Takdir Cinta Yang Kau Pilih

Takdir Cinta Yang Kau Pilih
Bab 151. Kabar Baik Dari River.


__ADS_3

Keesokan paginya, Yara dan Zafran mengantar Ryder ke bandara bersama dengan kakek Domi dan nenek Weny juga. Pesawat mereka akan berangkat tepat pukul 9 pagi, dan sekarang sudah jam 8 lewat 45 menit.


"Kabarin kalau sudah sampai yah, Ryder. Hati-hati di jalan," ucap Yara.


Ryder menganggukkan kepalanya. Dia juga berpesan agar Yara selalu hati-hati, juga menyuruh agar Zafran selalu menjaga kakaknya itu.


"Iya-iya. Selama ini kan memang aku yang selalu menjaga mbak Yara," ucap Zafran.


Ryder tergelak sambil menepuk bahu Zafran, dia lalu pamit pada laki-laki itu dan akan segera kembali lagi untuk menemui mereka.


Yara dan Zafran juga menyalim tangan kakek Domi dan nenek Weny, tidak lupa mengucapkan hati-hati dan mendo'akan agar mereka sampai ke tempat tujuan dengan selamat.


Setelah mengantar Ryder dan yang lainnya, Zafran lalu mengajak sang kakak untuk singgah sebentar ke perusahaan karena ada sesuatu yang harus di ambil.


"Sudah lama sekali mbak gak ke sini," ucap Yara saat memasuki lobi perusahaan sang ayah, dia bahkan tidak ingat kapan terakhir kali datang ke perusahaan.


Semua karyawan langsung menyapa Zafran dengan ramah saat melihat kedatangannya, sementara banyak di antara mereka yang tidak tahu tentang Yara karena memang wanita itu tidak pernah datang ke perusahaan.


"Mbak mau ikut aku ke ruangan, atau mau ke ruangan papa?" tanya Zafran saat berada di dalam lift.


Em ... Yara berpikir sejenak. Lalu dia memutuskan untuk ke ruangan sang papa karena memang Zafran hanya sebentar saja di ruangannya.


Setelah keluar dari lift, Yara segera berjalan menuju ruangan sang papa sementara Zafran ke ruangannya sendiri.


"Nona?" River yang baru saja mengecek sesuatu di rooftop merasa kaget saat melihat keberadaan Yara, sementara wanita itu tampak tersenyum ke arahnya.


"Om River!" Yara segera menghampiri River yang juga sedang berjalan ke arahnya. "Om ke mana aja beberapa hari ini, kenapa tidak ke rumah?" Dia cemberut.


River langsung tergelak saat melihat Yara mengerucutkan bibir. "Pekerjaan saya banyak sekali, Nona. Papa Anda benar-benar tidak mengizinkan saya untuk melihat matahari." Dia berucap dengan pura-pura kesal. Memang sudah beberapa hari ini dia tidak berkunjung ke rumah Vano karena disibukkan dengan pekerjaan.


Yara ikut tergelak saat mendengar ucapan kesal River. Yah, papanya itu memang gila kerja, dan papanya juga akan membuat orang lain menjadi gila karena kebanyakan kerja.


"Tenang, nanti biar aku yang bilang sama papa. Om gak perlu kesal lagi," seru Yara. Dia lalu mengajak River untuk ke ruangan sang papa agar bisa mengganggu pekerjaan papanya itu.


Semua karyawan yang melihat kedekatan Yara dan River tampak berbisik-bisik, apalagi mereka yang sama sekali tidak mengenal siapa Yara.


"Gilak. Aku baru pertama kali melihat tuan River senyum, kupikir selama ini dia memang gak bisa senyum," ucap salah satu karyawan yang sejak tadi memperhatikan River.

__ADS_1


"Iya benar. Aku yakin kalau perempuan itu pasti punya hubungan spesial dengan tuan River, kalau tidak mana mungkin tuan River ramah seperti itu!" sambung seorang karyawan yang baru dua bulan bergabung dengan perusahaan.


"Tutup mulutmu! Kau pikir siapa nona Yara itu, hah?" pekik HRD saat tidak sengaja mendengar ucapan karyawan baru itu membuat mereka terlonjak kaget. "Kalau sampai tuan Vano atau tuan River mendengarnya, kau pasti akan langsung dipecat."


Glek.


Karyawan baru itu langsung gemetar saat mendengarnya. "Ma-maafkan saya, Buk. Saya, saya tidak bermaksud berkata seperti itu." Dia menundukkan kepala dengan penuh penyesalan, tetapi juga merasa penasaran dengan identitas wanita bernama Yara itu.


Wanita yang menjabat sebagai HRD itu mendengus kesal. Bisa-bisanya ada yang tidak tahu siapa Yara. Jika pimpinan mereka tahu maka habislah mereka semua.


"Aku tidak tahu sebenarnya apa yang ada dalam otak kalian sehingga tidak tahu siapa nona Yara itu, jadi dengarkan aku baik-baik!" ucap wanita itu dengan tajam membuat beberapa wanita yang bergosip tadi langsung menatap dengan tegang, sementara yang sudah tahu siapa Yara tampak terkikik geli. "Nona Yara itu putri tuan Vano, putri sulung dalam keluarga beliau."


Wanita-wanita itu terbelalak kaget saat mendengar siapa identitas Yara, karena setahu mereka anak sulung Vano adalah Zafran, dan untung saja mereka tidak melakukan hal yang aneh-aneh tadi.


"Jadi mulai sekarang jaga mulut kalian kalau masih mau kerja di sini!"


"Ba-baik, Buk," jawab mereka secara bersamaan dengan takut.


Pada saat yang sama, Yara dan River sudah berada di dalam ruang kerja Vano. Laki-laki itu juga terkejut saat melihat kedatangan putrinya.


Yara menganggukkan kepalanya. "Aku langsung ke sini setelah mengantar Ryder, katanya ada sesuatu yang mau diambil oleh Zafran."


Vano ikut mengangguk-anggukkan kepalanya. "Ayo sini, duduk!"


Mereka lalu duduk di sofa yang ada dalam ruangan itu, tidak berselang lama datanglah office boy sambil membawakan minuman dan makanan ringan untuk mereka.


"Hari ini kau tidak ke rumah sakit, Yara?" tanya Vano.


Yara menggelengkan kepalanya. "Tidak, Pa. Aku sengaja ambil cuti hari ini."


"Baguslah, kau jadi bisa istirahat di rumah," sahut sang papa.


"Tentu saja. Tapi Pa, bukan hanya aku saja loh yang butuh istirahat, tapi om River juga. Lihat, kantung matanya sudah menghitam seperti itu," ucap Yara sambil menunjuk ke arah River.


Vano langsung mencebikkan bibirnya saat mendengar ucapan sang putri. "Cih. Memangnya aku akan mengalah walau kau mengadu pada Yara?"


"Saya tidak melakukan apa-apa, Tuan," bantah River sambil menahan senyumannya, membuat Yara tergelak.

__ADS_1


"Kasihanilah om River, Pa. Dia kuga butuh istirahat," ucap Yara kemudian.


Vano menghela napas berat. "Dia harus menyiapkan semua pekerjaannya sebelum mengajukan cuti, Yara. Jika tidak, siapa yang akan mengerjakannya?" Dia menatap River dengan kesal.


Yara langsung menoleh ke arah River. "Om mau cuti? Kok tumben-tumbenan?" Dia bertanya dengan heran, tidak biasanya River cuti walau dalam keadaan sakit sekali pun.


River terdiam, dia merasa malu untuk mengatakannya pada Yara membuat Vano langsung tersenyum penuh ejekan.


"Kau keterlaluan sekali, River. Bagaimana mungkin kau tidak memberitahu Yara tentang rencana pernikahanmu?" pekik Vano membuat Yara terlonjak kaget. Kedua pupil kata wanita itu langsung melebar dengan tatapan tidak percaya.


"O-Om mau menikah?" tanya Yara.


River mengangguk lemah sambil menahan rasa malunya. "Benar, Nona. Saya berencana untuk memberitahu Anda, tapi selalu disibukkan oleh pekerjaan jadi lupa." Dia berkata sedikit jujur.


Yara yang semula duduk di samping sang papa, kini beralih ke samping River dan langsung merangkul lengan laki-laki yang sudah dianggapnya seperti ayah sendiri.


"Selamat, Om. Aku sangat senang sekali mendengarnya," seru Yara dengan kedua mata berkaca-kaca, dia merasa bahagia karena River sudah bertemu dengan jodohnya. Selama ini dia selalu mengkhawatirkan laki-laki itu, dan sekarang dia tidak cemas lagi karena River sudah tidak akan kesepian.


Tangan River terulur mengusap puncak kepala Yara dengan lembut. "Terima kasih, Nona. Saya harap Anda bisa datang ke acara itu nanti."


"Tentu saja, aku pasti akan jadi orang pertama yang datang," sahut Yara. Dia lalu melepaskan pelukan tangannya dan menatap ke arah River. "Tapi siapa tente yang beruntung itu, apa aku mengenalnya? Dia bertanya dengan antusias.


River menggelengkan kepalanya. "Tidak, Anda tidak mengenalnya. Dia adalah ibunya Junio. Mungkin jika dengan Juniornya Anda kenal."


Yara mengangguk-anggukkan kepalanya. "Ya, aku mengenalnya, Om. Tapi siapapun tante itu, dia pasti sangat beruntung karena bisa mendapatkan laki-laki baik seperti Om. Dia tidak akan pernah menyesal menikah dengan Om."


River tersenyum senang mendengar pujian dari Yara, sementara Vano tampak mencebikkan bibirnya karena merasa tidak terima jika Yara memuji laki-laki itu.


"Lebih beruntunglah mamamu, Yara. Karena dia bisa dapat laki-laki baik, tampan, dan kaya seperti papa."





Tbc.

__ADS_1


__ADS_2