
Yara mengangguk paham lalu memeluk tubuh mamanya dengan erat. Dia benar-benar merasa lega setelah mendengarkan nasehat dan cerita dari sang mama, dan akan melakukan sesuai dengan apa yang mamanya katakan tadi.
Sementara itu, di tempat lain terlihat Ryder sedang duduk dibalkon kamar hotel yang dia tempati. Semilir angin yang lumayan kencang tidak membuatnya merasa dingin, bahkan saat ini tubuhnya terasa sangat panas.
"Apa lagi yang harus aku lakukan, Yara?" gumam Ryder dengan tatapan kelam sekelam malam ini. Dia mengusap wajahnya dengan kasar, lalu menoleh ke dalam kamar saat mendengar pintu kamarnya dibuka oleh seseorang.
"Papa belum tidur?" tanya Ryder saat melihat papanya berjalan ke arahnya.
Eric menggelengkan kepala. "Ini, mama ingin bicara denganmu. Katanya ponselmu di telepon tidak aktif." Dia memberikan benda pipih itu pada sang putra.
Ryder mengangguk lalu ponsel itu dan bicara dengan mamanya, sementara Eric duduk di kursi yang ada di tempat itu.
Mata Eric langsung melihat ke arah lantai di mana terlihat berserakan beberapa puntung rokok, dan bisa dipastikan bahwa semua itu bekas putranya.
"Apa dia sedang memikirkan Yara?" Eric menghela napas kasar. Tidak biasanya Ryder merokok sampai segitu banyak jika sedang dalam kondisi baik-baik saja.
Beberapa saat kemudian, Ryder kembali memberikan ponsel itu kepada papanya setelah berbicara dengab sang mama, lebih tepatnya mendengar omelan mamanya yang menyuruh agar dia segara kembali ke rumah.
"Ada apa, Ryder?" tanya Eric sambil menepuk bahu Ryder yang sedang menghela napas berat.
Ryder menoleh ke arah sang papa. "Besok aku akan kembali ke desa itu dulu Pa, setelah semua urusan selesai, aku baru akan kembali pulang."
Eric langsung menggelengkan kepalanya. "Tidak perlu, Papa sudah menyuruh Richard untuk menyiapkan keberangkatan mama ke sini, jadi biar mamamu saja yang datang."
Ryder tersenyum senang saat mendengarnya, dia lalu mengangguk karena setuju dengan apa yang papanya lakukan. Dia yakin sekali jika sang mama pasti suka diajak ke desa tempatnya tinggal.
__ADS_1
"Lalu, bagaimana dengan Yara? Apa terjadi sesuatu di antara kalian?" tanya Eric kembali.
Ryder kembali menghela napas kasar. "Entahlah, Pa. Aku sendiri tidak tahu apa yang terjadi dengan kami." Dia menjawab dengan lirih.
Eric lalu meminta Ryder untuk menceritakan semua yang telah terjadi, tentu saja dia harus mengetahuinya agar bisa memberikan jalan keluar tentang kegalauan putranya itu.
Tanpa menunggu lama, Ryder langsung menceritakan semuanya pada sang papa tanpa ada yang disembunyikan karena memang papanya berhak tahu apa yang terjadi. Sekaligus supaya bisa memberikan saran untuknya.
"Aku tidak tahu sekarang harus melakukan apa," ucap Ryder setelah selesai menceritakan semuanya.
Eric menggelengkan kepalanya sambil menepuk bahu Ryder. "Kenapa kau tidak tahu harus melakukan apa?" Dia berucap dengan heran. "Tentu saja yang harus kau lakukan sekarang adalah menunggu, Ryder. Hanya itu, tidak ada yang lain lagi."
Ryder semakin dilanda kehampaan saat mendengarnya. Menunggu? Sebenarnya harus berapa lama lagi dia menunggu untuk semua itu, apa selama ini penantian dan perjuangannya masih kurang?
"Dengar, Ryder. Apa yang Yara lakukan saat ini bukan karena tidak mau menerimamu, tapi dia butuh waktu untuk meyakinkan dirinya sendiri," ucap Eric. "Dia dan kau berbeda, Ryder. Di masa lalu, dia telah disakiti dan dihancurkan oleh sebuah ikatan pernikahan, dan tidak semua orang sekuat dia dan bisa bertahan. Lalu, setelah itu kau datang dalam hidupnya dan semakin menambah luka yang mungkin belum bisa dia sembuhkan. Apa kau tidak ingat semua itu?"
"Trauma, rasa takut, juga kepedihan yang ada dalam hatinya pasti belum sepenuhnya hilang, Ryder. Dan semua itu membuatnya takut untuk kembali menjalani bahtera rumah tangga, seharusnya kau memahami tentang hal itu," sambung Eric kemudian. "Kau tidak bisa memaksanya, Rayder. Tapi yang harus kau lakukan adalah menunjukkan, dan buat agar dia percaya pada cinta yang kau miliki. Hapus semua keraguan dan rasa takut dalam hatinya. Setelah dia percaya, maka dia sendiri yang akan datang padamu."
Ryder mengangguk paham dengan apa yang papanya katakan. Benar, dia tidak boleh menjadi laki-laki egois yang sama sekali tidak memikirkan perasaan Yara. Mulai sekarang, dia akan menunjukkan dan membuat wanita itu percaya akan cinta tulus yang dia berikan.
"Lihat saja, Yara. Aku akan menunjukkan semua cinta yang ada dalam hatiku ini, dan aku juga akan membuat semua orang tahu bahwa aku mencintaimu. Sampai akhirnya nanti, kau sendiri yang akan datang padaku dan memintaku untuk menikahimu."
***
Keesokan harinya, Ryder kembali datang ke rumah Yara untuk mengajak wanita itu kembali ke desa bersama-sama. Sebelumnya, dia sudah menghubungi Zafran agar laki-laki itu ikut bersama dengan mereka.
__ADS_1
"Kenapa aku harus ikut ke sana?" tanya Zafran dengan tidak terima saat sudah berhadapan dengan Ryder. Masih banyak pekerjaan yang harus dia lakukan.
"Aku butuh bantuanmu, Zaf. Ayo, kita masuk!"
"Apa?" Zafran memekik tidak terima dengan apa yang laki-laki itu katakan. Bisa-bisanya Rayder hanya menjawab seperti itu saja, bahkan seenaknya mengaja masuk tanpa peduli dengan penolakannya.
Yara sendiri terkejut saat melihat kedatangan Ryder. Dia pikir hanya akan pergi bersama Zafran saja, karena memang adiknya tidak mengatakan perihal laki-laki itu.
"Apa semuanya sudah siap?" tanya Ryder sambil melihat ke semua barang yang akan dibawa.
Yara mengangguk. "Apa kau akan kembali ke sana juga?"
"Tentu saja. Masih banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan," jawab Ryder.
Ah, benar juga. Ryder masih harus mengurus masalah pabrik yang sudah Yara ketahui bahwa itu adalah milik Ryder, bahkan dia sangat terkejut saat mengetahuinya.
"Tapi, bagaimana dengan lukamu, Ryder? Kau tidak boleh banyak beraktivitas dulu agar lukanya tidak kembali terbuka," ucap Yara dengan khawatir. "lebih baik tunggu sampai lukanya kering, dan istirahat saja di sini."
Ryder langsung menggelengkan kepalanya. "Tidak perlu, Yara. Lukaku pasti akan cepat mengering dan sembuh, karena aku tidak sendirian. tapi pergi bersama obatku, yaitu kamu."
•
•
•
__ADS_1
Tbc.