Takdir Cinta Yang Kau Pilih

Takdir Cinta Yang Kau Pilih
Bab 135. Musuh Dalam Selimut.


__ADS_3

Zafran terdiam saat mendengar ucapan kakek Domi. Entah kenapa dia merasa ada sesuatu yang tidak beres, dan perasaannya pun menjadi tidak nyaman.


"Kakek masuk dulu yah. Kau sudah makan?" tanya kakek Domi sambil beranjak bangun dari kursi.


Zafran mengangguk. "Sudah, Kek. Em ... Aku mau keluar sebentar yah Kek, cari angin." Dia ikut beranjak dari tempat itu.


"Perutmu kan sedang sakit, Zafran. Tidak baik kena angin malam," ucap Domi.


Zafran lalu mengatakan jika dia sudah baik-baik saja, bahkan tadi sudah diperiksa oleh sang kakak dan sudah juga meminum obat yang kakaknya berikan.


"Aku hanya akan jalan sampai ke depan sana, setelah itu kembali lagi," ucap Zafran kemudian.


Domi menghela napas kasar. Dia lalu memberikan senter yang sedang dipegang pada Zafran agar laki-laki itu tidak kegelapan. "Ya sudah kalau gitu. Pakai senter ini, tapi jangan terlalu lama, nanti malah tambah masuk angin."


Zafran mengangguk paham. Dia lalu menerima senter pemberian kakek Domi dan berlalu pergi dari tempat itu.


Dengan langkah lebar, Zafran segera menuju lokasi pabrik yang sebenarnya agak jauh dari rumah kakek Domi. Butuh waktu 15 sampai 20 menit untuk sampai ke tempat itu dengan berjalan kaki.


Beberapa orang yang bertemu dengannya langsung menyapa dengan ramah, dan di balas dengan senyuman dan anggukan darinya. Jika ada yang bertanya dia ingin pergi ke mana, maka dia hanya menjawab ingin cari angin saja sesuai dengan apa yang dia katakan pada kakek Domi.


Setelah menempuh perjalanan sekitar 15 menit, akhirnya sampai juga Zafran di tempat tujuan. Napasnya tersengal-sengal akibat berjalan dengan cepat, karena harus mengejar Bayu sebelum laki-laki itu pergi dari pabrik.


Zafran merasa sedikit merinding saat melihat bangunan pabrik yang ada di depan matanya. Jika saat malam seperti ini, ternyata pabrik itu terasa sangat menyeramkan. Apalagi hanya ada beberapa lampu saja yang menyala, sementara yang lainnya sengaja dimatikan.


"Astaghfirullah. Tidak ada setan di dunia ini, kalau pun ada pasti malam ini tidak berkeliaran," gumam Zafran untuk memberi keberanian terhadap diri sendiri.


Suasana yang sepi, disertai hembusan angin yang lumayan kencang membuat keadaan terasa benar-benar horor. Padahal selama ini Zafran tidak pernah takut walau harus seorang diri, tetapi entah kenapa bulu kuduknya langsung meremmang saat berada di tempat itu.


Zafran lalu menghela napas kasar sambil melangkah masuk ke dalam tempat itu, terlihat pintu pagarnya terbuka membuat dia mengernyit heran.


"Bukankah ada dua orang penjaga keamanan yang ditugaskan di sini?" gumam Zafran dengan heran. Dia memperhatikan ke sekeliling tempat, tetapi tidak melihat keberadaan dua orang yang dimaksud.

__ADS_1


Merasa benar-benar ada yang tidak beres, Zafran segera melangkahkan kakinya untuk lebih dalam masuk ke tempat itu. Samar-samar dia mulai mendengar suara seseorang, dan bergegas mendekati asal suara itu.


"Cepat kembali ke pos, tugas kalian sudah selesai."


Zafran bersembunyi di balik dinding lalu mengintip ke arah suara yang baru saja dia dengar, dan benar saja, terlihat Bayu sedang bersama dengan beberapa orang lelaki di tempat itu.


"Siapa mereka?" Zafran merasa bertanya-tanya. Dia lalu menajamkan telinganya agar bisa mendengar apa yang mereka bicarakan.


Dua orang lelaki yang merupakan penjaga keamanan segera kembali ke pos depan setelah mendapat perintah dari Bayu, sementara Bayu sendiri masih ada di tempat itu bersama dengan dua orang lelaki yang lainnya.


"Berapa lama lagi kami harus menunggu, Bayu?" tanya salah seorang lelaki pada Bayu.


"Apa kau tidak bisa sabar?" ucap Bayu dengan tajam. "Kita harus sangat berhati-hati, jika tidak maka semuanya akan gagal. Kalian pikir selama inu mudah menipu Ryder, hah?"


Zafran mengepalkan kedua tangannya dengan tatapan dipenuhi amarah. Ternyata dugaannya benar, laki-laki bernama Bayu itu sedang merencanakan sesuatu yang buruk.


"Tapi kami sudah menunggu sangat lama. Bagaimana kalau kau tidak berhasil merebut pabrik ini?" seru laki-laki yang lainnya.


Bayu berdecak kesal saat mendengarnya. "Jaga ucapanmu. Tidak ada sesuatu yang gagal kulakukan, termasuk mengambil pabrik ini dari tangan Ryder." Dia berseru marah.


"Aku sudah mengurus semua berkas pemindahan pabrik ini atas namaku, dan hanya tinggal menunggu waktu yang tepat saja agar kita bisa-"


Tring.


Zafran terlonjak kaget saat tiba-tiba ponsel yang ada dalam saku celananya berdering, begitu juga dengan Bayu dan kedua laki-laki itu yang langsung menoleh ke arah sumber suara.


Dengan cepat Zafran mengambil ponsel itu dan langsung mematikannya, dia menunduk agar tidak terlihat oleh Bayu dan yang lainnya sambil menggerutu kesal karena lupa mematikan benda pipih itu.


"Siapa di sana?" tanya Bayu dengan tajam membuat Zafran langsung berpindah ke dinding lain. Dia lalu memerintahkan kedua lelaki itu untuk memeriksa siapa yang ada dibalik dinding itu, karena takut ada yang mendengar pembicaraan mereka.


"Tidak ada siapapun di sini," seru laki-laki itu saat sudah berada di balik dinding yang tadi ditempati oleh Zafran.

__ADS_1


Bayu ikut memeriksa tempat tersebut, dan benar saja jika tidak ada orang lain di tempat itu. "Tidak, aku yakin jika tadi pasti ada orang di sini." Dia memperhatikan ke sekitar tempat. Lalu pandangannya tertuju pada bekas telapak kaki.


"Si*al." Zafran berdecak kesal saat melihat apa yang Bayu lakukan. Tadi dia tidak sengaja terpeleset ke dalam kubangan air menyembabkan sendalnya terkena lumpur, dan dia belum sempat untuk membersihkannya. Itu sebabnya bekas lumpur itu tertinggal dilantai yang baru dia pijak


"Brengs*ek!" ucap Bayu tiba-tiba saat baru menyadari bahwa ada seseorang yang sengaja mengintai mereka. "Cepat tangkap orang itu, jangan sampai dia keluar dari tempat ini. Aku yakin dia masih berada di sini!" Dia memberi perintah dengan murka.


Mendengar perintah Bayu, jelas Zafran menjadi panik. Dia bisa saja menghajar mereka semua saat ini juga, tetapi dia belum punya bukti kuat untuk memberitahu niat jahat mereka pada semua orang, terutama pada Ryder. Walau nantinya Ryder percaya dengan apa yang dia katakan, tetapi tidak dengan masyarakat yang lain.


Dengan cepat Zafran melemparkan kedua sendalnya ke dalam kardus yang ada di tempat itu, lalu menimpa kardus itu dengan tumpukan kertas agar tidak ada yang curiga.


Zafran lalu melompat untuk melewati meja yang ada di belakangnya, dan segera berlari ke luar dari tempat itu. Namun, dia tidak bisa kembali melalui gerbang depan karena ada dua orang penjaga yang bekerja sama dengan Bayu di tempat itu.


"Kurang ajar. Aku harus mencari tempat lain," gumam Zafran sambil mencari jalan keluar dari tempat itu.


Zafran yang baru sekali berkunjung ke pabrik jelas tidak paham di mana jalan keluar selain dari gerbang depan, itu sebabnya saat ini dia sedang kebingungan memperhatikan ke semua tempat. Tidak mungkin 'kan, dia terbang?


"Siapa kau?" Seru Bayu yang berhasil mengejar Zafran.


Deg.


Tubuh Zafran seketika kaku saat mendengar seruan seseorang. Dengan cepat dia menaikkan topi dari jaket yang sedang dipakai untuk menutupi wajahnya, dan untungnya dia memakai jaket itu sehingga bisa menghalangi pandangan mereka.


"Ke sini."


Kedua mata Zafran terbelalak lebar saat melihat ada seorang lelaki yang sedang melambaikan tangan ke padanya, dan laki-laki itu sedang berdiri di belakang ruangan penyimpanan seorang diri.


"Di-dia manusia atau setan?"



__ADS_1



Tbc.


__ADS_2