Takdir Cinta Yang Kau Pilih

Takdir Cinta Yang Kau Pilih
Bab 110. Kembali Bertemu Keluarga Yara.


__ADS_3

Keesokan harinya, Yara segera berangkat menuju kota dengan diantar oleh salah satu pekerja dipabrik sesuai dengan perintah Domi.


Awalnya Domi dan Weny melarang Yara untuk kembali ke rumah karena mendapat pesan untuk menjaga wanita itu oleh Ryder, tetapi hal itu malah semakin membuat Yara ngotot ingin segera pulang ke rumah.


Pada saat yang sama, Ryder dan Eric sedang berada di salah satu hotel yang berada tidak jauh dari rumah Vano. Mereka sedang duduk saling berhadapan untuk membicarakan sesuatu karena tadi malam tidak sempat.


"Kenapa kau datang ke sini?" tanya Eric dengan tajam, matanya menatap ke arah luka yang ada dikepala sang putra.


"Aku ingin menemui Papa, sekaligus membantu keluarga Yara,"


"Bantuan apa yang bisa kau beri pada mereka? Lukamu saja masih seperti itu," ucap Eric dengan kesal.


Ryder tersenyum dengan simpul. "Ternyata Papa sangat mengkhawatirkan aku, ya. Papa bahkan sampai menyuruh mereka untuk-"


"Siapa bilang?" potong Eric dengan cepat. "Papa hanya memastikan kau tetap hidup, karena mamamu bisa menghajarku sampai mati kalau terjadi sesuatu denganmu." Dia ingat betul bagaimana kepanikan sang istri setiap hari hanya karena tidak mendengar kabar Ryder.


Ryder menganggukkan kepalanya. Dia juga sangat merindukan sang mama, apalagi sudah beberapa bulan mereka tidak bertemu.


"Ini." Eric meletakkan ponsel ke atas meja. "Telpon mamamu dan bicaralah dengan dia." Dia memberikan ponsel Ryder yang dulu, tidak lupa meletakkan kartu kredit dan segala kartu yang menjadi fasilitas laki-laki itu.


Ryder terdiam saat melihat apa yang papanya katakan. Matanya tampak berkaca-kaca karena merasa tersentuh. "Terima kasih karena sudah mengusirku, Pa. Aku tidak akan sampai dititik ini kalau bukan karena Papa." Lirihnya.


Ryder mendapat banyak sekali pelajaran dalam hidup saat tinggal di desa. Bagaimana cara bekerja sama dengan sesama tanpa melihat status dan harta, juga bersosialisasi dengan semua lapisan masyarakat tanpa memandang kedudukan.


Kesederhaan, keramahan, dan sikap saling menghargai sangat melekat dalam hati Ryder membuat dia merasa tertampar dengan hidup yang selama ini dia jalani.

__ADS_1


"Memangnya ada, seorang anak yang berterima kasih karena diusir?" tanya Eric dengan heran. Dia lalu beranjak bangun dari kursi membuat Ryder juga ikut bangun.


Eric lalu memeluk tubuh putranya dengan erat, dia menepuk punggung Ryder beberapa kali dengan penuh rasa bangga.


"Papa sangat senang, Ryder. Kau telah tumbuh dewasa dan membuat kedua orangtuamu bangga," ucap Eric sambil melerai pelukannya.


Ryder menganggukkan kepalanya. "Aku dewasa karna mama dan Papa."


"Sekarang ayo, kita harus membantu keluarga calon istrimu dan mengambil hati mereka! Bukankah setelah ini kau harus melamar Yara?"


Ryder tersipu malu saat mendengarnya. "Memangnya bisa, seperti itu?"


"Tentu saja. Namanya menyelam sambil minum air, setelah itu kita pulang. Mamamu sudah sangat merindukanmu," ucap Eric yang dibalas dengan anggukan kepala Ryder.


Sementara itu, di rumah Vano terlihat Zafran sedang menatap sang papa dengan tidak percaya. Dia merasa terkejut saat mengetahui bahwa Ryder bergabung dengan mereka, apalagi saat mengetahui jika laki-laki itu sudah bertemu dengan sang kakak.


"Sejak awal dia memang ada di desa itu, lalu Yara menerima tugas menjadi relawan di sana. Bukankah Tuhan sedang menunjukkan pada kita bahwa mereka memang berjodoh?" ucap Vano. Semalam dia memang merasa emosi, tetapi saat mendengar cerita dari Rolan, hatinya menjadi respect pada Ryder.


"Tapi dia sudah menghina dan mempermalukan mbak Yara, Pa. Apa dia benar-benar sudah berubah?" Zafran merasa tidak yakin, dia masih ingat betul apa yang pernah laki-laki itu lakukan padanya.


Via yang sedang menyiapkan sarapan berjalan mendekati Zafran. "Semua orang bisa berubah, Nak. Malah terkadang orang yang menyadari kesalahan dan berusaha menjadi lebih baik lagi, merekalah orang-orang yang benar-benar tulus."


Zafran terdiam saat mendengarnya. Sebenarnya dia juga tahu jika Ryder benar-benar mencintai sang kakak, tetapi perilaku laki-laki itu benar-benar keterlaluan.


"Jika Allah sudah menggariskan takdir jodoh untuk mereka, maka yang bisa kita lakukam adalah mendo'akan yang terbaik. Bukankah kau ingin melihat mbakmu bahagia?" tanya Via sambil menepuk bahu Zafran.

__ADS_1


"Tentu saja, Ma. Aku cuma enggak mau mbak disakiti lagi." Lirih Zafran membuat kedua orang tuanya tersenyum.


Vano dan Via merasa senang karena Zafran sangat menyayangi Yara, begitu juga dengan putra bungsu mereka.


Tidak berselang lama, datanglah seseorang yang sejak tadi mereka bicarakan. Ryder menyapa mereka semua dengan ramah, membuat mereka terkejut dengan luka yang ada dikepalanya.


"Ada apa dengan kepalamu, Ryder?" tanya Via dengan khawatir.


"Ah, ini?" Ryder menunjuk ke arah kepalanya yang sudah tidak terbungkus perban. "Ada kecelakaan kecil di pabrik, Tante. Jadi aku terluka sedikit."


Mereka semua mengangguk paham, lalu mengajak Ryder dan Eric untuk sarapan bersama. Tidak ada kecanggungan dan kebencian di antara mereka walau sempat terjadi gesekan di masa lalu.


Setalah selesai sarapan, Vano mengajak Eric ke ruang kerjanya sementara Zafran meminta bicara berdua dengan Ryder.


"Bagaimana kabarmu, Zafran?" tanya Ryder sambil mendekat ke arah laki-laki itu, lalu duduk di sampingnya. Saat ini mereka berada di taman samping rumah.


"Aku baik, tapi sepertinya kau yang tidak baik."





Tbc.

__ADS_1


__ADS_2