
Keesokan harinya, seperti biasa Ryder berangkat menuju pabrik dengan berjalan kaki. Tidak lupa dia mengajak Zafran untuk ikut bersamanya karena memang inilah tujuannya mengajak laki-laki itu.
Semua orang yang melihat Ryder langsung menyapa dengan ramah, apalagi para wanita yang terdiri dari emak-emak dan gadis-gadis yang merasa senang melihat keberadaan laki-laki itu.
Tidak ketinggalan Zafran juga menjadi pusat perhatian semua orang. Banyak yang langsung bertanya pada Ryder tentang siapa sosok laki-laki itu, dan Ryder hanya menjawab bahwa Zafran adalah adiknya.
"Kenapa mereka seperti itu?" tanya Zafran dengan heran saat sudah menjauh pergi dari kerumunan orang.
Baru kali ini dia melihat ada wanita-wanita yang secara terang-terangan menggoda lelaki. Bukan menggoda dalam artian adegan ranjang, tetapi lebih kepada candaan saja. Jika di kota, maka para wanita hanya akan berbisik-bisik saja dan tidak mengatakan secara langsung.
"Begitulah kalau tinggal di desa, Zaf. Mereka semua memiliki pemikiran yang terbuka, dan memang sudah biasa bercanda seperti itu. Karna itu jugalah ikatan silaturahmi mereka sangat erat. Tapi yang namanya manusia juga ada yang baik dan buruk, sama saja seperti di tempat lain," jawab Ryder.
Zafran mengangguk paham. Sejak kecil dia memang tidak pernah tinggal di desa. Jika berkunjung ke rumah papa Mahen pun dia hanya menghabiskan waktu di rumah saja, tidak pernah bermain ke desa-desa terdekat.
Sesampainya di pabrik, Ryder langsung membawa Zafran untuk melihat-lihat kesemua tempat, sekaligus membahas tentang rencana pembangunan yang akan dia lakukan.
Zafran mendengarkan semua rencana Ryder dengan serius. Walau dia masih belum yakin jika akan memperbolehkan kakaknya tinggal di tempat ini, tetapi dia tetap akan membantu apa yang akan laki-laki itu lakukan.
Tidak berselang lama, datanglah Bayu sambil membawa beberapa laporan yang harus diberikan pada Ryder. Dia ikut bergabung dengan mereka setelah selesai melaporkan semua pekerjaannya.
"Nah, di sinilah aku pernah hampir tertimpa balok," ucap Ryder saat sampai di tempat kecelakaan kerja waktu itu.
Zafran mengernyitkan kening heran karena tidak tahu tentang hal itu. "Memangnya apa yang terjadi?" Dia bertanya sambil memperhatikan tempat itu.
Ryder lalu menceritakan apa yang terjadi beberapa hari yang lalu, yang nyaris saja membuatnya kehilangan nyawa jika benar-benar tertimpa oleh balok tersebut.
"Tunggu, kau mau ke mana?" tanya Ryder pada saat melihat Zafran naik ke atas tempat pengait untuk mengikat balok itu, setelah selesai menceritakan semuanya.
Zafran hanya diam sambil terus naik hingga ke bagian yang paling atas. Entah kenapa dia merasa aneh saat mendengar cerita Ryder, bagaimana mungkin pengait balok bisa putus begitu saja?
__ADS_1
"Hah, benar dugaanku," gumam Zafran saat sudah berada dipaling atas dan melihat pengait balok itu. Tampak jelas jika pengait itu dipotong oleh seseorang, dan bukan putus begitu saja.
Zafran lalu kembali turun saat sudah melihatnya, membuat Ryder dan Bayu langsung menatap dengan penuh tanda tanya.
"Ada apa, apa kau melihat sesuatu?" tanya Ryder.
Zafran melirik sekilas ke arah Bayu yang juga sedang melihatnya, lalu kembali menatap Ryder. "Apa kau sudah memeriksa pengait itu secara langsung?" Dia menunjuk ke arah atas, tempat di mana dia naik tadi.
Rayder menganggukkan kepalanya. "Mereka sudah memeriksanya, dan pengait itu memang sudah rapuh."
Zafran terdiam saat mendengar jawaban Ryder. Laki-laki itu mengatakan mereka, artinya Ryder tidak melihatnya secara langsung tetapi menugaskan orang lain.
"Benar, Zafran. Pengait itu sudah tua dan lama, bahkan belum pernah diganti. Itu sebabnya jadi rapuh dan malah menjatuhkan baloknya. Untung saja Ryder tidak tertimpa," sambung Bayu. "Tapi, apa ada sesuatu yang mencurigakan?" Dia lalu bertanya dengan tatapan penasaran.
Dengan cepat Zafran menggelengkan kepalanya. Tidak, orang lain tidak boleh tahu jika pengait itu putus bukan karna rapuh dimakan usia, tetapi karena di potong oleh seseorang.
"Tidak, aku hanya merasa heran saja kenapa kalian ceroboh seperti itu. Bisa jadi ke depannya akan ada korban lagi yang tertimpa jika tidak selalu diperiksa," sahut Zafran mencari alasan. Dia harus bicara empat mata saja dengan Ryder jika membahas tentang masalah ini, karena sepertinya ada seseorang yang ingin mencelakai laki-laki itu.
Beberapa saat kemudian, Ryder dan yang lainnya bergegas keluar karena sudah mendapat laporan jika para petugas medis sudah sampai ke pabrik itu.
Sebelumnya, Bayu sudah menghimbau agar semua pekerja dapat berkumpul di tempat yang sudah disiapkan agar bisa memeriksakan kesehatan mereka.
"Selamat pagi Dokter, Suster. Terima kasih karena Anda semua sudah datang ke tempat ini," ucap Ryder untuk menyambut kedatangan mereka semua.
Yara dan semua teman-temannya mengangguk dengan senyum lebar. "Ini semua sudah menjadi tugas kami, Tuan. Jadi tidak perlu merasa sungkan." Yara berucap dengan formal.
Ryder tersenyum senang saat mendengar jawaban Yara, dia lalu segera mengajak mereka ke tempat di mana para pekerja berada.
Semua orang menyambut kedatangan para petugas medis dengan ramah. Mereka senang karena Ryder menyiapkan pemeriksaan kesehatan seperti ini, sungguh laki-laki itu benar-benar seorang pemimpin yang mensejahterakan semua pekerja seperti mereka.
__ADS_1
"Duduklah, saya harus memeriksa bosnya dulu sebelum memeriksa para karyawannya," ucap Yara saat melihat Ryder akan pergi ke tempat lain.
"Itu benar, Tuan Ryder. Harus Anda dulu yang diperiksa, baru kami," sahut seorang lelaki yang merupakan manager di pabrik itu.
Ryder menganggukkan kepalanya lalu duduk di hadapan Yara. "Aku tau kalau kau merindukanku, Yara. Itu sebabnya kau mencari alasan seperti ini supaya bisa berlama-lama denganku." Dia berbisik sambil mencondongkan kepalanya ke arah wanita itu.
Yara yang akan memeriksa tekanan darah Ryder langsung mengencangkan ikatan tensimeternya hingga membuat laki-laki itu memekik dengan suara tertahan.
"Apa kau mau membunuhku, Yara?" tanya Ryder dengan berbisik. Wajahnya langsung merah padam karena apa yang wanita itu lakukan hingga membuat Zafran tergelak, begitu juga dengan Bayu yang mendengar dan melihat apa yang terjadi.
"Hah, apa maksud Anda?" tanya Yara dengan pura-pura tidak mengerti. "Saya hanya ingin memeriksa tekanan darah Anda saja, jadi jangan takut."
Zafran dan Bayu semakin terkikik geli saat mendengar ucapan Yara, begitu juga dengan orang-orang yang berada di dekat mereka karena memang suara Yara terdengar sedikit kuat.
Ryder langsung menoleh ke arah Zafran dan Bayu dengan tatapan tajam setajam silet, membuat kedua laki-laki itu langsung memalingkan wajah sambil mengatupkan rahang mereka.
"Si*alan. Beraninya mereka menertawakanku!" Ryder menjadi kesal sendiri. Untung saja yang melakukannya adalah Yara, jika tidak maka dia pasti akan memakinya karena sudah membuat malu.
Yara sendiri tersenyum penuh kemenangan karena bisa membalas perbuatan Rayder, walaupun pembalasan yang dia lakukan ini belum seberapa dibandingkan kejahilan laki-laki itu.
Dari kejauhan, ada sepasang mata yang menatap Yara dengan geram. Berita tentang kedekatan Ryder dan wanita itu sudah menyebar keseluruh penjuru desa, apalagi orang tua Ryder juga sudah mengenal Yara dengan baik, lalu semalam mereka juga datang bersama.
"Kurang ajar! Padahal aku duluan yang menyukai Ryder, gara-gara kedatangan wanita licik itu Ryder jadi menjauhiku. Awas saja dia!"
•
•
•
__ADS_1
Tbc.