ryder sudah tidak suka dengan mbak Yara, dia bisa langsung membuat laporan perpisahan?" tanya Zafran.


Vano terkejut mendengar pertanyaan Zafran, tetapi benar juga. Jika perpisahan semudah itu, maka semua orang akan sangat gampang sekali melakukan perceraian.


"Si*al. Kenapa dulu kita tidak menikahkan mereka di Indonesia saja?" ucap Vano dengan kesal.


Zafran tampak menahan senyumnya saat melihat kekesalan sang papa, sementara River dan Junior hanya saling pandang saja tanpa berani mengucapkan apa-apa. Padahal Vano sendirilah yang memutuskan untuk menikahkan Ryder dan Yara di negara ini.


"Kita harus mengawasi Ryder, awas saja kalau dia menceraikan Yara semudah itu. Aku akan mematahkan lehernya."




__ADS_1


Tbc.


__ADS_2