
Dengan berat hati dan penuh keraguan, Ryder melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam salah satu kamar yang sudah dia sewa untuk malam ini. Matanya melihat ke seisi kamar itu, dan merasa sedikit lega karena tempatnya lumayan rapi dan bersih, padahal tampilan luarnya sangat seram dan horor sekali.
Ryder meletakkan tasnya di lantai, lalu duduk di atas ranjang yang bisa dipakai hanya untuk satu orang saja sangking mininya.
"Lumayan lah, walau rasanya seperti duduk di atas kursi pesakitan," gumam Ryder saat pantatnya menyentuh ranjang, dan mencoba untuk merasakan empuknya ranjang tersebut.
Ryder lalu membaringkan tubuhnya dengan kedua kaki menjuntai ke lantai. Matanya menatap langit-langit kamar, dengan pikiran yang sedang berselancar untuk memikirkan pekerjaan yang akan dia jalani.
"Aku tidak bisa bekerja di suatu perusahaan atau badan usaha milik masyarakat. Jika papa mengetahuinya, orang lain akan terkena imbas dari apa yang aku lakukan," gumam Ryder dengan helaan napas frustasi.
Cukup teman-temannya saja yang saat ini sedang kesulitan karena perbuatannya, jangan sampai orang yang sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan dia juga terkena masalah.
"Tapi, bagaimana kabar mereka ya? Apa papa benar-benar menghancurkan semuanya?"
Ryder merasa penasaran dan juga bersalah. Dia tidak membawa ponsel atau apapun yang bisa digunakan untuk menghubungi teman-temannya, bahkan dia juga tidak tahu nomor ponsel mereka. Dia hanya bisa berharap jika papanya masih punya sedikit belas kasihan untuk teman-temannya.
Ryder menggelengkan kepala dan mencoba untuk fokus memikirkan masa depannya. Jika dia tidak mau terlibat dalam suatu perusahaan atau usaha menengah masyarakat, maka dia harus pergi ke desa dan memulai semuanya dari awal.
"Benar, mungkin itu pilihan yang baik untukku saat ini."
Ryder sudah mengambil keputusan. Besok saat matahari mulai menampakkan diri, dia akan memulai perjalanannya untuk pergi ke sebuah desa. Dia memutuskan untuk menetap di sana sekalian menata hati dan pikiran. Bukankah suasana desa itu sangat menenangkan? Anggap saja sebagai pengalaman dan pembelajaran dalam hidup.
Beberapa jam kemudian, di tempat lain Yara sedang membantu mamanya untuk menyiapkan makan malam karena akan ada tamu papanya yang berkunjung.
Semua makanan dan minuman sudah tersaji lengkap di atas meja, hanya tinggal menunggu para tamu mereka untuk datang ke tempat itu.
"Ma, tamunya papa udah datang tuh," ucap Zayyan sambil berjalan masuk ke dalam dapur, dan memberitahu jika tamu yang mereka tunggu sudah sampai.
__ADS_1
Via dan Yara segera melepas apron yang ada di tubuh mereka, dan sedikit merapikan penampilan untuk menyambut para tamu.
"Selamat malam Tuan Vano dan Nyonya Via," ucap seorang lelaki dengan senyum cerah saat masuk ke dalam rumah Vano.
"Cih, masih saja kau suka membual ya," cibir Vano membuat laki-laki itu tergelak.
"Kau juga masih saja kulkas 10 pintu ya," balas Felix sambil menepuk bahu sahabatnya itu. Sudah lama mereka tidak bertemu, tepat saat kelulusan pendidikan mereka.
Vano tersenyum saat mendengar ucapan laki-laki itu, dia lalu mempersilahkan Felix dan istrinya untuk masuk ke dalam rumah.
Via juga menyambut kedatangan sahabat suaminya dengan ramah. Apalagi istri dari laki-laki itu juga sangat ramah, jadi mudah saja untuk mereka bergaul.
"Jadi ini putri kalian? Dia benar-benar sangat cantik," seru Felix dengan penuh pujian, membuat semburat rona malu diwajah Yara mencuat.
"Terima kasih atas pujiannya, Om. Silahkan duduk," ucap Yara mempersilahkan dengan sopan, membuat Felix dan sang istri menatap hangat.
Zafran dan Zayyan juga ikut menyambut kedatangan mereka walau hanya diam dan memperhatikan saja, terutama Zafran yang persis seperti Vano saat masih muda dulu.
"Ini Anda sendiri yang membuatnya?" tanya istri Felix yang bernama Kimy. Wanita keturunan inggris dan Jerman itu tampak sangat cantik dengan tubuh semampai.
"Tidak, Nyonya. Saya membuatnya bersama-sama dengan Yara dan juga para pembantu," jawab Via dengan merendah.
Kimy menganggukkan-anggukkan kepalanya. "Panggil saja aku Kimy, umur kita kan tidak beda jauh. Aku juga akan memanggilmu Via, biar kita lebih akrab."
Via mengiyakan ucapan Kimy, lalu mempersilahkan mereka semua untuk menikmati makanan dan minuman yang sudah tersaji.
Vano dan Felix asyik bercerita panjang lebar untuk mengenang masa-masa sekolah dulu, sambil menyantap makanan yang ada di sana. Begitu juga dengan kaum wanita yang tampak sedang membahas makanan.
__ADS_1
"Oh ya, bukannya kau bilang datang bersama putramu?" tanya Vano yang tidak melihat keberadaan putra dari sahabatnya itu, apakah anaknya Felix tidak kasat mata?
"Dia masih dalam perjalanan ke sini, katanya tadi ada urusan sebentar," jawab Felix, dia juga mengatakan jika putri bungsunya tidak bisa ikut karena berada di rumah orang tuanya.
Vano mengangguk paham, dia lalu kembali melanjutkan acara makannya sambil membahas masalah pekerjaan, dan kembalinya Felix ke negara itu.
Setelah selesai makan, mereka lalu berkumpul di ruang keluarga. Berbagai macam cerita masih menggema di tempat itu, sampai akhirnya kedatangan seorang lelaki menghentikan fokus mereka.
"Maaf jika saya terlambat," ucap seorang lelaki sambil menundukkan kepalanya, dialah William. Putra sulung Felix yang berusia 24 tahun.
"Kemarilah, Nak." Panggil Felix sambil melambai-lambaikan tangannya membuat sang anak mendekat.
Felix lalu memperkenalkan putranya pada semua orang. Tampak William tersenyum hanyat pada mereka, juga pada Zafran yang sejak tadi diam di tempat itu.
"Berapa umur anakmu, Lix? Sepertinya seumuran dengan putra keduaku," tanya Vano sambil melihat ke arah Zafran yang tersenyum tipis.
"Umur saya 24 tahun, Om. Senang bisa berkenalan dengan pengusaha hebat seperti Anda," ucap William dengan penuh pujian, membuat Vano langsung membantah pujian itu.
"Semua orang itu hebat. Silahkan duduk, atau kau mau makan dulu?" tawar Vano, mungkin saja laki-laki itu belum makan malam.
William tersenyum canggung, dia ingin menganggukkan kepala tetapi terlalu malu untuk menerima tawaran Vano.
"Mari, saya akan mengantar Anda ke dapur."
•
•
__ADS_1
•
Tbc.