
Hana terdiam saat mendengar ucapan Via. Benarkah dia tidak pantas diperlukan dengan buruk? Tidak, semua itu pasti tidak benar. Buktinya selama ini tidak ada satu orang pun yang peduli pada apa yang terjadi padanya, bahkan mereka semua memperlakukannya seperti itu.
"Tidak peduli keburukan seperti apa yang sudah mereka lakukan, yang pasti kau tidak pantas untuk diperlakukan seperti itu. Setiap manusia memiliki hak dan kebebasan, begitu juga denganmu, Hana. Jika ada yang memperlakukanmu dengan buruk, maka kau bisa melawan atau membela diri," ucap Via dengan tatapan hangat.
Hana menggelengkan kepalanya. "Tidak, saya tidak bisa melawan atau pun membela diri. Setiap saya melakukannya, mereka pasti akan memperlakukan saya lebih buruk dari itu. Lalu setiap saya memohon pengampunan dan meminta bantuan orang lain, mereka menganggap saya rendah seolah saya memang pantas untuk diperlakukan seperti itu." Suaranya terdengar lirih dan serak.
Via kembali memeluk Hana dengan erat, sungguh dia tidak bisa membayangkan keburukan seperti apa yang selama ini orang-orang lakukan pada Hana.
"Tidak, Hana. Kau adalah wanita yang hebat dan baik, kau tidak pantas untuk dipandang rendah dan diperlakukan seperti itu. Semua orang itu sama, baik kau dan juga tante. Kita sama-sama berhak untuk hidup bahagia," ucap Via kemudian. Dia lalu melerai pelukannya dan mengusap air mata yang ada diwajah Hana.
Via lalu bertanya tentang keburukan apa yang selama ini telah Hana rasakan, juga siapa yang telah melakukan hal tidak bermoral seperti itu.
Hana yang semula ragu dan sungkan terhadap Via, kini dengan leluasa menceritakan semua masa kelam yang selama ini dia rasakan. Baik dulu dan sekarang, rasanya dia tetap saja hidup bak di neraka.
Via tidak dapat menahan air matanya saat mendengar semua cerita Hana. Bagaimana mungkin ada manusia berhati busuk yang tega menyiksa orang lain seperti mereka? Bahkan ayah Hana sendiri juga tidak peduli pada anaknya, sungguh orangtua yang sangat tidak bertanggung jawab.
__ADS_1
Bukan hanya itu saja, bahkan setelah menikah pun Hana tetap diperlakukan dengan tidak baik. Sungguh manusia-manusia yang tidak punya hati dan perasaan.
"Ma-maaf karena sudah menceritakan semuanya pada Anda, Nyonya, dan terima kasih karena sudah bersedia untuk mendengarnya," ucap Hana dengan sendu setelah selesai menceritakan semuanya. Hatinya terasa lega seperti beban berat yang selama ini dia rasakan menghilang, sungguh rasanya nyaman dan tenang.
"Tidak, Hana. Tante senang bisa mendengar semua ceritamu, dan tante merasa benar-benar marah dengan apa yang mereka lakukan. Semuanya pasti sangat berat untukmu, terima kasih sudah bertahan sampai saat ini, Hana. Kau wanita yang hebat dan baik, kau layak untuk merasa bahagia." Lirih Via dengan suara bergetar menahan tangis.
Hana menganggukkan kepalanya dengan perasaan hangat dan senang. Lagi-lagi untuk pertama kalinya ada yang berkata seperti ini padanya, bahkan mengucapkan terima kasih karena dia telah bertahan dari kejamnya perilaku manusia.
"Sekarang lepaskanlah semua itu, Hana. Kau berhak untuk bebas dan hidup sesuai dengan apa yang kau mau. Tinggalkan mereka, dan bukalah lembaran baru dalam hidupmu. Tante siap untuk mendukung semua yang ingin kau lakukan."
Hana terkesiap dengan tatapan tidak percaya saat mendengar ucapan Via. "A-Anda akan mendukung saya?" Dia merasa bingung. "Ta-tapi kenapa?"
Hana terdiam sambil mengepalkan kedua tangannya dengan erat. Sungguh dia tidak ingin lagi diperlakukan dengan buruk, tetapi selama ini Dion berkata jika mencintainya.
"Di-dia mencintai saya, dia bilang tidak ada orang lain yang mencintai saya sepertinya. Jadi-"
__ADS_1
"Itu tidak benar, Hana," potong Via dengan cepat membuat Hana tidak bisa melanjutkan ucapannya. "Jika dia memang mencintaimu, maka dia akan memperlakukanmu dengan baik. Dia akan menjaga perasaanmu dan memberikan kebahagiaan untukmu, dia tidak akan menyakitimu dengan sengaja."
Hana kembali diam mencoba untuk memikirkan apa yang Via katakan. Yah, selama ini Dion memang kerap memperlakukannya dengan buruk, tetapi terkadang laki-laki itu juga memerlakukannya dengan baik.
"Maaf Hana, sebenarnya tidak baik tante berkata seperti ini padamu, tapi tante juga tidak bisa diam saja saat mengetahui apa yang sudah terjadi padamu. Menurut tante, suamimu tidak benar-benar mencintaimu. Dia mempermainkan perasaan dan merusak mentalmu, dia berkata seolah-olah tidak ada yang mencintaimu selain dia. Dengan ucapannya itu, kau jadi merasa rendah diri dan berpikir jika kau pantas diperlakukan dengan buruk. Semua itu salah, itu sama sekali tidak benar. Itu bukankah cinta, tapi sebuah obsesi untuk menghancurkan mental orang lain dan membuatmu merasa jika hidupmu sendiri tidak berharga," ucap Via dengan geram. Betapa hinanya laki-laki yang telah mempermainkan dan merusak mental orang lain seperti itu.
Hana semakin menundukkan kepalanya mendengar kata demi kata yang Via ucapkan, dan apa yang wanita itu katakan serasa menusuk dadanya dengan kuat hingga membuat rasa sakit yang menyesakkan dada.
"Tante juga seorang wanita, tante tidak tega melihatmu diperlakukan seperti itu. Untuk malam ini menginaplah di sini dan pikirkan semuanya dengan tenang. Keluarkan semua yang ada dalam hatimu. Apapun keputusan yang kau ambil, tante akan mendukungnya," ucap Via kembali sambil mengusap punggung Hana dengan lembut.
"Tante hanya ingin kau bahagia, Hana. Tante ingin kau menjalani kehidupanmu dengan bahagia."
•
•
__ADS_1
•
Tbc.