
Tidak bisa menunggu sampai esok hari, River segera menghubungi Vano untuk memberitahukan tentang hal penting yang baru saja dia ketahui.
Sementara itu, Vano yang sudah merebahkan diri di atas ranjang langsung berdecak kesal saat mendengar ponselnya berdering.
"Lama-lama ku banting juga-"
Vano tidak jadi membanting ponselnya saat melihat nama River tertera di layar benda pipih itu, dengan cepat dia mengangkat panggilan laki-laki itu dan terlibat pembicaraan serius.
Via yang ada di samping sang suami hanya bisa menggelengkan kepalanya. Kesabaran suaminya itu lebih tipis dari sebuah tisu, itu sebabnya selalu saja emosi tanpa melihat dulu apa yang terjadi.
"Aku akan datang ke kamarmu."
Vano langsung mematikan panggilannya dan beranjak turun dari ranjang. Dia kembali memakai bajunya karena sejak tadi bertelanj*ang dada.
"Mau ke mana Mas?"
Via yang melihatnya tentu merasa penasaran, dia ikut membangunkan tubuhnya dan duduk di atas ranjang.
"Ada hal penting yang ingin aku bicarakan dengan River,"
"Apa ada masalah?" Via terlihat khawatir, membuat Vano langsung menggelengkan kepalanya.
"Tidak, ini hanya tentang pekerjaan yang sedikit merepotkan."
Vano lalu mengecup puncak kepala Via dan berlalu keluar dari kamar, tidak lupa dia menyuruh isitrinya itu untuk tidur duluan.
Sesampainya di kamar River, Vano langsung menanyakan tentang masalah yang laki-laki itu katakan tadi. River sendiri menjelaskan dengan sangat teliti, tidak lupa menunjukkan tentang keseluruhan identitas dari laki-laki yang Yara tolong. Tidak lupa dengan seluruh keluarga laki-laki itu, walaupun Vano sudah tahu.
Setelah membaca semuanya, Vano terlihat bingung. Dia bukannya merasa takut dengan keluarga itu, hanya saja kenapa mereka meminta putrinya untuk merawat anak mereka?
"Kenapa harus Yara? Dia kan sudah menolong laki-laki itu, seharusnya mereka berterima kasih. Dan bukannya malah merepotkan seperti ini."
__ADS_1
Vano merasa kesal. Seenaknya saja meminta putrinya untuk merawat anak mereka, memangnya Yara itu orang sembarangan?
"Saya juga kurang mengerti, Tuan. Raymond mengatakan jika itu keinginan tuan muda mereka, itu sebabnya saya meminta mereka untuk langsung menemui Anda."
Vano mengangguk-anggukkan kepalanya. Baiklah, besok dia akan tahu alasan kenapa mereka meminta putrinya untuk merawat laki-laki itu.
*
*
Keesokan harinya, suasana kebahagiaan masih menyelimuti hati semua keluarga Yara membuat dia juga ikut merasa bahagia. Mereka menikmati sarapan dengan penuh canda tawa, membuat semua orang yang melihatnya juga ikut merasa bahagia.
Selesai menikmati sarapan, para anak-anak Mahen segera berangkat ke sekolah karena dia tidak lagi mengizinkan untuk libur. Sudah cukup sehari kemarin mereka libur, jika kebanyakan nanti menjadi lebih malas sekolah.
Sementara itu, kedua anak Vano memilih untuk jalan-jalan disekitar tempat itu. Namun, tujuan utama mereka adalah untuk melihat lokasi terjadinya kecelakaan, yang menyebabkan kakak mereka menjadi pahlawan.
Mahen, Vano, opa Adrian dan juga River memilih untuk berangkat ke perusahaan. Mahen ingin agar Vano memeriksa perkembangan perusahaan keluarga mereka, karena biarpun adiknya itu punya perusahaan sendiri. Namun, Vano punya hak yang sama dengannya di perusahaan itu.
Tepat pukul 11 pagi, Vano dan River pergi dari perusahaan karena ingin bertemu dengan seseorang. Mereka sudah sampai di salah satu restoran yang berada tidak jauh dari perusahaan, dan terlihat sudah ada seseorang yang menunggu mereka.
"Selamat datang Tuan Vano, Tuan River."
Raymon menganggukkan kepala pada kedua laki-laki yang ada di hadapannya, sementara Vano dan River juga menganganggukkan kepala mereka sambil menjawab sapaannya.
"Mari ikut saya, Tuan. Tuan Eric sudah menunggu di dalam."
Vano dan River mengangguk lalu mengikuti langkah laki-laki itu, sepertinya saat ini mereka sedang berhadapan dengan seseorang yang status dan kekuasaannya sama dengan mereka.
Melihat pintu ruangannya terbuka, dengan cepat Eric segera beranjak bangun dari duduknya. Dia tersenyum saat melihat kedatangan seorang lelaki yang sengaja diundang.
"Selamat datang, Tuan Vano. Maaf karena sudah menganggu waktu Anda," ucap Eric dengan tidak enak hati.
__ADS_1
"Selamat pagi juga, Tuan Eric. Kebetulan saya sedang berada di negara ini, itu sebabnya saya bisa menghadiri undangan Anda. Jadi tidak perlu khawatir."
Eric mengangukkan kepalanya dengan senyum lebar. Ternyata rumor tentang Vano tidaklah benar. Mereka mengatakan jika laki-laki itu sangat susah untuk didekati, juga bersikap dingin dan angkuh.
Namun, kenyataannya tidak seperti itu. Walau wajah Vano sangat datar dan terkesan sombong, tetapi itu hanya luarnya saja. Eric bisa menilai bagaimana sifat dan karakter laki-laki itu, dan tentu saja setiap pengusaha besar memang bersikap sama sepertinya.
Eric lalu mempersilahkan semua orang untuk duduk. Tidak lupa pelayan langsung menyajikan cemilan dan kopi untuk mereka semua.
Setelah saling menyapa satu sama lain, Eric mulai mengatakan maksud pertemuan mereka hari ini. Yaitu meminta tolong agar Vano memperbolehkan putrinya untuk merawat Ryder.
"Kenapa harus putriku, bukankah ada banyak Dokter yang siap untuk merawat putra Anda?"
Vano menatap Eric dengan tajam, tentu saja dia merasa curiga dan aneh dengan permintaan laki-laki itu.
"Saya juga tidak mengerti, Tuan. Anak kurang ajar itu ngotot ingin dirawat dengan putri Anda, dia bahkan menolak semua Dokter yang ada di rumah sakit."
Eric tampak sangat kesal. Punya satu anak saja benar-benar menyusahkannya, dan tidak pernah membiarkannya hidup dengan tenang.
Vano diam sejenak untuk memikirkan apa yang laki-laki itu inginkan, membuat Eric merasa cemas.
"Saya meminta tolong pada Anda, Tuan. Jika bukan karena putra saya yang tidak tau aturan itu, saya tidak akan memaksa sampai seperti ini."
Lihat, Eric sampai merendahkan harga dirinya di hadapan orang lain hanya demi anak semata wayangnya.
"Saya akan membicarakan hal ini pada keluarga dulu, juga pada putri saya. Saya hanya akan memberi izin jika Yara menyetujuinya."
•
•
•
__ADS_1
Tbc.