
Vano menatap Zafran dengan heran, apalagi dengan penolakan putranya itu saat dia ingin membawa Aidan ke perusahaan.
Sebagai satu-satunya menantu laki-laki di keluarga, tentu saja Aidan punya hak juga atas perusahaan yang Vano miliki. Apalagi Yara sama sekali tidak berminat untuk terjun dalam bisnis, dan putrinya itu meminta agar Aidan saja yang masuk ke dalam perusahaan.
"Jangan masukkan laki-laki itu ke dalam perusahaan, Pa. Aku tidak setuju."
Zafran jelas-jelas menolak apa yang ingin papanya lakukan. Belum apa-apa saja laki-laki itu sudah berani mengkhianati kakaknya, lalu bagaimana jika nanti Aidan sudah diberi bagian dalam perusahaan? Bukan hanya Yara saja yang dikhianati, tetapi perusahaan juga.
"Kenapa, Zaf? Apa kau tidak suka jika kakak iparmu bergabung dengan perusahaan kita?"
Zafran langsung mengangguk. Terserah jika papanya merasa aneh dan bertanya-tanya, yang jelas dia harus menjauhkan Aidan dari seluruh keluarganya.
Vano sendiri menatap putranya dengan bingung. Apakah Zafran terlalu serakah akan perusahaan, sehingga tidak suka jika Aidan campur tangan dengan mereka? Namun, putranya bukan orang yang seperti itu.
"Katakan apa alasannya, jika tidak maka papa akan tetap memasukkan Aidan ke dalam perusahaan."
Zafran berada di ambang kebingungan. Sepertinya dia terjebak dengan apa yang Vano lakukan, dan entah kenapa papanya harus membahas masalah perusahaan sekarang.
"Walaupun dia suami Mbak Yara, tapi laki-laki itu tetap orang luar yang kita tidak tau bagaimana sikap dan karakternya. Aku tidak mau nantinya dia membuat masalah yang akan merugikan perusahaan.
Zafran menjawab dengan logis membuat Vano terdiam. Namun, entah kenapa Vano seperti merasa ada hal lain yang sedang disembunyikan oleh putranya itu.
"Kau tau jika papa bisa mengetahui semua hal yang papa inginkan, bukan?"
Zafran tahu benar ke mana arah pembicaraan papanya saat ini, tetapi dia harus tetap menunggu kabar dari sang kakak.
"Jangan sampai pamanmu turun tangan untuk menyelidikinya. Apa kau sedang bertengkar dengan Aidan?"
Zafran diam karena sudah merasa terpojok. Jika River sudah turun tangan, maka tidak akan ada yang luput dari mereka.
"Aku akan mengatakannya, tapi jika papa berjanji untuk tidak melakukan apapun sebelum mendengar kabar dari Mbak Yara."
Vano menjadi gelisah. Hatinya seketika panas hanya karena Zafran menyebut nama Yara. Mungkinkah sedang terjadi masalah dengan rumah tangga putrinya? Lalu dia mengangguk dengan tidak sabar.
__ADS_1
Zafran menarik napas panjang dan menghembuskannya sebelum menceritakan apa yang terjadi dengan sang kakak. Kemudian dia mengajak papanya untuk duduk sebelum menceritakan apa yang dia dapatkan saat bermain ke apartemen Kenzi, sampai akhirnya dia menceritakan semua yang terjadi.
Wajah Vano memerah dengan napas memburu saat mendengar cerita Zafran. Seketika darahnya mendidih saat mengetahui jika putrinya dikhianati.
"Tunggu, Papa mau ke mana?"
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Vano langsung beranjak dari sofa dengan tangan terkepal. Dia melangkah ke arah pintu keluar membuat Zafran memekik kaget.
Dengan cepat Zafran mencekal tangan sang papa, lalu menahannya. "Papa sudah berjanji untuk tidak akan melakukan apapun, 'kan?"
"Kenapa papa harus diam saat Mbakmu di sakiti seperti itu, hah?" bentak Vano. Siapa yang berbuat salah, siapa pula yang saat ini mendapat amukannya.
"Aku tahu, itu sebabnya aku langsung menghajarnya tadi. Tapi, Papa juga harus memikirkan bagaimana perasaan Mbak Yara. Dia pasti sedang sangat terluka sekarang,"
"Si*al.
Buak.
"Telpon pamanmu dan suruh dia ke sini sekarang juga."
Vano lalu berbalik dan berjalan cepat ke arah tangga membuat Zafran menghela napas kasar. Dia lalu segera menghubungi River dan menyuruh pamannya untuk datang menemui sang papa saat ini juga.
*
*
*
Keesokan paginya, Yara terbangun saat mendengar suara panggilan seseorang. Dia mengerjapkan kedua matanya yang membengkak, lalu beranjak bangun dari lantai karena dia tertidur di tempat itu.
"Sebentar, Bu!"
Ternyata mertuanya lah yang memanggil. Dengan cepat Yara masuk ke dalam kamar mandi untuk membasuh wajah dan juga menggosok gigi. Setelah selesai, Yara bergegas untuk keluar menemui sang mertua.
__ADS_1
"Ya, Bu. Ada apa?" tanya Yara setelah membuka pintu kamarnya.
Nova terdiam di hadapan Yara saat melihat wajah sembab dan sendu menantunya itu. Hatinya ikut merasa sesak dan sedih dengan apa yang putranya lakukan, tetapi setelah bicara dengan Aidan. Kini dia sedikit mengerti kenapa laki-laki itu sampai berselingkuh.
"Kau baik-baik saja, Nak?"
Yara mengangguk dengan mengulas senyum tipis. "Aku baik-baik saja, Bu. Maaf karena aku bangun terlambat."
"Tidak apa-apa. Sekarang mandi dan turunlah untuk sarapan, Ibu sudah siapkan makanan di bawah."
Yara kembali mengangguk dan masuk ke dalam kamar. Dia mengusap dadanya yang kembali berdenyut sakit, hingga setiap luka yang dia rasakan seperti semakin lebar saat dia menarik napas.
Setelah bersiap selama setengah jam, Yara sudah tampak lebih segar walau wajah dan matanya masih tampak sembab. Dia lalu melangkah turun menuju dapur untuk menemui sang mertua.
Langkah Yara terhenti saat melihat Aidan duduk di kursi makan dengan menatap ke arahnya. Laki-laki itu tampak sangat kacau balau, bahkan pakaiannya masih yang semalam karena Aidan memang belum masuk ke dalam kamar.
"Duduklah, Yara. Kita sarapan bersama."
Yara mengangguk dan duduk di samping Aidan. Dia menepis segala rasa sakit yang mendera di hadapan sang mertua, lalu melayani sang suami seperti yang biasa dia lakukan.
Aidan melirik Yara dengan sendu. Sungguh dia sangat menyesal sekali karena telah menyakiti sang istri, bahkan dia merasa jika hal terbod*oh yang dia lakukan selama hidup adalah menduakan cinta Yara.
Setelah selesai sarapan, Nova mengajak Yara untuk bicara di dalam kamarnya. Tentu saja Yara mengiyakan ajakan mertuanya itu.
"Nak." Mona menggenggam kedua tangan Yara membuat Yara menatapnya dalam. "Ibu tau apa yang Aidan lakukan sangat melukai hatimu, tapi bisakah kau memaafkannya?"
•
•
•
Tbc.
__ADS_1