
Setelah dipersilahkan oleh Rizal, Yara langsung menjelaskan semua kegiatan yang mereka lakukan di desa tempat di mana dia menjadi relawan. Bukan itu saja, dia juga menceritakan bagaimana keadaan masyarakat di tempat itu.
"Masyarakat yang ada di sana sudah mulai sadar tentang pentingnya menjaga kesehatan, tapi sarana dan prasarana di tempat itu belum memadai. Jadi, saya harap pihak rumah sakit dapat menyalurkan bantuan untuk mereka. Saya juga berharap, agar Anda bisa membantu untuk mengirim petugas medis yang khusus bekerja di tempat itu," ucap Yara kemudian.
Walaupun desa itu sudah maju karena pabrik milik Ryder berkembang pesat, tetapi pelayanan medis di sana memang benar-benar masih sangat minim sekali. Masyarakat bahkan harus pergi ke kota dengan waktu berjam-jam hanya untuk menemui Dokter.
Rizal mengangguk paham. "Saya mengerti, Dokter Yara. Setelah ini, saya akan segera mengusulkannya pada dewan pimpinan. Semoga mereka dapat mempertimbangkannya," sahut Rizal.
Yara lalu mengucapkan terima kasih pada laki-laki itu dan beranjak pamit untuk pergi. Lusa dia harus sudah kembali ke desa untuk menyelesaikan tugasnya, dan sebelum itu dia harus mengurus masalah Ryder dulu.
"Astaghfirullah!" pekik Yara dengan kaget saat baru membuka pintu ruangan Rizal dan hendak keluar dari sana. Dia memegangi dadanya yang berdebar kuat akibat terkejut saat melihat keberadaan Rayder.
Bagaimana tidak, laki-laki itu berdiri tepat di depan pintu saat Yara membukanya, hingga membuat dia terlonjak kaget saat melihat keberadaan Ryder.
Rizal yang sudah duduk di kursi kebesarannya sontak kembali berdiri saat mendengar suara teriakan Yara, sementara Ryder hanya diam sambil memasang raut wajah yang sama sekali tidak merasa bersalah.
"Kenapa kau lama sekali?" tanya Ryder dengan tajam, benar-benar membuat Yara merasa kesal luar biasa. "Aku mengkhawatirkanmu karna tidak kunjung kembali."
Yara menghela napas kasar sambil menahan kekesalannya. Untung saja saat ini mereka sedang berada di rumah sakit, jika tidak mungkin dia sudah menghajar laki-laki itu.
"Ada apa, Dokter Yara? Apa kau baik-baik saja?"
Yara langsung berbalik saat mendengar suara Rizal, sementara Ryder langsung menajamkan pandangannya ke arah laki-laki itu.
__ADS_1
"Ti-tidak apa-apa, Pak. Saya hanya terkejut saja, maaf sudah membuat keributan," ucap Yara penuh sesal.
Rizal mengangguk paham sambil melirik ke arah Ryder yang sejak tadi menatapnya. "Anda ... Tuan Ryder bukan?"
Yara terkesiap saat mendengar Rizal menyebut nama Ryder. Mungkinkah atasannya itu kenal dengan Ryder?
Ryder sendiri menganggukkan kepalanya sambil tersenyum tipis. "Benar, Tuan Rizal. Maaf jika saya mengganggu Anda."
Yara semakin tidak percaya jika ternyata Ryder juga mengenal Rizal, padahal setahunya laki-laki itu tidak pernah tinggal di kota ini.
"Tidak apa-apa, Tuan. Saya senang bisa bertemu dengan Anda," sahut Rizal.
Dia memang sudah mengenal Ryder karena perusahaan keluarganya bekerja sama dengan perusahaan laki-laki itu, dan dia sendiri sudah pernah bertemu dengan Ryder dan juga Eric.
Rizal benar-benar terkejut saat mendengar ucapan Ryder, apalagi saat laki-laki itu menatap ke arah Yara seakan menunjukkan padanya bahwa wanita itu benar-benar milik laki-laki itu.
Yara sendiri merasa sangat malu dengan apa yang Ryder katakan. Bisa-bisanya laki-laki itu berkata demikian pada atasannya sendiri.
"Ka-kalau gitu selamat, Tuan," ucap Rizal kemudian.
Ryder mengangguk dengan senyum senang. "Terima kasih, saya pasti akan-"
"Ka-kalau gitu kami permisi dulu, Tuan," potong Yara dengan cepat. Dia harus segera menghentikan ucapan Ryder dan membawa laki-laki itu pergi, atau Ryder akan berkata yang tidak-tidak lagi.
__ADS_1
Rizal langsung menganggukkan kepalanya dan mengatakan selamat jalan pada mereka, sementara Yara menundukkan kepala sambil menarik tangan Ryder untuk segera pergi dari tempat itu.
Yara terus menarik tangan Ryder dengan kuat dan geram, sementara laki-laki itu merasa senang dengan apa yang Yara lakukan saat ini. Tanpa memperdulikan kemarahan dan kekesalan wanita itu.
Tarikan tangan Yara terhenti saat mereka sudah berada di parkiran. Dengan cepat dia melepaskan pegangan tangannya lalu menatap Ryder dengan tajam.
"Sebenarnya apa yang terjadi denganmu dan apa yang kau lakukan, Ryder? Kenapa kau terus saja mengusikku?" tanya Yara dengan tajam, tampak jelas jika dia sedang merasa geram saat ini.
Ryder kembali tersenyum. "Aku hanya ingin bersama dengan calon istriku saja, dan aku khawatir kalau kau bersama dengan laki-laki lain."
"Hah!" Yara menghela napas kasar dan berat. Dia lalu memijat pelipisnya yang terasa berdenyut sakit melihat apa yang Ryder lakukan, benar-benar diluar akal sehatnya.
"Sudahlah, terserahmu saja," ucap Yara kemudian. Dia tidak tahu lagi harus berkata apa, dan percuma juga jika dia marah kepada laki-laki itu.
Yara lalu berbalik dan hendak masuk ke dalam mobil, tetapi lagi-lagi suara Ryder kembali menghentikan langkahnya.
"Menikahlah denganku sebelum kita kembali ke desa itu, Yara. Ayo, kita kembali ke sana sebagai pasangan suami istri."
•
•
•
__ADS_1
Tbc.