
Zafran terdiam saat mendengar ucapan sang papa, sementara Vano menghela napas kasar melihat apa yang putranya lakukan. Kemudian dia melirik ke arah Via seolah menyuruh istrinya untuk bicara.
"Apa yang papamu katakan benar, Nak. Bagaimana kalau suaminya marah dan tidak terima dengan apa yang kau lakukan ini?" ucap Via dengan lembut.
"Aku mengerti, Ma," sahut Zafran.
Sebenarnya Zafran sangat sadar sekali dengan apa yang sedang dia lakukan saat ini, dan dia paham jika tidak seharusnya membawa Hana. Namun, dia juga merasa tidak tega membiarkan wanita itu. Entah kenapa sosok Hana sangat mengusik hatinya dan membuat cemas.
"Aku hanya merasa kasihan dengannya. Saat melihatnya, aku teringat dengan kakak. Aku seperti melihat kakak dalam dirinya," sambung Zafran.
Vano dan Via langsung terdiam saat mendengar ucapan Zafran, tidak disangka putra mereka akan mengatakan hal seperti itu.
Zafran lalu mengatakan tentang perilaku suami Hana saat dia masih berada di desa dulu, juga perilaku suami Hana saat mereka beberapa kali bertemu. Keadaan menyedihkan itu membuatnya teringat dengan penderitaan sang kakak, walau kakaknya dulu menderita karena sebuah pengkhianatan, sementara dia menduga jika Hana depresi karena hinaan dan cacian Dion.
Via dan Vano merasa tertegun mendengar penjelasan Zafran, karena memang tidak tahu bagaimana sikap suami dari wanita itu. Namun, semua yang Zafran lakukan ini tetaplah salah, tetapi mereka juga bingung harus bagaimana mengatasinya.
"Sudahlah, untuk hari ini biarkan dia istirahat dulu. Setelah itu baru kita pikirkan bagaimana baiknya," ucap Via. Hanya itulah keputusan yang bisa dia ambil karena harus membicarakan masalah ini dengan suaminya secara empat mata. "Jangan bertanya apapun padanya, biarkan dia melupakan masalahnya walau untuk sejenak. Kau dengar itu, Zayyan?"
Zayyan langsung menganggukkan kepalanya sambil cengengesan saat mendapat ultimatum dari sang mama, kemudian mereka semua bubar dari tempat itu dan kembali mengerjakan aktivitas masing-masing.
Sementara itu, di tempat lain terlihat Dion sedang mengamuk di rumahnya karena tidak dapat menemukan Hana di mana pun. Padahal dia sudah mencari ke tempat-tempat terdekat yang sering dikunjungi oleh wanita itu, tetapi tetap saja tidak biaa ditemukan.
"Brengs*ek! Sebenarnya dia ada di mana sih?" umpat Dion dengan kesal sambil membanting ponsel yang ada ditangannya ke lantai, hingga menyebabkan suara benturan yang cukup keras.
"Apa yang kau lakukan?" teriak Reny sambil mengusap dadanya yang berdebar kencang akibat terkejut dengan apa yang putranya lakukan. "Kenapa kau marah-marah seperti ini sih? Seharusnya kau senang karena wanita pembawa si*al itu sudah pergi dari rumah kita, akhirnya dia sadar bahwa tidak ada tempat di rumah ini untuknya." Dia berucap dengan penuh kebencian.
__ADS_1
Dion menatap sang mama dengan tajam saat mendengar apa yang mamanya ucapkan, membuat Reny langsung menelan salivenya dengan kasar.
"Ada di mana dia sekarang?" gumam Dion sambil mengusap wajahnya dengan kasar. Dia merasa benar-benar kesal dan ingin sekali menghajar Hana saat ini juga. Namun, di sisi lain dia juga merasa khawatir dan cemas dengan keadaan wanita itu saat ini.
Tanpa mengucapkan apa-apa, Dion langsung pergi dari tempat itu untuk kembali mencari keberadaan Hana. Jika kali ini dia tidak menemukannya, maka dia akan melaporkannya pada polisi.
Reny berdecak kesal melihat kepergian Dion. Sebenarnya untuk apalagi sih, putranya mencari wanita si*alan itu? Sudah bagus-bagus pergi, tetapi kenapa dicari lagi?
"Si*alan. Sebenarnya apa hebatnya wanita itu, kenapa Dion tidak bisa melepaskannya?" ucap Reny dengan kesal. Selama ini putranya memang tidak pernah melarang atau pun marah saat dia berlaku jahat pada Hana, tetapi Dion juga enggan untuk berpisah dengan wanita itu. Sungguh dia tidak tahu apa yang sebenarnya putranya inginkan. "Sepertinya aku harus mencari wanita lain untuk Dion, setelah itu dia pasti akan benar-benar melupakan wanita kampung itu." Dia tersenyum sinis.
Dengan cepat Reny menghubungi beberapa teman sosialitanya yang memiliki anak gadis agar bisa dijodohkan dengan Dion, karena sampai mati pun dia tidak akan setuju jika putra semata wayangnya bersama dengan Hana. Bahkan dulu dia sudah menentang pernikahan mereka, tetapi kalah dengan kekeras kepalaan Dion.
***
Malam harinya, tepat pukul 7 Via mengetuk pintu kamar yang ditempati Hana karena ingin mengajak wanita itu untuk makan malam bersama dengan keluarganya.
Hana yang masih tidur akibat kelelahan langsung mengerjapkan kedua matanya saat mendengar suara panggilan seseorang, dengan cepat dia melompat turun dari ranjang lalu mendesis karena menahan sakit dikakinya.
"Astaga, sudah gelap begini," gumam Hana saat melihat ke arah luar jendela. Dia lalu melirik ke arah jam yang tergantung didinding. Kedua matanya langsung membelalak lebar saat melihat jika sekarang sudah pukul tujuh malam.
"Ba-bagaimana ini?" gumam Hana kembali sambil bergetar. Dia merasa sangat takut karena sudah tidur lama sekali, bahkan sampai hampir empat jam.
"Ayo kita makan dulu, Hana! Setelah itu kau bisa tidur lagi," ucap Via kembali di luar kamar.
Tubuh Hana terjingkat kaget saat kembali mendengar suara seseorang. Dengan menahan takut, dia bergegas membuka pintu itu untuk menemui orang tersebut.
__ADS_1
Via langsung tersenyum lebar saat pintu kamar itu terbuka, terlihat Hana masih memakai baju yang sama saat wanita itu datang tadi, dan kedua mata Hana sangat sembab karena terlalu lama tidur.
"Maaf kalau tante membangunkanmu, Hana," ucap Via dengan lembut. Dia merasa bersalah sudah mengganggu tidur Hana, tetapi wanita itu tetap harus makan malam.
"Ti-tidak, Nyonya. Saya yang salah, saya mohon maafkan saya," pinta Hana sambil menundukkan kepalanya. Kedua tangannya saling bertautan dengan erat dan gemetar.
Via langsung menggenggam kedua tangan Hana saat melihat ketakutan yang sangat besar diwajah wanita itu, membuat Hana tersentak kaget dan melihat ke arah Via.
"Tidak, Nak. Jangan meminta maaf seperti ini, tante sama sekali tidak marah padamu," ucap Via dengan sendu. Hatinya ikut sakit melihat tatapan sayu wanita itu.
Hana terdiam mendengar ucapan Via. Lagi-lagi untuk pertama kalinya dia diperlakukan seperti ini oleh wanita itu, padahal biasanya semua orang akan marah dan langsung memakinya jika dia terlambat bangun.
"Ma-maaf, Nyonya. Saya, saya sudah tidur terlalu lama." Lirih Hana.
Via tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. "Tidak apa-apa, setiap orang yang lelah pasti akan tertidur lama." Dia mengusap punggung tangan Hana dengan lembut. "Oh yah, tante ingin mengajakmu makan malam bersama. Zafran dan yang lainnya sudah menunggu di meja makan, ayo segera bersiap!"
Seketika kedua mata Hana membulat sempurna karena merasa terkejut dengan ajakan Via, dia merasa tidak percaya jika diajak makan malam bersama oleh mereka semua.
"A-anda mengajak saya makan malam bersama?"
•
•
•
__ADS_1
Tbc.