Takdir Cinta Yang Kau Pilih

Takdir Cinta Yang Kau Pilih
Bab 172. Kenapa Dunia Kecil Sekali?


__ADS_3

Tidak terasa sudah dua hari berlalu keluarga Yara dan Ryder berada di desa. Hari ini mereka semua akan kembali ke kota untuk kembali melanjutkan aktivitas seperti biasa, begitu juga dengan kedua orangtua Ryder yang akan langsung kembali ke Indonesia.


Tinggallah Ryder dan Yara di rumah mewah itu bersama dengan dua orang pembantu, satu orang tukang kebun, dan juga dua orang penjaga keamanan di rumah mereka.


Selama dua hari ini mereka benar-benar menikmati saat-saat kebersamaan dengan semua keluarga, dan suasana langsung terasa sepi saat semua orang sudah pergi.


"Kita akan sering mengunjungi mereka, jangan sedih," ucap Ryder sambil mendudukkan tubuhnya ke samping sang istri yang sedang duduk di teras depan rumah.


Yara yang sedang memperhatikan orang-orang yang berlalu-lalang langsung menoleh ke arah Ryder. Senyum tipis terukir indah diwajahnya membuat hati laki-laki itu terasa teduh.


"Aku tidak merasa sedih, Mas. Aku hanya takut merindukan mereka," sahut Yara.


Memang ini bukan pertama kalinya dia tidak tinggal bersama kedua orangtua, karena memang sebelumnya dia sudah menikah dan hidup bersama dengan sang suami. Dia juga pernah menetap di Indonesia bersama dengan ayah kandungnya.


Namun, entah kenapa perasaannya terasa sesak. Dia bahkan sudah merasa rindu dengan keluarganya padahal baru beberapa jam saja mereka semua pergi dari tempat itu.


"Kalau rindu itu sudah pasti, Sayang. Sudahlah, nanti kita pasti berkumpul lagi dengan mereka," ucap Ryder kemudian.


Yara mengangguk paham. Dia lalu pamit pada Ryder untuk membeli beberapa bahan masakan ke warung yang ada di dekat rumah mereka, sekalian bertegur sapa dengan para tetangga.


"Jangan terlalu lama yah, dan ingat. Kau harus hati-hati," seru Ryder.


Yara kembali mengangguk. Dia lalu menyalim tangan Ryder dan berlalu pergi dari tempat itu sambil mengucap salam.


Ryder terus memperhatikan Yara yang sudah berjalan menjauh ke warung yang berada tepat di samping rumah mereka, terlihat ada beberapa ibu-ibu juga yang sedanf belanja di tempat itu.


"Walaupun semua masalah sudah selesai, aku harus tetap berhati-hati dan menjaga Yara dengan baik. Aku tidak ingin ada satu orang pun yang mengganggunya atau bahkan menyakitinya," gumam Ryder.


Dia yang berniat untuk masuk ke dalam rumag dan mengecek beberapa laporan di dalam ruang kerja, mengurungkan niat itu dan memilih untuk tetap duduk di teras agar bisa mengawasi sang istri.


Di sisi lain, Yara sudah sampai di warung dan bertegur sapa dengan semua orang yang ada di tempat itu. Tentu saja mereka menyambut kedatangannya dengan ramah, apalagi dia dan semua keluarganya sudah sangat baik pada mereka semua.

__ADS_1


"Wah, sepertinya tuan Ryder sangat mencintai Anda ya, Dokter Yara. Lihat, sejak tadi beliau tetap duduk di sana sambil memperhatikan Anda," seru salah seorang wanita paruh baya yang ada di tempat itu.


Yara langsung menoleh ke arah Ryder sambil tersenyum malu, begitu juga dengan yang lain. Merek merasa kagum dan juga iri melihat perhatian yang Ryder berikan, kenapa suami-suami mereka tidak seperti itu juga?


"Bukan seperti itu, Buk. Dia mungkin memang sedang ingin duduk di sana," sahut Yara dengan malu.


Semua orang tertawa melihat wajah Yara yang memerah karena malu, benar-benar sangat menggemaskan di mata semua orang.


Beberapa jam kemudian, setelah melewati jalanan yang lumayan jauh, akhirnya keluarga Yara dan Ryder sampai di rumah mereka masing-masing dengan selamat.


Jam masih menunjukkan pukul satu siang, jadi Zafran memutuskan untuk langsung ke perusahaan bersama dengan Junior. Apalagi pekerjaan mereka sudah menumpuk akibat libur selama beberapa hari.


"Makan siang dulu, Nak. Nanti perutmu sakit," seru Via saat melihat Zafran sudah rapi dengan setelan jas kantornya.


Zafran melihat ke arah sang mama. "Aku makan di kantor saja, Ma. Assalamu'alaikum." Dia langsung berjalan ke arah luar menuju di mana mobilnya berada saat ini.


Via hanya bisa menghela napas kasar saat melihat apa yang putranya lakukan. Dia lalu bergegas ke dapur karena ingin menyiapkan makan siang untuk suami dan juga putra bungsunya.


Tiba-tiba, Zafran terkejut saat melihat seorang wanita sedang melintas di hadapannya, dan sepertinya wanita itu tidak sadar jika mobilnya sedang melintas.


Tiiin!


"Awas!" teriak Zafran sambil menginjak rem mobil itu dengan kuat hingga menyebabkan suara dengungan yang cukup kencang.


Semua orang yang ada di tempat itu memekik kaget saat melihat apa yang terjadi, begitu juga dengan wanita yang sedang melintas di tengah jalan sampai membuat belanjaannya jatuh berhamburan di jalanan.


Ckiiitt.


Brak.


Suara benturan yang lumayan kuat kembali menggema di tempat itu saat Zafran banting stir ke arah kanan, hingga membuat mobil kesayangannya itu menabrak pembatas jalan.

__ADS_1


"Si*al. Bayiku jadi tergores," gerutu Zafran saat melihat mobilnya sudah menghantam pembatas jalan. Dengan cepat dia turun dari mobil untuk melihat wanita yang berdiri di depan mobilnya tadi.


"Anda baik-baik saja?" tanya beberapa orang yang ada di tempat itu pada Hana.


Ya, dialah wanita yang hampir saja ditabrak oleh Zafran. Hana merasa syok atas apa yang baru saja terjadi, hingga membuat kedua kakinya terasa lemas dan terduduk di atas aspal.


"Sa-saya, saya tidak apa-apa," jawab Hana dengan terbata-bata. Dia masih sangat terguncang karena hampir saja nyawanya melayang ke dunia lain.


"Anda baik-baik saja?" tanya Zafran yang baru saja datang ke tempat itu.


Hana yang masih terduduk di atas aspal langsung mendongakkan kepalanya saat mendengar suara seorang lelaki. Seketika kedua matanya membelalak lebar ketika melihat siapa laki-laki yang saat ini ada di hadapannya.


"Tu-tuan Zafran?" ucap Hana dengan terkejut.


Zafran sendiri berdecak kesal saat melihat Hana. Kenapa wanita itu selalu muncul di hadapannya sih? Tidak di desa dan tidak di kota, mereka selalu saja bertemu seolah dunia ini memang sangat kecil sekali.


"Tuan, Anda harus bertanggung jawab." Tiba-tiba salah satu wanita paruh baya yang ada di tempat itu bersuara, dan menyuruh Zafran untuk bertanggung jawab karena hampir saja mencelakai Hana.


Kedua mata Zafran menajam saat mendengar ucapan wanita paruh baya itu, sementara Hana langsung panik dan bergegas berdiri dari tempat itu.


"Kenapa aku harus tanggung jawab?" tanya Zafran dengan tajam. "Bukan aku yang salah, tapi dia yang tidak berhati-hati saat menyebrang jalan. Apa kalian semua tidak melihatnya?" Dia berucap dengan tegas dan penuh penekanan.


Semua orang terdiam dengan saling pandang, karena apa yang Zafran katakan memang benar. Namun, biar bagaimana pun seorang pengendara tetap harus bertanggung jawab dalam hal seperti ini.


"Ma-maaf, Tuan. Maafkan saya, sayalah yang seharusnya bertanggung jawab pada Anda."




__ADS_1


Tbc.


__ADS_2