Takdir Cinta Yang Kau Pilih

Takdir Cinta Yang Kau Pilih
Bab 155. Di terima.


__ADS_3

Papa Adrian selaku opa Yara memberikan kata sambutan pada keluarga Ryder, tidak lupa dia juga mempersilahkan mereka untuk menikmati makanan dan minuman yang sudah tersaji di hadapan mereka.


Dia juga menyuruh Via untuk segera memanggil Yara karena semua orang sudah berkumpul di ruangan itu, termasuk keluarga Ryder juga.


Semua orang berdecak kagum saat melihat kecantikan yang terpancar diwajah Yara, terutama Ryder yang sampai tidak bisa mengedipkan matanya. Padahal wajah Yara hanya dipoles dengan makeup tipis saja, dan tidak setebal saat menikah.


Setelah Yara bergabung dengan yang lainnya, acara pun segera di mulai sebelum malam semakin larut.


"Baiklah, untuk mempersingkat waktu, langsung saja kami ingin menanyakan maksud dan tujuan Anda semua datang ke rumah kami ini. Kiranya Anda dapat memberitahukannya," ucap papa Adrian. Dia lalu mempersilahkan keluarga Ryder untuk bicara.


"Sebelumnya, saya dan keluarga mengucapkan banyak terima kasih atas sambutan yang sangat hangat dan ramah ini. Kami merasa sangat senang bisa berkunjungke rumah ini," ucap Eric.


"Kalau begitu, langsung saja saya ingin mengatakan maksud dan tujuan kami semua datang ke sini," sambungnya sambil melihat ke arah Ryder. "Putra saya yang bernama Ryder Alfonzo telah jatuh hati pada putri Anda yang bernama Ayara Myesa. Karena itulah kami datang dengan niat baik, yaitu untuk meminta izin dan restu dari Anda semua bahwasannya putra saya ingin meminang putri Anda."


Semua keluara Yara mengangguk-anggukkan kepala mereka, seolah memberi tanda bahwa telah mengerti dengan maksud dan tujuan kedatangan keluarga Ryder.


"Baiklah, terima kasih karena sudah memberitahu maksud dan tujuan Anda semua datang ke rumah ini. Jadi, biarkanlah kita semua mendengarnya secara langsung dari saudara Ryder," ucap papa Adrian. Dia mempersilahkan Ryder untuk mengungkapkan perasaannya secara langsung.


Ryder tersenyum sambil menatap ke arah Yara yang sedang menunduk. "Dengan mengucap bismillahirrahmanirrahim, saya yang bernama Ryder Alfonzo, datang ke rumah keluarga ini karena telah jatuh cinta dan ingin melamar putri keluarga ini yang bernama Ayara Myesa. Saya datang dengan niat baik dan tulus untuk meminta izin agar bapak dan ibu memberikan restu kepada saya. Saya bukan hanya ingin melamar Yara, tapi saya juga ingin menjadikannya sebagai pendamping hidup untuk selamanya." Ryder berkata dengan pelan tetapi penuh dengan ketegasan, seolah menjelaskan bahwa perasaannya tidak main-main.


Semua keluarga Yara tersenyum mendengar ucapan Ryder, sementara Yara sendiri tetap menunduk dengan jantung berdebar-debar. Wajahnya juga tampak merah merona karena merasa malu di hadapan banyak orang.


"Kami sekeluarga mereka senang dan terharu dengan niat baik dari saudara Ryder. Kami sebagai orangtua Yara hanya bisa memberi restu dan mendo'akan yang terbaik untuk anak-anak. Itu sebabnya, biarlah yang punya badan sendiri yang menjawab lamaran saudara Ryder ini. Karena percuma saja jika semua keluarga setuju tapi tidak tahu bagaimana perasaan orang yang menjalaninya," ucap Papa Adrian. Dia lalu menggenggam tangan Yara yang sedang duduk tepat di sampingnya, dan menyuruh cucunya itu untuk memberikan jawaban atas ungkapan hati Ryder.


Yara mengangguk sambil menegakkan kepalanya walau dengan perasaan yang sangat gugup. "Bismillahirrahmanirrahim, saya yang bernama Ayara Myesa sudah mendengar keinginan hati dari saudara Ryder untuk melamar saya. Dengan menyebut nama Allah, saya menerima lamaran dari suadara Ryder, dan insyaallah saya siap untuk menikah dengannya."


"Alhamdulillah." Semua orang langsung mengucap syukur saat mendengar jawaban Yara. Terlihat jelas kebahagian diwajah mereka semua, terutama Ryder yang benar-benar merasa lega karena sudah menyampaikan isi hatinya.


Setelah lamaran itu di terima, kedua orangtua Ryder segera menyerahkan barang-barang yang sudah mereka bawa untuk Yara. Riana langsung memakaikan perhiasanke tubuh Yara, membuat Yara terus tersenyum bahagia.


Kemudian masuklah ke acara yang selanjutnya yaitu sesi foto bersama dengan para keluarga. Baik keluarga Yara dan keluarga Ryder tampak sangat bersemangat, terutama para anak-anak yang sejak tadi asyik bermain di luar rumah.

__ADS_1


Yara dan Ryder pun mengabadikan momen bersejerah itu. Ada berbagai foto yang berhasil diambil oleh fotografer, dan hasilnya sangat bagus sekali.


Selesai berfoto, semua keluarga lalu mulai membahas tentang pernikahan. Pihak Ryder ingin agar pernikahan itu dilakukan secepat mungkin, begitu juga dengan keluarga Yara juga menginginkan hal tersebut karena memang tidak ada lagi yang harus ditunggu.


Beberapa saat kemudian, semua keluarga telah sepakat jika pernikahan akan diadakan minggu depan. Jadi masih ada waktu selama seminggu untuk mempersiapkan semuanya, dan agar tidak lama-lama mengulur waktu.


Malam semakin larut, keluarga Ryder memutuskan untuk pamit pulang karena memang jam sudah menunjukkan pukul 11 malam lewat.


Semua keluarga mengantar keluarga Ryder sampai ke mobil, begitu juga dengan Yara yang terus tersenyum walau sebelumnya dia merasa sangat gugup sekali.


Ryder sendiri juga merasa benar-benar bahagia. Dia tidak pernah menyangka jika aka menikah membuat perasaannya sebahagia ini, bahkan tidak bisa untuk dilukiskan dengan kata-kata.


Setelah selesai mengantar Ryder dan keluarganya, Yara dan yang lainnya kembali masuk ke dalam rumah. Mereka lalu ikut membereskan ruangan bekas acara itu, karena tidak tega membiarkan pembantu membereskan semuanya.


"Istirahatlah, Nak. Kau pasti sangat lelah," ucap Mahen sambil mengusap puncak kepala Yara.


Yara mengangguk. Dia lalu merangkul lengan sang papa sambil menyandarkan kepalanya ke lengan tersebut. "Ayah tetap akan di sini sampai aku menikah, 'kan?"


Mahen tersenyum. "Kenapa? Apa ayah tidak boleh pulang dulu?" Dia bertanya dengan heran.


"Lalu bagaimana dengan adik-adikmu, Sayang? Mereka kan harus sekolah."


Benar juga. Yara menghela napas kasar, tidak mungkin dia bersikap egois dan memaksa ayahnya untuk tetap berada di rumah itu.


"Kenapa kau sedih seperti itu, Sayang?" Tiba-tiba Riani datang dan bergabung dengan mereka. Dia lalu mencubit pipi Yara membuat anak sambungnya itu tergelak. "Jangan khawatir, ayahmu akan tetap berada di sini sampai kau menikah, hem."


Kedua mata Yara langsung berbinar saat mendengarnya. "Benarkah, Ma? Lalu, bagaimana dengan adik-adik?" Dia jadi merasa tidak enak.


Riani tersenyum. "Tidak udah khawatir. Sebelum ke sini, mama sudah mengatur sekolah mereka melalui online. Jadi mereka tetap bisa berada di sini."


Yara langsung memeluk tubuh sang mama dengan erat, dia benar-benar merasa senang dengan apa yang mama sambungnya itu katakan.

__ADS_1


"Terima kasih, Ma. Terima kasih karena sudah memutuskan untuk tetap berada di sini," ucap Yara dengan lirih.


Riani lalu menganggukkan kepalanya. Setelah itu, dia segera menyuruh Yara untuk istirahat karena sudah sangat larut malam sekali.


Dari kejauhan, Vano dan Via tersenyum melihat apa yang Yara lakukan. Mereka yakin jika putri mereka itu sedang merasa gugup dan gelisah, itu sebabnya menyuruh semua orang untuk tetap menemaninya.


"Semoga rumah tanggamu kali ini berjalan dengan baik dan bahagia, Nak. Mama selalu mendo'akanmu," ucap Via dengan lirih. Orangtua mana pun tidak akan ada yang mau jika anak mereka kembali mengalami rusaknya rumah tangga.


"Insyaallah semuanya akan baik-baik saja, Sayang. Percayalah jika rumah tangga Yara kelak akan selalu bahagia, seperti rumah tangga kita," sahit Vano.


Via menganggukkan kepalanya sambil menatap sang suami. "Iya Mas, insyaallah semuanya akan baik-baik saja.


*


*


Keesokan harinya, seperti biasa semua orang bersiap untuk pergi ke tempat kerja masing-masing. Terlihat Yara juga sudah siap dengan pakaian dinasnya.


"Sarapan dulu, Sayang," ucap mama Cemelia saat melihat kedatangan Yara.


"Aku sudah terlambat, Oma. Sarapannya nanti saja ya," sahut Yara. Mungkin karena kelelahan, jadi tadi lagi dia bangun kesiangan.


"Sebentar, biar mama bikinkan bekal saja," seru Riani yang sedang sibuk menggoreng ayam. Dengan cepat dia mengambil kotak bekal untuk sarapan Yara.


Yara tersenyum melihat perhatian yang semua orang berikan padanya, begitu juga dengan Via yang baru selesai menata makanan di meja makan.


"Habiskan makanannya, ya. Awas kalau tidak."



__ADS_1



Tbc.


__ADS_2