
Kedatangan Via benar-benar disambut dengan sangat ramah oleh kedua orang tua Ryder, bahkan Ryder sendiri juga sering melempar senyum pada wanita itu membuat kedua orang tuanya merasa terheran-heran.
Via lalu memberikan makanan yang sengaja dia bawa dari rumah, tentu saja atas permintaan Yara yang ingin memberikannya pada kedua orang tua Ryder.
"Ya ampun, seharusnya kalian tidak perlu repot-repot seperti ini," ucap Adena sambil melihat makanan yang ada di atas meja dengan kagum.
"Ini sama sekali tidak merepotkan, Adena. Mari, silahkan dicoba."
Via mempersilahkan Adena dan juga yang lainnya untuk menikmati makanan yang sudah dia bawa, begitu juga dengan Yara yang memang belum sarapan saat berangkat ke rumah sakit.
Dengan semangat 45, Eric menyantap makanan yang ada di hadapannya. Begitu juga dengan Adena yang tampak sangat menikmati makanan dari Via, sementara Yara sedang membawakan makanan untuk Ryder.
"Maaf, kau hanya boleh memakan ini saja."
Yara memberikan bubur untuk Ryder membuat laki-laki itu menoleh ke arahnya.
"Tidak apa-apa, makanan ini jauh lebih baik dari pada makanan rumah sakit," ucap Ryder sambil mengulurkan tangan untuk mengambil makanan yang ada pada Yara.
Namun, tiba-tiba Yara memberikan satu suapan untuk Ryder membuat tangan laki-laki itu menggantung di udara.
"Ayo, aak! Nanti keburu buburnya dingin."
Jantung Ryder berdegup dengan sangat kencang saat melihat Yara menyuapinya, sementara wanita itu memajukan tangan sehingga sendok yang di pegang mengenai bibirnya.
Via yang melihat Yara menyuapi Ryder terpaku di tempatnya, begitu juga dengan Zafran yang menatap laki-laki itu dengan sangat tajam.
Dengan cepat, Ryder membuka mulutnya hingga satu suapan mendarat dengan sempurna.
Yara tersenyum saat melihat Ryder makan dengan lahap, tanpa dia sadari jika apa yang dilakukan benar-benar mengguncang jiwa laki-laki itu.
"Dia menyuapiku? Dia menyuapiku tanpa ku minta?"
__ADS_1
Kalimat itu terus berputar-putar dalam kepala Ryder sampai suapan demi suapan telah masuk ke dalam mulutnya, hingga tidak sadar jika piring berisi bubur itu sudah kilat tidak bersisa.
"Kau pasti gemuk setelah keluar dari rumah sakit," ucap Yara karena Ryder selalu menghabiskan makanan yang dia beri.
"Apa kau menyukai laki-laki gemuk?"
Lagi-lagi Ryder bertanya pada Yara membuat wanita itu tersenyum. "Aku menyukai laki-laki sepertimu."
"Apa?" teriak Ryder membuat semua orang yang ada di ruangan itu terlonjak kaget, bahkan Eric sampai terbatuk-batuk karena tersedak makanan yang ada di mulutnya.
Adena segera memberikan minum untuk sang suami sebelum malaikat maut menampakkan diri, dia lalu menatap putranya dengan tajam.
"Apa yang terjadi denganmu, Ryder? Apa kau tidak bisa memelankan suaramu?" ucap Adena dengan kesal. Anaknya itu bukan hanya mengejutkan dia dan sang suami, tetapi keluarga Yara juga.
Ryder langsung meminta maaf pada Via dan juga Zafran yang sedang menatapnya dengan heran, sementara Yara sudah beranjak menjauhi laki-laki itu dengan menahan tawanya.
"Hahaha. Rasain kau, dasar buaya darat."
Yara terkekeh saat sudah berada di luar ruangan. Dia sengaja menjawab seperti itu karena Ryder terus saja bertanya tentang lelaki padanya, dan dia bukan wanita bod*oh yang tidak mengerti akan maksud dari pertanyaan laki-laki itu.
"Dasar anak muda jaman sekarang." Yara menggelengkan kepalanya, dia lalu berbalik dan hendak masuk kembali ke dalam ruangan itu.
"Astaghfirullah." Yara memekik kaget saat berbalik dan langsung berhadapan dengan seseorang.
Zafran, yang ternyata ikut keluar dari ruangan itu berdiri tepat di belakang sang kakak dan tidak sengaja mengagetkan kakaknya itu.
"Kau ini, Zaf. Untung mbak gak kena serangan jantung," ucap Yara sambil memegangi dadanya yang berdebar-debar.
"Apa yang terjadi dengan Mbak dan laki-laki itu?" tanya Zafran dengan tajam.
Sebelumnya dia sempat mencaritahu siapa laki-laki yang dirawat oleh sang kakak, dan jujur saja dia takut jika laki-laki itu berniat buruk pada kakaknya.
__ADS_1
"Hem, apa maksudmu?" Yara merasa tidak mengerti.
Zafran menghela napas kasar. "Dia bukan laki-laki baik, Mbak. Pokoknya Mbak tidak boleh terlalu dekat dengannya."
Yara tersenyum lalu memeluk lengan Zafran dengan mesra, hingga membuat beberapa petugas medis yang melewati tempat itu membelalakkan mata.
"Hus, enggak boleh ngomong gitu, Zaf. Tapi yah, Mbak bisa jaga diri kok. Jadi kau tidak usah khawatir," ucap Yara sambil memandang sang adik dengan sayu.
Yara tahu jika Zafran pasti sangat mengkhawatirkannya, apalagi adiknya itulah yang membongkar perselingkuhan yang telah mantan suaminya lakukan.
Zafran kembali menghela napas kasar lalu menganggukkan kepala, kemudian Yara bergegas masuk ke dalam ruangan.
"Aku tidak bisa untuk tidak khawatir, Mbak. Aku akan memastikan jika laki-laki itu tidak akan berani macam-macam dengan Mbak." Zafran mengepalkan kedua tangannya dengan erat.
Setelah menghabiskan beberapa waktu di rumah sakit, Via dan Zafran berlalu pamit untuk pulang. Begitu juga dengan Adena dan Eric yang harus kembali ke rumah untuk membersihkan diri, juga mengerjakan pekerjaan yang lain.
Setelah semua orang pergi, tinggallah Ryder dan juga Yara yang berada di dalam ruangan itu. Yara tampak sibuk mengerjakan sesuatu, sementara Ryder sibuk memandangi wanita itu.
"Apa maksud ucapannya tadi? Apa dia ingin bermain-main denganku?"
Ryder terus memikirkan apa yang Yara ucapkan beberapa waktu yang lalu, dan dia belum bisa untuk langsung menanyakannya.
"Hello Sayang, bagaimana keadaanmu?"
Ryder dan Yara terlonjak kaget saat tiba-tiba ada seorang wanita yang masuk ke dalam ruangan itu.
•
•
•
__ADS_1
Tbc.