
Ryder terus menatap ke arah Bayu yang sedang berbicara dengan dua orang lelaki yang tidak dia kenal, lalu tiba-tiba Bayu berbalik dan terkejut saat melihat keberadaannya.
"Ryder?" seru Bayu dengan wajah terkejut saat melihat keberadaan Ryder. Dia lalu kembali berbicara pada dua orang lelaki itu, sementara Ryder hanya diam di tempat sambil terus menatap tajam ke arah mereka.
Bayu lalu beranjak menghampiri Ryder setelah menyelesaikan urusannya. "Apa yang kau lakukan di sini, Ryder?" Dia bertanya dengan heran.
"Aku ingin menjemput Yara, jadi dari jalan ini agar cepat sampai," jawab Ryder, terlihat Bayu mengangguk-anggukkan kepalanya. "Kau sendiri ngapain di sini, dan siapa mereka?" Dia melirik ke arah dua orang lelaki tadi yang sudah berlalu pergi dari tempat itu.
Bayu lalu mengatakan jika mereka adalah temannya yang sedang berkunjung ke desa ini, dan mereka berasal dari kota. Itu sebabnya mereka langsung pulang karena takut hari semakin malam.
Ryder terdiam. Seingatnya Bayu pernah berkata jika tidak punya teman di daerah ini, lalu bagaimana mungkin laki-laki itu punya teman di kota?
"Kau yakin mereka temanmu?" tanya Ryder kembali.
Bayu mengangguk. "Tentu saja, mereka memang benar-benar temanku. Apa kau mengenalnya?"
"Tidak," jawab Ryder sambil menggelengkan kepalanya. Dia lalu pamit untuk pergi ke rumah Yara sebelum membuang banyak waktu.
Ryder kembali naik ke atas motornya lalu melaju pergi dari tempat itu, sementara Bayu masih tetap berada di sana sambil menatap Ryder sampai laki-laki itu menjauh.
"Hah. Hampir saja," gumam Bayu sambil menghela napas lega. Dia mengusap dadanya yang berdebar kencang, karena merasa tegang dengan apa yang terjadi beberapa saat yang lalu. "Aku harus lebih hati-hati lagi." Dia lalu bergegas pergi dari tempat itu karena masih ada banyak hal yang harus dia kerjakan.
Beberapa saat kemudian, Ryder sudah sampai di rumah yang Yara tempati. Dia langsung memanggil wanita itu, sementara Yara sedang makan bersama teman-temannya.
"Astaghfirullah, maaf, Ryder. Kami masih makan malam," ucap Yara saat sudah membukakan pintu untuk Ryder. Dia merasa tidak enak hati karena belum bersiap untuk ke rumah kepala desa.
"Tidak papa-papa, Yara. Aku datang bukan untuk mengajakmu ke sana, tapi untuk menjemputmu," jawab Ryder.
Yara mengernyitkan kening bingung. Sesaat kemudian dia tersentak kaget saat mendengar ucapan Ryder bahwa adiknya sedang sakit perut.
"Ka-kalau gitu tunggu sebentar, aku mau mengambil peralatan dulu," pinta Yara. Dia lalu berlari masuk ke dalam rumah setelah melihat anggukan kepala Rayder, membuat teman-temannya merasa heran dengan apa yang dia lakukan.
Lewis segera menghampiri Ryder untuk bertanya apa yang sedang terjadi, sekalian mengajak laki-laki itu untuk makan malam bersama mereka.
"Terima kasih. Saya datang ke sini untuk menjemput Yara, karena saat ini Zafran sedang sakit," ucap Ryder.
"Ya Tuhan, dia sakit apa?" tanya Lewis dengan khawatir.
__ADS_1
Ryder lalu mengatakan jika Zafran sedang sakit perut. Kemungkinan laki-laki itu salah makan karena entah sudah berapa kali bolak-balik kamar mandi.
"Baiklah, Dokter Yara pasti bisa memeriksanya sendiri. Saya do'akan semoga cepat sembuh," ucap Lewis kemudian.
Ryder menganggukkan kepalanya. Dia lalu menoleh ke arah Yara yang sudah kembali sambil membawa tas berisi alat-alat medis dan obat-obatan.
Mereka berdua lalu pergi dari tempat itu menuju rumah kakek Domi untuk memeriksa keadaan Zafran. Ryder melajukan motornya sedikit kencang agar bisa lebih cepat sampai, sementara Yara hanya diam dengan perasaan khawatir memikirkan keadaan sang adik.
Tidak berselang lama, mereka sampai juga ke tempat tujuan. Yara segera turun dari motor dan berlalu masuk ke dalam rumah sambil mengucap salam, meninggalkan Ryder yang masih memakirkan motornya.
"Ya ampun, dia cepat sekali," seru Ryder sambil menggelengkan kepalanya. Dia lalu ikut masuk ke dalam rumah mengikuti Yara yang sudah masuk lebih dulu.
"Loh, Mbak?" Zafran yang sedang berbaring di atas ranjang karena merasa lemas, seketika langsung duduk karena terperanjat kaget saat melihat kedatangan sang kakak.
"Apa yang terjadi, Zafran? Kata Ryder kau sakit perut," tanya Yara sambil menghela napas kasar.
Zafran menggelengkan kepalanya. "Aku juga tidak tahu, Mbak. Tiba-tiba aja perutku sakit."
Yara menatap Zafran dengan heran. Dia lalu meminta sang adik untuk kembali berbaring agar dia bisa memeriksa bagaimana kondisinya.
"Perutku sudah tidak sesakit tadi karena aku minum jamu buatan nenek," ucap Zafran disela-sela pemeriksaan. "Jadi Mbak gak perlu khawatir."
Zafran lalu terdiam dan memilih untuk mengikuti ucapan sang kakak, sementara Ryder hanya diam diambang pintu sambil memperhatikan apa yang Yara lakukan.
Beberapa saat kemudian, pemeriksaan sudah selesai dilakukan dan Yara kembali menyimpan peralatan medisnya ke dalam tas.
"Sepertinya kau salah makan, Zaf. Itu sebabnya perutmu menjadi sakit dan terus-menerus buang air besar," ucap Yara sambil menatap Zafran dengan tajam. Padahal adiknya sudah dewasa, tetapi bisa-bisanya makan sembarangan sampai terkena diare seperti ini.
"Salah makan apa? Aku aja gak makan apa-apa tadi siang," bantah Zafran. Jangankan salah makan, dia bahkan melewatkan makan siang gara-gara harus berurusan dengan wanita menyebalkan bernama Myra.
"Tunggu, gak makan kau bilang?" pekik Yara dengan tajam. "Bagaimana bisa kau melewatkan makan siang?" Dia merasa murka. Makan adalah hal paling penting yang tidak boleh untuk dilewatkan.
Zafran terdiam. Dia melirik ke arah Ryder yang juga sedang meliriknya, lalu mereka seperti sedang bicara melalui telepati agar tidak memberitahu Yara tentang pekerjaan yang harus dia kerjakan siang tadi untuk menggantikan Ryder. Apalagi menyangkut masalah Myra.
"Kenapa kalian lirik-lirikan?" tanya Yara dengan tajam membuat tatapan mata Zafran dan Ryder terputus. "Apa ada sesuatu yang kalian sembunyikan dariku?" Dia menatap kedua lelaki itu dengan curiga.
"Tidak, Mbak," bantah Zafran sambil menggelengkan kepalanya. "Tadi siang aku mewakili Ryder mengurus beberapa berkas bersama kepala desa, itu sebabnya aku sampai lupa makan." Dia menjawab dengan jujur, tetapi tidak jujur seratus persen.
__ADS_1
Yara menghela napas lega. Dia pikir ada hal aneh atau pun membahayakan yang mereka lakukan. "Tapi perutmu sakit bukan karena tidak makan, tapi karna kau makan atau minum sesuatu yang membuat pencernaanmu bermasalah." Ucap Yara kemudian.
Mendengar ucapan sang kakak, membuat Zafran mengingat akan sesuatu yang dia lakukan tadi. "Si*alan! Apa perutku sakit karena minum kopi buatan wanita sundel itu?" Dia menggertakkan gigi saat baru menyadari jika Myra pasti memasukkan sesuatu ke dalam minumannya. Pantas saja wanita itu memaksanya untuk meminum atau memakan apa yang Myra suguhkan.
"Ada apa, Ryder? Kenapa kau malah melamun?" tegur Yara sambil menepuk bahu sang adik.
Zafran terkesiap, dengan cepat dia tersenyum agar sang kakak tidak curiga. "Tidak apa-apa, Mbak. Semoga besok perutku sudah tidak sakit lagi." Dia mencari alasan.
Yara lalu memberikan obat pada Zafran dan menyuruh laki-laki itu rutin meminumnya, juga kembali mengingatkan agar Zafran tidak lagi lupa makan.
Setelah selesai, Ryder dan Yara lalu kembali pergi ke rumah di mana para petugas medis yang lain berada karena harus segera berkunjung ke rumah kepala desa. Zafran tidak diperbolehkan ikut karena harus banyak istirahat, padahal laki-laki itu sudah merasa jauh lebih baik.
"Dasar wanita sundel. Berani sekali dia melakukan ini padaku!" gumam Zafran dengan kesal. "Awas aja dia." Dia benar-benar merasa emosi.
Zafran lalu memutuskan untuk duduk di teras rumah sambil menikmati udara malam yang terasa sejuk. Tidak berselang lama, datanglah kakek Domi yang baru pulang dari masjid.
"Assalamu'alaikum."
"Wa'laikum salam Kek." Zafran langsung menjawab salam dari kakek Domi, tidak lupa menyalim tangan laki-laki tua itu.
"Apa yang kau lakukan di sini Zafran, kenapa tidak istirahat?" tanya kakek Domi sambil mendudukkan tubuhnya ke kursi yang ada di samping Zafran.
"Tubuhku semakin terasa sakit kalau terus istirahat, Kek. Lagi pula duduk di sini lebih enak dan nyaman, anginnya juga sangat sejuk," sahut Zafran.
Domi tersenyum. Desanya ini memang sangat sejuk karena masih asri dan jauh dari perkotaan. "Oh ya, apa Ryder sudah pergi? Tadi kakek melihat Bayu, kakek kira dia juga ikut bersama Ryder ke rumah kepala desa."
Zafran mengangguk. "Ryder sudah pergi, baru aja. Tapi aku tidak tahu Bayu ikut atau enggak. Memangnya Kakek lihat dia di mana?"
Domi lalu mengatakan jika melihat Bayu masuk ke wilayah pabrik bersama dengan dua orang lelaki, tetapi dia tidak bisa mengenali siapa laki-laki yang bersama dengan Bayu.
"Untuk apa dia malam-malam begini ke pabrik?" tanya Zafran dengan heran. Dia sempat mendengar dari Ryder jika pabrik sudah tutup sebelum maghrib, lalu kenapa Bayu pergi ke sana?
"Mungkin ada pekerjaan yang harus dia selesaikan."
•
•
__ADS_1
•
Tbc.