Takdir Cinta Yang Kau Pilih

Takdir Cinta Yang Kau Pilih
Bab 133. Pembalasan.


__ADS_3

Setelah bicara berdua dengan Yara, Ryder segera mengantar wanita itu pulang ke rumh. Senyum merekah tampak menghiasi wajahnya, terlihat jelas jika saat ini dia sedang bahagia.


"Terima kasih untuk hari ini, Ryder," ucap Yara saat mereka sudah sampai di tempat tujuan.


Ryder mengangguk. "Istirahatlah, hari ini kau pasti sangat lelah." Dia berucap dengan hangat membuat Yara ikut mengangguk.


"Oh yah, nanti malam kami akan mengunjungi rumah kepala desa. Aku harap kau dan Zafran juga ikut karna kami ingin membahas acara perpisahan sebelum kembali ke kota," ucap Yara saat ingat akan rencana mereka malam nanti.


"Tentu saja. Setelah maghrib, kami akan datang ke sini," sahut Ryder.


Yara kembali menganggukkan kepalanya, dia lalu berbalik dan masuk ke dalam rumah setelah mengingatkan Ryder agar hati-hati mengendarai sepeda motor.


Ryder berlalu pergi setelah memastikan Yara masuk ke dalam rumah. Dia memacu motornya sedikit kencang agar bisa lebih cepat sampai ke rumah karena ingin segera mandi dan menelepon kedua orangtuanya.


Sementara itu, di tempat lain terlihat Zafran masih berada di rumah kepala desa. Setelah menunggu setengah jam, akhirnya Myra juga sampai di tempat itu.


Keributan sempat terjadi di antara mereka karena Myra murka akibat ditinggal oleh Zafran, tetapi Zafran sama sekali tidak peduli bahkan mengacuhkan wanita itu.


Sampai akhirnya kepala desa datang dan mencoba untuk menenangkan putrinya, lalu meminta agar Myra bersikap lebih sopan kepada Zafran.


"Kalau kau terus seperti ini, lebih baik saya pergi," ucap Zafran. Kepalanya terasa pusing melihat kemarahan wanita yang tidak penting itu.


Myra mengepalkan tangannya dengan erat. Laki-laki itu benar sangat kurang ajar, dan terus saja menguras emosinya.


"Maafkan putri saya, Zafran. Dia tidak bermaksud untuk berlaku tidak sopan padamu," ucap kepala desa itu sambil melirik Myra dengan tajam.


Dia sudah diperingati oleh Ryder agar memperlakukan Zafran dengan sopan dan baik, jika tidak maka Ryder sendiri yang akan turun tangan.


Zafran menghela napas kasar. Dia lalu segera meminta dokumen yang katanya harus segera dikerjakan, dari pada buang waktu seperti ini.


Dengan menahan kekesalan, Myra terpaksa memberikan dokumen itu karena tatapan tajam yang ayahnya berikan padanya. Rencana yang sudah di susun semuanya hancur berantakan.


"Kau lihat aja Zafran, aku pasti akan membalasmu!" gumam Myra dengan penuh kebencian.


Pak kepala desa lalu mempersilahkan Zafran untuk mengerjakan dokumen itu di ruang kerjanya, sembari menunggu minuman dan makanan ringan siap disajikan.


"Tidak perlu, saya bisa mengerjakannya di sini," tolak Zafran dengan halus. Dia tidak ingin masuk ke dalam rumah itu, apalagi berlama-lama di sana.


"Jangan seperti itu, Nak. Saya tidak enak dengan Ryder dan orang-orang yang melihatnya, saya juga ingin menyambutmu dengan baik."

__ADS_1


Zafran mendessah frustasi. Mau tidak mau dia terpaksa masuk ke dalam rumah karena laki-laki itu membawa-bawa Ryder, dan dia juga harus menjaga nama baik calon kakak iparnya itu.


Beberapa saat kemudian, Zafran sudah berada di ruang kerja laki-laki itu. Dia segera memeriksa dokumen apa yang sebenarnya harus dikerjakan, dan berusaha untuk menyelesaikannya secepat mungkin.


Tidak berselang lama, Myra masuk ke dalam ruangan itu sambil membawa dua cangkir kopi dan sepiring makanan ringan. Dia lalu meletakkannya di meja yang ada di hadapannya Zafran.


Zafran hanya diam sambil melirik ke arah Myra, lalu kembali fokus mengerjakan dokumen itu tanpa berniat untuk membuka suara.


"Silahkan, ayah menyuruhku untuk menyuguhkannya," ucap Myra dengan ketus. Dia lalu duduk di kursi itu untuk memeriksa pekerjaan Zafran.


Zafran tetap diam mengacuhkan Myra. Lagi pula tidak ada untungnya dia menjawab, membuat Myra benar-benar harus kembali menahan diri.


"Ayah akan kembali memarahiku kalau kau tidak mencoba makanan dan minuman ini," ucap Myra kembali berharap Zafran menikmati makanan dan minuman yang sudah dia suguhkan.


Zafran tersenyum sinis. "Itu tidak ada urusannya denganku."


"Si*alan, dasar laki-laki brengs*ek!" Myra hanya berani mengumpat dalam hati, karena jika tidak maka dia juga yang akan diamuk oleh sang ayah.


Setelah hampir satu jam mengerjakan dokumen itu, akhirnya Zafran menyelesaikan semuanya. Dia lalu meletakkan dokumen itu tepat di hadapan Myra yang sedang bermain ponsel.


"Apa sudah siap semua?" tanya Myra dengan curiga.


"Mata digunakan untuk melihat, dan otak digunakam untuk berpikir," jawab Zafran dengan sarkas.


"Apa sudah selesai?" Tiba-tiba kepala desa masuk ke dalam ruangan itu untuk memeriksa keadaan Zafran dan Myra.


Zafran menganggukkan kepalanya, sementara Myra langsung menyerahkan dokumen itu pada sang ayah.


"Sesuai dengan apa yang Ryder katakan, kau benar-benar laki-laki yang pintar dan hebat. Lihat, laporannya sangat rapi sekali," puji kepala desa itu saat melihat pekerjaan Zafran.


Zafran mengucapkan terima kasih atas pujian itu, lalu pamit untuk segera pulang sebelum hari semakin sore.


"Kenapa minuman dan makanannya tidak dicicipi, apa tidak enak?" tanya kepala desa itu saat Zafran sudah akan melangkah pergi. "Maaf, makanan dan minuman kami memang berbeda dengan di kota." Dia menatap sedih.


"Bukan seperti itu, Pak. Saya cuma masih kenyang," bantah Zafran.


Kepala desa itu lalu meminta agar Zafran meminum kopi yang telah tersaji, karena menurutnya tamu tidak boleh pergi sebelum mencicipi hidangan yang disuguhkan.


Dengan cepat Zafran mengambil cangkir berisi kopi itu lalu menenggaknya sedikit, setelahnya dia kembali meletakkan cangkir itu ke atas meja. Terpaksa dia meminumnya sebagai bentuk kesopanan dan agar diperbolehkan pulang.

__ADS_1


"Saya permisi," ucap Zafran kemudian.


Kepala desa lalu mengantar Zafran sampai ke depan rumah, sementara Myra hanya memperhatikan dari jendela sambil tersenyum penuh kemenangan.


"Kena kau. Rasakan pembalasanku," gumam Myra. Dia sengaja memasukkan sesuatu ke dalam minuman Zafran untuk memberi pelajaran pada laki-laki itu.


*


*


Malam harinya, setelah maghrib Ryder bersiap-siap untuk pergi menemui Yara karena mereka akan berkunjung ke rumah kepala desa.


"Kau udah siap Zaf?" tanya Ryder sambil masuk ke dalam kamar Zafran. "Loh, ke mana dia?" Dia lalu kembali keluar saat tidak melihat Zafran di dalam kamar.


"Ada apa, Ryder?" tanya Weny saat dia baru keluar dari dapur.


"Aku mencari Zafran, Nek," jawab Ryder. Padahal sesaat yang lalu laki-laki itu ada di dalam kamar.


Weny langsung menunjuk ke arah dapur membuat Ryder mengernyit bingung. "Dia ada di dalam kamar mandi, katanya perutnya sedang sakit. Makanya tadi nenek buatkan jamu untuknya."


Ryder mengangguk paham. Dia lalu segera masuk ke dapur untuk menghampiri Zafran yang ada di dalam kamar mandi.


"Apa kau baik-baik aja, Zaf?" tanya Ryder sambil menguatkan suaranya.


Zafran yang sedang berada di dalam kamar mandi tampak sangat pucat. Ini adalah ke enam kalinya dia masuk ke dalam kamar mandi setelah sampai ke rumah, sampai rasanya sangat lemas sekali.


"Perutku sakit," sahut Zafran dari dalam kamar mandi.


Ryder menghela napas kasar. Pantas sejak tadi dia merasa kalau Zafran mondar-mandir di depan kamarnya, ternyata sedang sakit perut.


"Ya sudah, kau di rumah saja," ucap Ryder kemudian. Dia lalu segera pergi menemui Yara untuk menjemput wanita itu agar bisa mengobati Zafran.


Dalam perjalanan, tiba-tiba Ryder menghentikan motornya saat melihat seseorang yang dia kenal sedang bicara dengan seseorang.


"Itu bukannya Bayu?" Dia menajamkan pandangannya. "Apa yang dia lakukan di sini? Dan siapa laki-laki yang sedang bersamanya itu?"



__ADS_1



Tbc.


__ADS_2