
Setelah merasa tenang, Yara segera beranjak keluar dari toilet. Namun, sebelum keluar dia memeriksa ponselnya yang tadi sempat bergetar.
Yara langsung merasa lega saat membaca pesan dari Zafran. Sungguh adiknya itu selalu menjadi pahlawan untuknya. "Mbak berhutang banyak padamu, Zaf."
Yara lalu kembali memasukkan benda pipih itu ke dalam tas. Dia memperhatikan penampilannya di depan kaca, lalu sedikit memperbaikinya agar memenangkan taruhan yang Ryder lakukan.
Setelah selesai, Yara bergegas keluar. Dia lalu tersentak kaget saat ada sebuah tangan yang menarik lengannya.
"Lepas!"
Yara menepis tangan Ryder yang ternyata berada di tempat itu, sementara Ryder sendiri terus menatap Yara dengan tajam.
"Hentikan semua ini dan ayo kita pulang, Yara!" ajak Ryder membuat Yara tersenyum simpul.
"Kenapa kau mengajakku pulang, Ryder. Bukankah permainannya belum dimulai?" tanya Yara dengan tajam disertai senyum miring yang membuat hati Ryder kian miris.
"Maafkan aku, Yara. Aku tidak bermaksud untuk-"
"Aku akan kembali ke sana."
Yara langsung meninggalkan laki-laki itu karena enggan untuk mendengar ucapannya. Rasa sakit dihatinya masih terasa sangat jelas, bahkan luka itu semakin menganga lebar saat melihat wajah Ryder.
Ryder melihat kepergian Yara dengan hampa. Dia lalu mengusap wajahnya dengan kasar karena merasa menyesal telah membawa wanita itu ke tempat ini, dia bahkan juga menyesal karena berniat untuk mempertaruhkan Yara.
"Aku tau kau pasti sangat terluka, Yara. Tapi aku sudah menyesalinya, aku bahkan mengubah kesalahanku di detik-detik terakhir." Ryder menghela napas frustasi. Kemudian dia segera beranjak pergi dari tempat itu untuk menyusul langkah Yara.
Kini semua wanita yang ada di tempat itu sudah berbaris rapi di depan panggung, sementara para lelaki duduk di kursi yang sudah di siapkan di sepanjang pinggiran karpet merah yang ada di depan panggung.
__ADS_1
Setiap wanita harus berjalan di karpet merah itu layaknya seorang model terkenal, dan menunjukkan segala pesona dan kecantikan yang mereka miliki pada para lelaki.
Wanita-wanita itu tampak sudah siap dengan penampilan masing-masing, membuat Yara tercengang saat melihat pakaian yang mereka gunakan.
Pakaian minim kurang bahan menjadi andalan mereka untuk menggoda para lelaki, bahkan ada yang sampai memakai lingerie dan bikini super seksi yang menampakkan lekuk tubuh mereka. Tidak ada lagi yang ditutupi selain daerah sensitif dan puncak gundukan sintal itu, selainnya sudah terbuka dan terpampang nyata di hadapan semua lelaki.
Pakaian mereka sangat bertolak belakang sekali dengan apa yang Yara pakai. Saat ini dia memakai busana berwarna sage yang sangat cantik sekali dengan kulit putihnya, bahkan sejak tadi para lelaki terus meliriknya membuat dada Ryder kian membara.
"Baiklah. Masing-masing dari kalian akan berjalan dari ujung sana, dan akan berakhir digaris sana." Shanty menunjukkan jalan yang harus para wanita lewati.
"Tunjukkan semua pesona dan kenikmatan yang kalian tawarkan, kalian juga bisa memberikan ucapan untuk semakin menarik perhatian para lelaki," sambung Shanty.
"Baiklah, kita mulai acara ini dengan meriah."
Semua orang kembali berteriak penuh kesenangan saat mendengar ucapan Alan, tetapi tidak untuk Yara yang hanya diam dengan tatapan tajamnya.
"Kau tunggu saja, Ryder. Kali ini aku tidak akan menahan diri. Seharusnya kau berterima kasih karena kakakku sudah merawat manusia sepertimu, tapi kau malah membalasnya dengan seperti ini. Benar-benar memalukan."
Zafran menghela napas kesal. Dia lalu kembali fokus untuk mengawasi setiap pergerakan sang kakak, juga orang-orang yang ada di tempat itu.
Wanita-wanita yang ada di sana sudah mulai berjalan dengan melenggak-lenggokkan tubuh mereka. Segala upaya dilakukan untuk memikat para lelaki, bahkan ada yang sampai menari er*ot*is membuat gairah para lelaki memuncak.
Yara memejamkan kedua matanya saat melihat semua pertunjukan itu. Keringat dingin mengalir disekujur tubuhnya, dia bahkan tidak mengerti kenapa orang-orang suka melihat penampilan menjijikkan seperti itu.
"Anda baik-baik saja?" tanya Alan yang sedang menghampiri Yara.
Yara membuka kedua matanya lalu menatap laki-laki itu dengan tajam."ya, aku baik." Dia lalu memalingkan wajahnya ke arah lain.
__ADS_1
"Baguslah, tapi Anda tidak perlu melakukan hal seperti mereka. Cukup berjalan biasa saja-"
"Maaf, Tuan Alan. Saya harus memperhatikan para pesaing saya, jadi tidak ada waktu untuk bicara dengan Anda."
Alan langsung menutup mulutnya dengan senyum tipis. Dia tahu jika sebenarnya Yara kesal dengan apa yang terjadi saat ini, jelas saja wanita itu kesal karena memang tidak seperti wanita-wanita lain yang bekerja dengan cara memuaskan para lelaki.
Ryder yang terus memperhatikan Yara mengepalkan kedua tangannya dengan erat. Sejak tadi dia berusaha untuk mendekati dan bicara pada wanita itu, tetapi Yara terus menghindar dan enggan untuk hanya sekedar menatapnya.
"Kalau kau sampai berani macam-macam, aku tidak akan mengampunimu, Alan." Ryder menatap Alan dengan gurat kemarahan.
Saat ini, tersisa 5 orang wanita lagi yang belum menunjukkan penampilan mereka pada para lelaki. Kelima wanita itu bisa dibilang yang paling cantik di antara wanita yang sebelumnya, dan termasuk lah Yara juga.
Yara tengah bersiap untuk berjalan di atas karpet merah tersebut, dia bahkan sudah berdiri di ujung karpet untuk memulai langkahnya.
Tanpa menunggu lama, Yara berjalan di atas karpet itu layaknya seorang model internasional. Dia mengibaskan gaun yang dikenakan seperti sedang fashion show, dan apa yang dia lakukan itu berhasil membuat mata semua laki-laki tidak bisa berpaling.
Yara lalu tersenyum lebar sambil memutar tubuhnya hingga membuat gaun yang dipakai berkibar penuh keanggunan.
"Seperti layaknya berlian dan permata yang sangat mahal, begitu jugalah kecantikan wanita yang tidak dipertontonkan pada sembarangan orang. Hanya laki-laki tertentu yang bisa melihatnya, dan dapat dipastikan. Jika sesuatu yang mewah dan tersimpan dengan baik, akan jauh lebih memuaskan dari pada sesuatu yang dipertontonkan banyak orang."
•
•
•
Tbc.
__ADS_1