
Yara dan Zafran tersentak kaget saat mendengar ucapan sang papa, begitu juga dengan Via yang langsung menatap suaminya itu dengan tajam.
"Benar Pa, kita harus memberi laki-laki pelajaran. Bila perlu patahkan kakinya!" seru Zayyan dengan semangat, semakin membuat kobaran api sang papa berkobar dahsyat.
Yara langsung mencubit lengan Zayyan saat mendengar ucapan adiknya itu. "Jaga ucapanmu, Zay. Tidak baik berkata seperti itu." Dia menatap Zayyan dengan tajam.
Zayyan langsung mencebikkan bibir sambil mengusap lengannya yang berdenyut sakit akibat cubitan sang kakak, sementara Zafran menjulurkan lidahnya untuk membalas ejekannya.
"Kau benar, Zay. Papa akan mematahkan kakinya dan semua tulang-tulang yang-"
"Hentikan, jangan teruskan ucapanmu, Mas!" Potong Via dengan cepat, dia menatap suaminya itu dengan tajam. Memangnya tulang manusia itu seperti kayu yang mudah untuk dipatahkan, sehingga berkata seperti itu di depan anak-anak mereka?
"Tapi aku serius, Sayang. Aku akan-"
"Tida perlu, Pa. Papa tidak perlu melakukan itu," ucap Zafran membuat semua orang beralih melihat ke arahnya. "Ryder sudah menghajar laki-laki itu sampai terlihat sangat mengenaskan, dan aku juga dengar kalau orangtua dari anak yang dia bunuh itu juga menghajarnya sampai membuat 5 tulang rusuknya patah. 4 giginya lepas, juga tulang-tulangnya yang lain pada retak."
Glek.
Yara dan Via menelan salive mereka dengan kasar sambil bergidik ngeri. Tidak bisa dibayangkan bagaimana rasa sakit yang laki-laki derita dengan luka seperti itu.
"Calon menantu papa memang hebat, dia pasti bisa menjaga putri papa dengan sangat baik nanti," ucap Vano dengan lega. Syukurlah jika Ryder sudah mengurus laki-laki bajing*an itu.
Yara tersenyum malu saat mendengar ucapan sang papa, bahkan kini wajahnya memerah dengan kepala tertunduk.
Via lalu menyuruh Yara untuk memeriksa luka dikaki Zafran dan memastikan agar luka itu tidak infeksi, dan dia juga menyuruh Zafran untuk tetap istirahat di rumah sampai luka itu sembuh.
*
*
Hari-hari berlalu dengan sangat cepat. Tidak terasa sudah dua minggu lebih Yara pergi dari desa itu dan meninggalkan Ryder sendirian. Namun, bukannya merasa sedih, Ryder malah tampak sangat bersemangat dan wajahnya selalu berbinar-binar.
Selama dua minggu ini, Ryder terus menyelesaikan masalah yang ada di pabrik agar bisa segera kembali ke rumah orangtuanya. Bukan hanya itu saja, dia bahkan sudah memasukkan bahan material untuk perbaikan jalan yang ada di desa itu.
Semua masyarakat desa sangat bahagia dan bersyukur saat mengetahui jika Ryder akan memperbaiki jalan yang ada di desa itu. Nantinya mereka tidak akan kesusahan lagi jika ingin ke kota, dan waktu tempuhnya juga lebih cepat.
"Apa semuanya sudah siap?" tanya Ryder sambil melangkah masuk ke dalam ruangan seseorang.
__ADS_1
Laki-laki itu menganggukkan kepalanya, dia adalah seorang arsitek yang bertanggung jawab untuk membangun rumah sakit.
"Sudah, Tuan. Saya sudah membuat sketsa tentang bangunannya, silahkan Anda periksa," jawabnya sambil memberikan selembar kertas yang berisi sketsa bangunan pada Ryder.
Ryder memperhatikan sketsa itu dengan serius, terutama letak ruangannya dan ruangan Yara nanti. Dia ingin agar ruangan mereka saling berdekatan, tetapi ada pintu yang menghubungkan antara kedua ruangan itu supaya dia bisa sesuka hati masuk ke ruangan wanita itu.
Arsitek itu lalu mulai menjelaskan setiap ruangan yang dia buat agar Ryder paham. Lalu mereka saling berdiskusi itu menentukan ruangan yang tepat, juga tentang struktur bangunan yang lainnya.
Dua jam kemudian, mereka telah selesai mendiskusikan tentang bangunan itu. Ryder tampak tersenyum puas karena sudah menyelesaikan struktur bangunan rumah sakit, setelah itu Arsitek baru akan mulai melakukan pembangunan.
"Hah." Ryder menyandarkan tubuhnya ke kursi karena merasa lelah. Setiap hari dia terus bekerja keras dengan mengurus ini dan itu tanpa istirahat, tetapi dia merasa lega karena semua persiapannya sudah selesai.
Ryder lalu beranjak pergi dari ruangannya untuk menemui manager, karena besok dia sudah harus pergi menemui orangtuanya untuk waktu yang lama.
"Anda tidak perlu khawatir, Tuan. Saya akan menjaga kepercayaan Anda dengan mengelola pabrik ini dengan baik," ucap manager itu.
Ryder menganggukkan kepalanya sambil menepuk bahu laki-laki itu. "Aku jadi merasa tenang saat mendengarnya, dan nanti pak Edward juga akan membantu di sini. Jadi Anda tidak sendirian."
Manager itu tersenyum senang saat mendengarnya. "Benarkah, Tuan?" Dia merasa tidak percaya jika Edward kembali lagi ke pabrik itu.
Ryder kembali mengangguk. Beberapa hari yang lalu dia sudah bicara langsung dengan Edward, dan meminta agar laki-laki itu membantu di pabrik karena dia harus menyiapkan pernikahan.
Kasus Bayu juga sudah selesai diselidiki oleh pihak kepolisian. Laki-laki iti dinyatakan bersalah atas penggelapan pabrik, percobaan bunuh diri pada Ryder, melakukan penyerangan pada Zafran, bahkan sampai pembunuhan Edwin juga.
Para saksi juga sudah memberikan semua keterangan mereka, dan orang-orang yang membantu perbuatan bej*at Bayu juga sudah diringkus ke kantor polisi.
Setidaknya Bayu akan dituntut dengan hukuman mati atau hukuman penjara selama seumur hidup, karena memang laki-laki itu terkena kasus dengan pasal berlapis.
Setelah semua urusannya selesai, Ryder kembali ke rumah kakek Domi untuk segera bersiap. Sore ini dia akan berangkat ke kota, tepatnya ke rumah Yara untuk mengunjungi keluarga itu. Dia juga mengajak kakek Domi dan nenek Weny agar bisa bertemu dengan kedua orangtuanya.
"Assalamu'alaikum," ucap Ryder sambil masuk ke dalam rumah.
"Wa'alaikum salam. Kau sudah pulang, Nak?" tanya Weny yang sedang sibuk menyusun baju-bajunya.
Ryder mengangguk. "Apa semua ini, Nek? Apa Nenek mau pindahan?" Kedua matanya membulat sempurna saat melihat pakaian dan barang-barang berserakan di lantai.
Weny tersenyum. "Ini adalah pertama kalinya nenek pergi ke luar negeri, jadi nenek tidak takut ada yang ketinggalan."
__ADS_1
Ryder menghela napas kasar sambil menggelengkan kepalanya saat mendengar ucapan sang nenek. "Kan aku sudah bilang, kalau Nenek dan kakek tidak perlu membawa apa-apa. Besok kita akan membelinya di kota, jadi Nenek tidak repot." Dia sudah mengatakannya dua kali.
Nenek Weny setuju. "Tapi kan sayang uangnya, Nak. Bisa buat keperluan yang lain."
Ryder lalu kembali meyakinkan nenek Weny jika mereka akan membeli pakaian di kota, jadi tidak perlu repot membawanya ke sana kemari.
Akhirnya nenek Weny mengangguk setuju dengan apa yang Ryder ucapkan. Mereka lalu kembali menyusun baju-baju serta semua barang yang berserakan di atas lantai.
Setelah semuanya selesai, Ryder, kakek Domi, dan nenek Weny segera berangkat menuju kota. Sebelumnya dia sudah pamit pada Edward, sehingga tidak perlu lagi menemui laki-laki itu.
Jam sudah menunjukkan pukul dua siang, kemungkinan mereka akan sampai di rumah Yara saat maghrib. Namun, Ryder tidak memberitahukan kedatangannya pada Yara, karena ingin membuat kejutan untuk wanita itu.
***
Beberapa jam kemudian, Ryder dan yang lainnya sudah sampai di rumah Yara tepat pukul enam sore. Dia bergegas turun dari mobil dan mengajak kakek Domi beserta nenek Weny untuk masuk.
"Assalamu'alaikum," ucap Ryder sambil menekan bel rumah itu.
Yara yang sedang berada di dapur bergegas untuk membuka pintu, karena saat ini pembantunya sedang berada di dalam kamar mandi.
"Wa'alaikum salam, iya sebentar!" teriak Yara saat mendengar suara bel kembali berbunyi, dia mempercepat langkah kakinya agar bisa segera membuka pintu itu.
"Iya, Anda-" Yara tidak dapat melanjutkan ucapannya karena merasa terkejut saat melihat keberadaan Ryder. "Kau, kau di sini?" Dia bertanya dengan tidak percaya.
Ryder tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. "Tentu saja. Aku bahkan datang bersama dengan kakek dan nenek."
Yara semakin terkejut saat baru menyadari keberadaan kakek Domi dan nenek Weny. Sontak dia langsung menyalim kedua tangan mereka secara bergantian.
"Bagaimana kabarmu, Nak? Apa kau baik-baik saja?" tanya nenek Weny.
Yara mengangguk. "Alhamdulillah aku sehat, Nek. Ayo, silahkan masuk!"
•
•
•
__ADS_1
Tbc.