
Semua orang tersentak kaget saat mendengar voice note dari River, apalagi mereka bisa mendengar jelas beberapa suara tembakan dari apa yang laki-laki itu kirim ke ponsel Vano.
"Apa, apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Via dengan wajah panik, sementara Vano dan Zafran mengepalkan tangan mereka dengan geram saat mendengar semua itu.
"Zafran, hubungi semua anak buah River dan suruh mereka untuk mencari di mana River berada sekarang juga!" teriak Vano membuat semua orang terlonjak kaget. Dia langsung berdiri dengan wajah merah padam, dan kedua tangan mengepal kuat.
"Baik, Pa. Tapi apa yang akan Papa lakukan?" tanya Zafran dengan khawatir, dia takut papanya akan melakukan sesuatu yang berbahaya.
"Papa akan menemui bajing*an itu. Gara-gara dia River berada dalam bahaya, dan beraninya dia ingin mengambil perusahaanku!" Pekik Vano dengan geram dan kemarahan yang memuncak.
"Tidak, Pa. Jangan lakukan itu!" Cegah Zafran, dia tidak boleh membiarkan papanya berada dalam bahaya.
"Apa yang kakak katakan benar, Pa. Akan sangat berbahaya jika Papa menemui laki-laki itu," ucap Zayyan. Walau dia tidak tahu pasti apa yang terjadi, tetapi dari suara River tadi dia sudah paham apa yang sedang terjadi.
"Diam kalian! Aku pasti akan membunuh bajing*an itu dengan kedua tanganku sendiri,"
"Papa, tunggu!" Pekik Zafran dan Zayyan secara bersamaan, mereka segera mengejar sang papa yang sudah berjalan keluar dari tempat itu.
Via yang melihat kemarahan sang suami juga mengikuti mereka, karena apa yang suaminya lakukan malah akan membuat nyawa mereka semua dalam bahaya.
"Papa, aku mohon tolong hentikan," pinta Zafran sambil mencekal tangan sang papa, tetapi dengan cepat ditepis oleh papanya.
__ADS_1
"Lakukan apa yang papa perintahkan, Zafran. Dan jangan pedulikan papa!" ucap Vano dengan nada membentak.
Zafran menggelengkan kepalanya. "Jangan sia-siakan pengorbanan om River, Pa. Kita tidak tahu bagaimana keadaan dia sekarang, dan dia rela berkorban demi kita. Terutama Papa, tapi Papa langsung menemui Felix yang udah jelas-jelas dalang dari semua ini. Kita sudah tahu dia bukan orang biasa, dia tergabung dalam mafia itu. Bagaimana jadinya jika Papa langsung menemuinya saat seperti ini?" Dia menatap papanya dengan nanar.
Vano terdiam saat mendengar ucapan Zafran. Dia mengusap wajahnya dengan kasar, lalu meninju dinding sampai membuat kedua anaknya terjingkat kaget.
"Sih brengs*ek itu, aku pasti akan membalas apa yang sudah dia lakukan," ucap Vano penuh dendam.
"Mas!" Panggil Via yang sejak tadi berdiri tidak jauh dari mereka berada, membuat Vano langsung berbalik dan melihat ke arahnya.
Via bergegas mendekati suami dan juga anak-anaknya. "Ada apa ini Mas? Kenapa River berkata seperti itu?" Dia bertanya dengan khawatir, dan jujur saja selama ini dia tidak tahu-menahu soal pekerjaan yang mereka lakukan.
"Aku akan menceritakannya padamu nanti," ucap Vano sambil menggenggam tangan sang istri, dia tahu jika wanitanya saat ini sedang sangat khawatir. Dia lalu beralih melihat ke arah kedua putranya. "Cepat lakukan apa yang papa perintahkan tadi, kalian harus menemukan di mana River berada. Papa akan segera menghubungi Eric."
Via menatap kedua putranya dengan sendu. Jujur saja dia sangat mengkhawatirkan mereka, tetapi mereka juga harus mencari di mana River saat ini.
"River pasti baik-baik saja 'kan Mas?" tanya Via dengan tatapan khawatir. Biar bagaimana pun River sudah seperti keluarga mereka sendiri, bukan seperti tetapi memang keluarga.
"Tentu saja. River itu manusia yang tidak punya nyawa, jadi dia pasti akan baik-baik saja," jawab Vano dengan yakin. Dia lalu memeluk tubuh sang istri dengan erat agar wanita itu tidak lagi merasa khawatir.
"Aku mohon selamatkan dia, Ya Allah. Aku mohon berhanlah, River. Aku mohon." Vano memejamkan kedua matanya sambil berdo'a agar River baik-baik saja.
__ADS_1
Sementara itu, di tempat lain terlihat Yara sedang memeriksa keadaan Ryder. Terlihat mereka sedang bertiga di dalam tenda medis itu, bersama dengan Weny yang sejak tadi mengkhawatirkan keadaan Ryder.
"Lukanya jangan sampai terkena air dulu ya, atau jahitannya akan basah," ucap Yara sambil menyusun peralayan medisnya karena sudah selesai memeriksa luka yang ada di kepala Ryder.
"Dia baik-baik saja 'kan, Dokter?" tanya Weny yang masih merasa sangat khawatir, apalagi berita yang dia dapat dari mulut orang-orang sangat menyeramkan sekali.
Yara tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. "Tentu saja, Nek. Keadaan Ryder baik-baik saja. Dia memang kehilangan banyak darah dan sempat mengalami syok hipovolemik yang menyebabkan jantung tidak bisa memompa cukup darah ke seluruh tubuh, tetapi saat ini kondisinya sudah pulih dengan normal."
Weny menghela napas lega saat mendengarnya, dia lalu mengusap tangan Ryder membuat laki-laki itu tersenyum dengan hangat.
"Lain kali hati-hati, Ryder. Kalau sedang kerja itu pakai topi keamanan, jadi bisa melindungi dari benda berat yang akan menimpa kepalamu," ucap Weny dengan penuh penekanan. Andai Ryder memakai topi keamanan kerja, pasti kepalanya tidak akan terkena rantai.
"Iya-iya, lain kali aku pakek topi," balas Ryder sambil mencebikkan bibirnya membuat Weny mencubit perutnya dengan gemas.
Tanpa sadar Yara tersenyum saat melihat interaksi antara Ryder dan Weny, dia tidak menyangka jik laki-laki itu akan berubah 180 derajat seperti ini.
"Ternyata kau bisa bersikap hangat juga, Ryder. Tapi kenapa kau berubah sampai sejauh ini?"
•
•
__ADS_1
•
Tbc.