Takdir Cinta Yang Kau Pilih

Takdir Cinta Yang Kau Pilih
Bab. 50. Sangat Syok Sekali.


__ADS_3

Akhirnya Vano meminta waktu untuk membicarakan semua itu pada semua keluarganya, khususnya Mahen dan juga Via yang merupakan orang tua kandung Yara. Juga tidak lupa pada putrinya sendiri, karena keputusan terakhir berada di tangan wanita itu.


Eric mengangguk paham. Memang tidak mudah memberikan anak sendiri pada orang lain, walau dalam artian hanya untuk merawat saja. Dia sendiri juga pasti akan melakukan hal yang sama jika ada yang meminta Ryder, walau hal itu sangat tidak mungkin terjadi.


Setelah pembasahan Ryder selesai, Eric mengajak Vano dan juga River untuk makan siang bersama sekaligus untuk membahas tentang bisnis. Apalagi dia berencana untuk membangun cabang perusahaannya di London, dan sepertinya Tuhan membantu rencananya dengan mempertemukan dia dengan Vano.


Sementara itu, di tempat lain terlihat Aidan sedang menundukkan kepalanya di hadapan sang atasan. Sudah hampir satu jam dia mendengarkan kemarahan laki-laki paruh baya itu, tentu saja dia tidak berani membantah karena memang melakukan kesalahan.


"Kau baru saja mendapat surat peringatan, tapi sekarang kau malah datang ke perusahaan jam 11 siang?"


Surya menatap Aidan dengan tidak percaya. Dia benar-benar merasa geram dan sudah ingin sekali memecat laki-laki itu.


"Maafkan saya, Tuan."


Untuk kesekian kalinya Aidan mengucapkan kata maaf, memangnya apa lagi yang bisa dia katakan selain permintaan maaf?


"Hah."


Surya mengusap wajahnya dengan kasar. Dia lalu mendudukkan tubuhnya yang sejak tadi berdiri di hadapan laki-laki itu.


"Aku akan memberimu satu kesempatan lagi, tapi jika kau membulat ulah. Maka jangan salahkan aku jika langsung memecatmu."


Aidan menganggukkan kepalanya sambil mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya.


"Sebagai hukuman, selama 3 bulan gajimu akan dipotong setengahnya."


Aidan langsung mengangkat kepalanya dan menatap laki-laki paruh baya itu dengan tajam.


"Di-di potong?"


"Benar. Apa kau pikir aku hanya akan memaafkanmu begitu saja?" Surya menatapnya dengan tak kalah tajam. "Sekarang kembali ke ruanganmu."


Aidan tidak bisa lagi mengucapkan apa-apa saat atasannya sudah memulai pekerjaan, dia terpaksa keluar dari ruangan itu dan berjalan gontai ke ruangannya sendiri.


Brak.

__ADS_1


Aidan menutup pintunya dengan kasar. Dia lalu mengusap wajahnya dengan helaan napas frustasi.


"Jika mereka memotong gajiku, lalu aku harus membayar cicilan rumah pakai apa?"


Dia merasa bingung sendiri. Jika gajinya tinggal setengah saja, maka hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari. Belum lagi kendaraan yang harus diisi minyak dan juga perawatan, juga untuk membeli obat ibunya yang lumayan mahal.


Aidan memijat pelipisnya yang berdenyut sakit. Haruskah dia mengambil uang tabungannya untuk membayar cicilan? Tetapi uang itu untuk jaga-jaga jika penyakit ibunya kembali kambuh, karena terkadang ibunya harus dirawat secara intensif.


Aidan lalu mengambil ponselnya untuk melihat tinggal berapa uang tabungan yang ada di dalam rekeningnya, itu pun sebenarnya uang yang dia dan Yara kumpulkan untuk persiapan punya anak. Dia sengaja tidak membahasnya karena kemungkinan Yara melupakan uang tabungan tersebut.


"Tunggu, apa ini?"


Aidan memekik kaget saat melihat apa yang ada dalam ponselnya. Seketika jantungnya berdegup kencang dengan tangan gemetaran, sampai membuat benda pipih itu terjatuh membentur lantai.


"Apa, apa yang terjadi?"


Sesaat Aidan terdiam untuk memikirkan apa yang baru saja dia lihat. Kenapa saldonya hanya tinggal beberapa pound sterling saja? Bukankah dia masih mempunyai tabungan sekitar 4.352 pound sterling? (80 juta dalam rupiah).


Aidan langsung menyambar ponselnya yang untung saja masih menyala. Dia segera memeriksa apa yang terjadi sehingga membuat saldonya menjadi kosong.


Mata Aidan membulat sempurna saat melihat ada sebuah transaksi ke rekening yang tidak dia kenal, bahkan rekening itu bukanlah rekening milik pribadi.


Dia melihat transaksi di lakukan pada pukul 2 malam, itu artinya dia masih berada di rumah Rosa dan pasti sedang terlelap.


"Rosa!"


Aidan mengepalkan kedua tangannya dengan erat sampai membuat ponselnya yang berada dalam genggaman berbunyi. Mungkinkah wanita itu yang telah mengambil ponselnya, dan melakukan transaksi?


Aidan langsung beranjak keluar dari ruangan untuk menemui Rosa, karena sejak tadi dia belum sempat menemui wanita itu.


"Di mana Rosa?" tanya Aidan pada seorang wanita yang berada satu meja dengan Rosa.


"Maaf, Pak. Hari ini Rosa tidak masuk,"


"Apa?"

__ADS_1


Aidan memekik kaget membuat beberapa orang yang ada di tempat itu ikut terkejut, mereka langsung melihat ke arahnya dengan heran.


"Tidak masuk kau bilang?"


Wanita itu mengangguk. Dia juga mengatakan jika sejak pagi sudah menghubungi Rosa, tetapi nomor wanita itu malah tidak aktif.


Aidan semakin merasa geram saat mendengar ucapan wanita itu, dia segera berbalik dan langsung pergi dari tempat itu menuju apartemen Rosa.


"Dasar kurang ajar. Apa benar-benar dia yang telah mentransfer semua uangku?"


Aidan memukul setir mobilnya dengan kuat sampai membuat tangannya memerah. Sumpah demi apapun juga, saat ini dia benar-benar merasa sangat emosi. Jika benar wanita itu yang mengambilnya, maka lihat saja. Dia tidak akan segan-segan melaporkannya pada polisi.


Sesampainya di kawasan apartemen, Aidan segera keluar dari mobil dan berjalan cepat ke unit apartemen Rosa. Dia bahkan sampai berlari agar bisa cepat sampai.


Brak.


Aidan membuka pintu unit apartemen itu dengan kasar, dan keadaan tempat itu masih sama pada saat dia tinggalkan.


Aidan langsung berteriak memanggil Rosa sambil mencarinya ke semua sudut tempat itu, tetapi tidak ada tanda-tanda wanita itu ada di sana.


Aidan mulai merasa tidak tenang, dengan cepat dia membuka lemari pakaian dan tercengang saat melihat lemari itu kosong tanpa apapun.


"Apa, apa dia kabur setelah mengambil uangku?"


Mendadak dada Aidan menjadi sesak hingga membuat tubuhnya terhuyung dan jatuh ke atas lantai.


Bruk.


Aidan benar-benar merasa sangat syok sampai tidak bisa berkata apa-apa. Dia menatap ke arah lemari itu dengan tatapan kosong.


"Dia, dia mengambil uangku?"



__ADS_1



Tbc.


__ADS_2