
Mereka lalu singgah sebentar ke sebuah restoran yang berada tidak jauh dari toko buku untuk mengisi perut yang sudah lapar, padahal jam masih menunjukkan pukul setengah dua belas siang.
Tidak lama mereka berada di tempat itu, setelahnya langsung beranjak pulang ke rumah. Namun, mereka terjebak macet di depan sebuah wahana permainan yang dipadati oleh pengunjung karena sedang weekend. Itu sebabnya jalanan jadi ramai dan menyebabkan kemacetan.
"Aturannya tadi jangan dari sini," gumam Zafran dengan kesal saat melihat kemacetan di hadapannya. Dia lupa jika hari ini adalah hari minggu, dan jalanan itu dipadati oleh orang-orang yang keluar masuk dari lokasi wahana permainan.
Hana sendiri terlihat fokus menatap ke arah kiri. Dia merasa takjub saat melihat permainan biang lala yang tampak sangat besar, begitu juga dengan permainan yang lain.
Hana pernah melihat permainan itu saat menonton televisi beberapa bulan yang lalu, tetapi tidak pernah melihatnya secara langsung atau bahkan menaikinya.
"Apa kau ingin ke wahana bermaian, Hana?"
Hana tersentak kaget saat mendengar pertanyaan Zea yang saat ini sedang duduk di sampingnya. "Hah? Ti-tidak, saya hanya melihatnya saja." Dia tersenyum dengan canggung.
Zafran dan Zayyan langsung melihat ke arah Hana saat mendengar ucapan Zea, terlihat jelas dari kedua kata Hana jika ingin melihat wahana permainan itu.
"Lebih baik kita berhenti sebentar Kak, lagian jalanan juga sedang macet," ucap Zayyan sambil mengedipkam mata ke arah sang kakak.
"Baiklah. Lebih baik kita menunggunya di dalam biar tidak bosan," sambung Zafran sambil menunjuk ke arah wahana permainan itu. Dengan cepat dia membelokkan mobilnya kare a berada tepat di depan pintu masuk ke lokasi wahana.
Hana terpaku saat melihat apa yang Zafran dan Zayyan lakukan. Namun, sedetik kemudian dia tersenyum senang karena sepertinya kedua kakak beradik itu juga ingin pergi ke wahana permainan.
Lain hal dengan Zea, dia benar-benar merasa terkejut saat melihat reaksi Zafran dan Zayyan. Kedua lelaki itu langsung mencari alasan agar bisa ke wahana permainan saat mengetahui jika Hana menginginkannya, dan semua itu memunculkan tanda tanya besar dalam benaknya.
"Sepertinya hubungan mereka dengan Hana sangat dekat. Sebenarnya kenapa dia bisa tinggal di rumah Zafran, dan dia itu teman seperti apa?" Zea benar-benar merasa penasaran. Zayyan sama sekali tidak menjelaskan apa-apa. Ingin bertanya pada Zafran pun dia merasa takut.
Kedua mata Hana membelalak kagum saat melihat wahana permainan itu secara langsung. Sangking senangnya melihat semua itu, dia sampai tidak sadar jika saat ini sedang lompat-lompat.
"Kau belum pernah ke sini, Hana?" tanya Zea dengan heran saat melihat Hana melompat-lompat dengan wajah bahagia, sementara Zafran dan Zayyan tampak tertawa melihat apa yang Hana lakukan.
Hana menggelengkan kepalanya. "Ini pertama kalinya saya datang ke tempat seperti ini. Saya pernah melihatnya di televisi, tapi ternyata lebih bagus saat dilihat secara langsung." Dia berucap dengan senang.
__ADS_1
Zea merasa tidak habis pikir saat mendengar jawaban Hana. Bisa-bisanya ada orang yang belum pernah datang ke wahana permainan seperti ini, dia saja mungkin sudah puluhan kali bermain di tempat seperti ini.
"Kalau gitu ayo kita main, Kak! Aku akan menunjukkan permainan yang sangat seru," ajak Zayyan sambil merangkul tubuh Hana dan membawanya masuk ke dalam tempat itu.
Hana menganggukkan kepalanya dengan sangat antusias sambil mengikuti langkah Zayyan, membuat Zafran kembali tergelak.
"Hana sangat polos yah, tatapan matanya seperti anak kecil," ucap Zea sambil melirik ke arah Zafran.
Zafran tersenyum setelah berhasil meredam tawanya saat mendengar ucapan Zea. "Benar, dia memang sangat polos." Dia kembali terkekeh saat melihat apa saja kekonyolan yang telah Hana lakukan.
Zea tertegun mendengar jawaban Zafran, apalagi saat menatap kedua mata laki-laki itu yang terlihat berbinar-binar ketika membicarakan tentang Hana.
"Apa kau menyukainya?" tanya Zea dengan pelan. Kedua tangannya mengepal erat menahan rasa sakit dan sesak yang datang secara bersamaan.
Zafran yang sudah berjalan di depan Zea seketika menghentikan langkahnya saat mendengar pertanyaan wanita itu. Dia lalu menoleh ke arah Zea dengan tatapan tajam, begitu juga dengan Zea yang saat ini menatap Zafran dengan serius.
Dada Zafran berdegup kencang saat mendengar pertanyaan Zea. Tidak disangka wanita itu menanyakan perasaannya, tetapi kenapa dia malah berdebar dan tidak bisa menyangkal pertanyaan wanita itu?
"Tidak usah dijawab, Zaf. Aku sudah tahu jawabannya," ucap Zea dengan lirih.
Dengan cepat Zea memalingkan wajah saat tidak kuasa menahan air matanya, sungguh hatinya terasa sangat sakit sekali. Cinta yang sudah sejak lama tertahan dalam hati, harus hancur berkeping-keping tanpa sempat untuk diungkapkan. Apakah dia memang tidak pantas untuk Zafran?
Zafran sendiri hanya bisa diam dengan pikiran kacau. Pertanyaan Zea benar-benar membuatnya gelisah dan bingung. Dia merasa tidak menyukai Hana, tetapi mulutnya juga tidak bisa menyangkalnya. Sebenarnya apa yang sedang terjadi, apa dia benar-benar menyukai wanita itu?
"Tidak, aku tidak menyukainya. Aku hanya, hanya-" Zafran bahkan tidak bisa melanjutkan gumamannya karena tidak tahu bagaimana perasaannya sendiri membuatnya menjadi frustasi.
"Kenapa kalian cuma diam di sini sih?"
Zafran dan Zea terjingkat kaget saat mendengar teriakan Zayyan. Dengan cepat Zea mengusap air mata yang ada diwajahnya, sementara Zafran mencoba untuk bersikap biasa dan melupakan kegelisahan yang sedang di rasakan.
"Ayo kita naik itu, Zea!" ajak Hana sambil menunjuk ke arah wahana tornado.
__ADS_1
Zea tersenyum tipis. "Maaf, Hana. Aku harus segera pulang, mungkin lain kali kita bisa main." Tatapan matanya tampak sendu.
"Ada apa, apa kau baik-baik saja?" tanya Hana dengan khawatir. Padahal sesaat yang lalu Zea terlihat baik dan bersemangat, tetapi sekarang malah tampak lemas.
Zea terdiam sambil memperhatikan wajah Hana. Wajah teduh nan manis yang membuat siapa saja merasa ingin mendekat, dan jika dibandingkan dengan wajahnya, jelas wajahnya lebih cantik dan mempesona.
"Kau sangat manis dan menggemaskan, Hana," ucap Zea. Ingin sekali dia membenci wanita yang disukai oleh Zafran, tetapi saat menatap kedua mata Hana yang tulus dan hangat, dia malah merasa bersalah.
Hana merasa bingung karena tiba-tiba mendengar pujian dari Zea. "Te-terima kasih, Zea." Dia merasa malu. "Ka-kalau gitu pulang saja, sepertinya kau sedang tidak enak badan."
Zea menggelengkan kepalanya. "Aku bisa naik taksi, kalian lanjutkan saja mainnya." Dia menggenggam kedua tangan Hana.
Dengan cepat Zea berbalik dan langsung pergi dari tempat itu tanpa menghiraukan panggilan Hana. Air mata sudah terjun bebas diwajahnya, bahkan dadanya terasa sangat sakit bak ditusuk oleh ribuan anak panah secara bersamaan.
Zea segera memanggil taksi dan pergi meninggalkan tempat itu membuat Hana dan Zayyan menatap bingung, sementara Zafran hanya diam sambil menatap kepergian Zea.
"Sebenarnya apa yang terjadi, Kak? Perasaan tadi kak Zea baik-baik saja?" tanya Zayyan sambil menatap sang kakak dengan curiga, begitu juga dengan Hana yang merasa khawatir bercampur dengan penasaran.
Zafran menghela napas kasar. "Entahlah, aku akan bicara dengannya nanti." Dia jadi merada sedikit bersalah dengan Zea walau tidak melakukan apa, tetapi dia tahu jika saat ini wanita itu sedang terluka
Sejujurnya sudah lama Zafran tahu jika Zea menyukainya. Walau tidak pernah mempunyai kekasih, bukan berarti dia bod*oh karena tidak menyadari sikap Zea yang sangat ketara sekali.
Itu sebabnya Zafran selalu menjaga jarak dengan Zea karena saat itu dia benar-benar tidak ingin menjalin hubungan dengan seseorang, karena ingin fokus menyelesaikan pendidikan agar bisa segera membantu papanya.
Tahun demi tahun perasaan Zafran tetap tidak berubah. Dia hanya menganggap Zea sebagai seorang teman, dan tidak mau memberi harapan sedikit pun agar nantinya wanita itu tidak kecewa. Walau teman-temannya yang lain selalu menyuruhnya untuk pacaran dengan Zea.
"Apa yang harus aku katakan padanya? Tidak mungkin aku berkata bahwa tidak menyukainya, sementara dia tidak mengatakan apapun dan hanya bertanya apakah aku menyukai Hana atau tidak. Kenapa cinta serumit ini sih?"
•
•
__ADS_1
•
Tbc.