Takdir Cinta Yang Kau Pilih

Takdir Cinta Yang Kau Pilih
Bab 168. Kebersamaan Dengan Masyarakat Desa.


__ADS_3

Semua keluarga Yara dan Ryder tampak berbaur dengan masyarakat. Tidak ada sedikit pun kecanggungan di antara mereka, terutama Via yang memang berasal dari masyarakat biasa seperti para penduduk.


Vano dan Eric juga tampak berbincang dengan Edward, tentu saja isi perbincangan mereka hanya tentang bisnis dan bisnis saja.


"Jadi Anda akan kembali tinggal di kota?" tanya Vano pada Edward.


Edward menganggukkan kepalanya. "Mungkin saya akan menetap di sana, Tuan. Dan akan kembali ke sini hanya untuk mengunjungi Ryder dan Yara saja."


Vano mengangguk paham. Semalam Ryder sudah menceritakan bagaimana kehidupan Edward, untuk itulah dia tidak banyak bertanya lagi.


"Kenapa tidak menetap di sini saja, Pak? Kami pasti akan sangat merindukan Anda," ucap Ryder.


Edward tersenyum. Terlalu banyak kenangan indah dan menyakitkan di desa ini, hingga rasanya dia tidak tahan dan memutuskan untuk menjauh saja.


"Di sini ada mending istri dan juga mending putra Anda, juga ada aku dan Yara. Apa Anda akan meninggalkan kami?" tanya Ryder.


Edward terdiam dengan tatapan sendu. Tentu saja dia tidak ingin meninggalkan mereka, tetapi dia juga tidak mampu untuk bertahan.


"Kau tahu bagaimana perasaanku ini, Ryder. Jadi jangan bertanya seperti itu," jawab Edward dengan lirih.


Eric yang ada di samping Edward langsung menepuk bahu laki-laki paruh baya itu, membuat Esward melihat ke arahnya. "Saya memang tidak tahu bagaimana perasaan Anda, dan saya juga tidak pernah merasakan kehancuran seperti yang Anda rasakan. Tapi saya tahu bahwa Anda sangat menyayangi anak dan menantu saya, dan mereka juga menyayangi Anda. Tidak bisakah Anda tetap bersama mereka dan menjaga mereka untuk kami?" Dia menatap dengan penuh harap.


Edward tampak terkejut dengan apa yang Eric ucapkan, tidak disangka laki-laki itu akan mengatakan hal sedemikian rupa.


"Apa yang besan saya katakan benar, Pak. Anda sudah seperti orangtua bagi mereka, dan mereka sudah Anda anggap sebagai anak sendiri. Kami tidak bisa menemani mereka dan menjaga mereka, hanya Andalah yang bisa. Maukah Anda melakukannya?" ucap Vano.

__ADS_1


"Saya percaya bahwa akan ada hikmah dari setiap masalah atau pun cobaan dalam hidup, begitu juga dengan Anda. Jangan biarkan kesedihan terus membelenggu hati dan jiwa Anda, karena percayalah jika mendiang istri dan anak Anda pasti tidak ingin melihat Anda seperti itu. Mereka tidak akan tenang jika melihat orang yang mereka sayangi dan cintai hidup dalam penderitaan," sambung Vano kemudian.


Kedua mata Edward tampak menggantung mendung mendengar ucapan Vano. Apa yang laki-laki itu katakan benar-benar menusuk relung hatinya yang paling dalam, hingga membuatnya ingin meneteskan air mata.


Eric kembali mengusap bahu Edward seperti memberikan dukungan untuk laki-laki paruh baya itu, agar Edward kembali bersemangat dalam menjalani kehidupan yang kejam ini.


***


Malam harinya, Yara dan semua keluarga sedang duduk di taman yang ada di samping rumah. Taman itu benar-benar sangat nyaman, walau bunga-bunganya masih baru mulai ditanam.


"Mama dan Papa tidak akan langsung pulang 'kan?" tanya Yara pada kedua orangtuanya dan juga sang mertua.


Dua pasang suami istri itu menggelengkan kepala mereka secara bersamaan. "Tidak, Sayang. Lusa kami baru akan kembali." Jawab Vano.


Yara tersenyum senang. Dia ingin menghabiskan banyak waktu bersama dengan mereka semua, dan mengajak mereka ke tempat paling terindah di desa ini.


Ryder menganggukkan kepalanya. "Semua aman, Pa. Setelah rumah sakit itu selesai, para petugas medis akan langsung datang ke tempat ini. Tapi mereka harus menempati rumah penduduk dulu, karena aku belum menyiapkan tempat tinggal untuk mereka."


Eric mengangguk-anggukkan kepalanya. "Baguslah kalau seperti itu. Jika ada masalah atau butuh bantuan, kau harus segera menghubungi papa."


Ryder mengangguk paham, begitu juga dengan sang mertua yang ikut menawarkan diri untuk membantu pekerjaannya.


Tepat pukul 10 malam, mereka semua kembali ke kamar masing-masing untuk istirahat. Apalagi mereka habis melakukan perjalanan panjang siang tadi, jelas tubuh mereka terasa sangat lelah.


"Ya Allah," gumam Yara sambil merebahkan tubuhnya ke atas ranjang. Dia memejamkan kedua mata seolah menikmati kenyamanan yang sedang dirasakan saat ini.

__ADS_1


Tiba-tiba, kedua mata Yara kembali terbuka saat ada sebuah tangan yang melingkar di perutnya. Dia lalu tersenyum ke arah orang tersebut dan langsung mencubit punggung tangannya.


"Aw, sakit tahu," ucap Ryder sambil mengusap punggung tangannya yang terasa panas. Istrinya itu memang suka sekali mencubiti orang lain, terutama dia yang selalu kena cubitannya.


"Habis kamu ngagetin aku, Mas. Aku kira siapa tadi," ucap Yara mencari alasan dan pembelaan.


Ryder mencebikkan bibirnya, tetapi pelukan di perut Yara sama sekali tidak dilepaskan. "Oh Yah, apa ada sesuatu lagi yang kurang di rumah kita ini, Sayang?" Dia bertanya sambil mengecupi tengkuk sang istri yang terbuka, membuat bulu kuduk Yara langsung meremmang.


"Geli, Mas!" seru Yara sambil menahan bibir Ryder yang terus saja ingin menciuminya.


Bukannya berhenti, Ryder malah semakin ganas dengan menghisap dan menggigit leher Yara sampai meninggalkan stempel kepemilikan.


"Mas pengen, Sayang," ucap Ryder dengan suara berat karena menahan hasrat yang mulai naik dan ingin segera dipuaskan.


Yara tersenyum malu-malu saat mendengar ucapan sang suami. "Kamu kan capek, Mas. Kita istirahat saja ya." Dia mengusap punggung tangan suaminya dengan lembut.


Ryder menggelengkan kepalanya dan langsung membalikkan tubuh Yara hingga mereka saling berhadapan. "Aku sama sekali tidak capek, Sayang. Walau aku habis mendaki gunung Himalaya pun, aku tidak akan capek untuk melakukannya denganmu."


"Dasar mes*um!"




__ADS_1


Tbc.



__ADS_2