
Setelah acara akad selesai, semua keluarga mengucapkan selamat kepada kedua mempelai secara bergantian. Semua orang ikut merasa bahagia dengan bersatunya River dan Jean, terutama Yara dan keluarganya yang sudah menganggap River sebagai keluarga mereka sendiri.
"Selamat untuk kalian, River, Jean," ucap Vano dengan tatapan bahagia, sungguh baru dia merasa terharu karena baru pertama kali melihat kebahagiaan yang sangat besar di wajah River.
River mengangguk. "Terima kasih, Tuan. Berkat Anda saya bisa menikah dengan wanita yang saya cintai." Seumur hidup River tidak akan pernah melupakan semua kebaikan Vano berikan padanya.
Jean juga mengucapkan banyak terima kasih pada Vano, apalagi laki-laki itu sudah menerima putranya dengan baik, dan memberikan pekerjaan yang jauh lebih aman dari pada pekerjaan yang selama ini dilakukan oleh Junior.
Vano tergelak mendengar ucapan sepasang pengantin baru itu. Padahal dia tidak melakukan apa-apa, tetapi mereka malah berterima kasih padanya.
"Jangan berterima kasih padaku, tapi berterima kasihlah pada Allah dan juga diri kalian sendiri. Dia yang sudah menyatukan kalian, dan diri kalian sendirilah yang telah menerima keberadaan satu sama lain," ucap Vano. "Aku merasa benar-benar bahagia melihat kebahagiaan di wajah kalian, jadi tetaplah seperti ini. Jika kalian nanti tidak bahagia, maka aku juga tidak akan bahagia." Dia berucap dengan tulus.
River menganggukkan kepalanya, kemudian mereka saling berpelukan dengan erat. Walau posisi mereka atasan dan bawahan, tetapi persahabatan yang terjalin di antara keduanya sangat kuat. Kepercayaan, kesetiaan, dan ketulusan tertancap juat dalam lubuk hati mereka yang terdalam.
Dari kejauhan, Zafran dan Junior tersenyum senang melihat orangtua mereka. Mereka juga ingin agar hubungan yang baru terjalin ini sama dengan hubungan orangtua mereka, untuk itulah mereka berjanji pada diri masing-masing untuk menjaga kepercayaan dan kesetiaan yang ada, terutama Junior yang sudah bersumpah akan selalu setia pada tuannya.
Kedua pengantin lalu naik ke pelaminan agar semua tamu dapat melihat mereka, walaupun hanya terdiri dari keluarga dan teman-teman saja.
Acara pernikahan itu berlangsung dengan lancar dan penuh khidmat. Apalagi terpancar kebahagiaan di wajah semua orang membuat suasana terasa sangat nyaman dan meriah.
***
Sore harinya, semua tamu undangan sudah mulai meninggalkan lokasi pesta karena memang hanya dilakukan sampai sore saja. Semua keluarga juga sudah berkumpul untuk memberikan hadiah pada River dan Jean sebelum meninggalkan tempat itu.
"Terimalah, ini adalah hadiahku dan Via. Aku harap kalian menerimanya dengan penuh kebahagiaan, dan tidak ada penolakan sedikit pun," ucap Vano sambil memberikan sebuah kotak berurukar kecil kepada River.
River mengangguk. Dengan cepat dia mengucapkan terima kasih pada Vano dan Via atas hadiah itu, begitu juga dengan Jean yang sudah tidak sabar untuk membukanya.
"Bukalah," ucap River sambil memberikan kotak itu pada sang istri.
Dengan semangat Jean membuka kotak hadiah pemberian Vano itu, lalu terlihatlah dua buah kunci di dalamnya.
"Tuan, ini-" River membulatkan kedua matanya sambil melihat ke arah Vano, dia benar-benar kaget dengan hadiah yang tuannya itu berikan.
"Ini, ini kunci rumah, River?" tanya Jean sambil mengambil kunci itu dari dalam kotak.
__ADS_1
River menganggukkan kepalanya membuat Jean langsung melototo tidak percaya, bahkan tangan wanita itu langsung gemetaran karena sedang memegang kunci tersebut.
"Terimalah. Rumah itu berada tidak jauh dari rumahku, agar nantinya kalian bisa sering berkunjung menemuiku," ucap Vano.
River dan Jean benar-benar tidak habis pikir dengan hadiah yang Vano berikan. Padahal hadiah itu masih belum semuanya, kemungkinan mereka akan pingsan jika nanti masuk ke dalam rumah itu.
Vano memang memberikan rumah untuk mereka, tetapi sebenarnya bukan hanya rumah saja, melainkan semua perlengkapan yang ada di dalam rumah itu. Dia bahkan sampai menyewa pembantu dan tukang kebun untuk membersihkan rumah itu, dan sudah dibayar sampai seumur hidup.
Yara dan Zafran pun tidak mau kalah. Mereka segera memberikan hadiah yang sudah disiapkan untuk River dan Jean. Yaitu dua tiket bulan madu ke paris dari Yara, sedangkan Zafran memberi hadiah sebuah tiket liburan dengan menggunakan kapal pesiar yang harganya sangat fantastis.
Lalu giliran Ryder dan Zayyan yang memberikam hadiah untuk mereka. River dan Jean terpana saat melihat keindahan dan kemewahan hadiah dari Ryder, juga hadiah Zayyan yang berupa tiket untuk masuk ke wahana permaianan.
"Zayyan, kenapa kau ngasi tiket ke wahana permainan?" tanya Vano dengan heran. Bisa-bisanya laki-laki itu memberi hadiah yang tidak masuk akal untuk acara pernikahan.
Semua orang juga terkikik geli saat melihat hadiah Zayyan, sementara Zayyan sendiri merasa tidak peduli dan malah memamerkannya.
"Aku memberikan tiket ke wahana permaianan ini untuk anak mereka nanti, dan mereka juga bisa ke sana saat sedang stres dengan masalah pekerjaan ataupun rumah tangga," ucap Zayyan menjelaskan. "Lalu tiket ini juga tidak akan pernah mati, jadi akan terus aktif sampai pemegang tiketnya yang mati." Sambungnya kemudian.
Wah, semua orang lalu berdecak kagum saat mendengar jika tiket itu tidak akan pernah mati. Namun, mereka juga tertawa karena merasa lucu dengan ucapan terakhir laki-laki itu.
Semua keluarga Jean hanya bisa menatap takjub dengan hadiah-hadiah itu, dan tentu saja mereka merasa insecure karena hanya memberi hadiah piring dan gelas saja. Bagaikan langit dan bumi jika disejajarkan dengan hadiah mereka.
"Hah!"
Semua orang langsung merebahkan tubuh lelah mereka ke atas sofa, termasuk Yara yang menyandarkan tubuhnya ke sofa itu.
"Pernikahan River sudah selesai, dan tiga hari lagi pernikahanmu akan dilangsungkan, Nak. Apa semua persiapannya sudah selesai?" tanya Via yang sedang duduk di samping Yara.
Yara yang sempat terpejam langsung melihat ke arah sang mama. "Alhamdulillah sudah selesai 80 persen, Ma. Besok aku dan Zafran akan pergi ke butik untuk fitting gaun, bersama dengan Ryder juga."
Via menghela napas lega. Dia takut persiapannya tidak selesai saat menjelang hari H nanti, dan pasti akan membuat mereka semua merasa malu.
"Masalah hidangannya bagaimana, Ma?" tanya Yara.
Via lalu mengatakan bahwa semua hidangan sudah selesai. Mulai dari lauk pauk, minuman, pencuci mulut, dan segala hal yang masuk dalam daftar makanan.
__ADS_1
Pernikahan Yara dan Ryder akan diadakan di rumah Vano sendiri. Dia tidak menyewa hotal bukan karena tidak mampu, tetapi halaman di rumahnya sendiri lebih dari cukup untuk mengadakan resepsi pernikahan.
Halaman itu nanti akan disulap dengan secantik dan semewah mungkin, hingga semua mata akan menatap kagum dengan pernikahan itu walaupun ini bukan kali pertama Yara menikah.
*
*
Sesuai dengan ucapan Yara malam tadi, hari ini dia dan Zafran pergi mengunjungi butik. Tidak lupa bersama dengan Ryder juga.
Semua gaun untuk Yara sudah selesai dibuat, begitu juga dengan pakaian Ryder. Mereka segera mencobanya untuk memastikan bahwa pakaian itu nyaman dan pas untuk dikenakan.
Untuk pakaian keluarga juga sudah siap, dan semua langsung diantar ke rumah Yara agar bisa langsung dicoba oleh semua orang.
Setelah selesai, mereka lalu pergi salah satu klinik kecantikan agar Yara mendapatkan treatmen disekujur tubuhnya. Bukan hanya Yara, Ryder dan Zafran juga melakukan treatmen di tempat itu agar merasa lebih rileks dan segar.
"Dokter Yara?"
Yara yang baru masuk ke dalam klinik kecantikan itu terkejut saat melihat keberadaan Hana, yaitu gadis yang berasal dari desa Hyla.
Bukan hanya Yara saja yang merasa terkejut, tetapi Ryder dan Zafran juga. Mereka tidak menyangka jika akan bertemu dengan gadis itu di tempat ini.
"Hana?" Yara segera menghampiri Hana yang sedang tersenyum ke arahnya. "Kau tinggal di kota ini?" Dia bertanya dengan kaget.
Hana menganggukkan kepalanya. "Iya, Dokter. Saya sudah menikah dan tinggal di sini."
Yara langsung mengucapkan selamat atas pernikahan Hana. Tidak disangka jika ternyata wanita itu sudah menikah dan tinggal di kota yang sama dengannya.
"Bagaimana kabar-"
"Hana, kesini kamu!"
•
•
__ADS_1
•
Tbc.