
Semua orang tertawa terbahak-bahak mendengar apa yang Hana ucapkan, bahkan kedua pembantu Via yang ada di luar dapur juga ikut tertawa melihat kepolosan wanita itu.
"Ya Allah, kenapa kau manis sekali, Hana," ucap Via sambil memegangi perutnya yang terasa sakit karena terlalu banyak ketawa.
Hana tercengang dengan tatapan bingung melihat semua orang tertawa seperti itu, apalagi saat melihat Zafran. Untuk pertama kalinya dia melihat laki-laki itu tertawa lepas, padahal biasanya Zafran hanya diam dengan wajah datar tak berekspresi.
"Benarkan apa kataku, kak Hana itu sangat lucu dan unik sekali," seru Zayyan yamg sudah tidak sanggup lagi untuk ketawa, tetapi jika melihat wajah Hana dia tetap saja mau tertawa.
"Sudah-sudah, maafkan kami yah, Hana," ucap Via. Dia merasa bersalah karena sudah mengerjai dan menertawakan wanita itu, tetapi dia juga tidak menyangka jika Hana memiliki sifat sepolos ini. Bagaimana mungkin orang-orang memperlakukan wanita yang polos seperti Hana dengan buruk? Sungguh dia benar-benar tidak habis pikir.
"Ti-tidak, Nyonya. Saya yang seharusnya minta maaf," sahut Hana yang masih saja tidak paham alasan mereka semua tertawa.
Via menggelengkan kepalanya sambil menghela napas kasar, sungguh dia merasa gemas sekali dengan sifat Hana.
"Kau tidak salah apapun, Hana," ucap Via. Dia lalu menjelaskan apa yang sebenarnya sedang terjadi saat ini, dan alasan kenapa mereka semua tertawa.
Setelah mendengar penjelasan Via dan merasa paham, Hana menundukkan kepalanya dengan wajah memerah. Dia merasa malu karena sudah bersikap konyol di hadapan mereka semua, juga sudah salah mengartikan maksud pelayanan di rumah ini.
Mereka semua lalu melanjutkan sarapan yang sempat tertunda akibat kelucuan yang terjadi, walaupun sesekali Zayyan masih tertawa membuat Zafran menutup mulut adiknya itu agar berhenti tertawa.
Begitu selesai sarapan, Zayyan segera pamit untuk pergi ke sekolah sebelum terlambat. Apalagi sekarang dia sudah kelas tiga sekolah menengah atas, pasti akan menjadi bulan-bulanan guru jika terlambat.
Zafran dan Vano juga bergegas pamit untuk pergi ke perusahaan. Keberangkatan Vano dan Via ke rumah Yara terpaksa diundur menjadi besok atau lusa karena kedatangan Hana, tidak mungkin wanita itu ditinggalkan begitu saja di rumah ini bersama dengan Zayyan dan Zafran.
Setelah mengantar suami dan kedua anaknya ke halaman rumah, Via kembali masuk dan berjalan ke dapur untuk menemui Hana. Dia tersenyum saat melihat wanita itu sedang mencuci piring setelah selesai membereskan bekas makan mereka.
"Setelah selesai temui tante di ruang keluarga yah, Hana," ucap Via membuat Hana menoleh ke arah belakang. Dia tidak lagi melarang wanita itu jika mengerjakan pekerjaan rumah karena Hana sama sekali tidak mendengar.
__ADS_1
Hana menganggukkan kepalanya. "Baik, Nyonya." Dia langsung mempercepat kerja tangannya agar bisa segera menemui Via dan tidak membuat wanita itu menunggu terlalu lama.
Beberapa saat kemudian, Hana sudah selesai mencuci piring dan segera pergi menemui Via. Terlihat wanita paruh baya itu sedang membaca majalah fashion di ruang keluarga.
"Maaf membuat Anda menunggu lama, Nyonya," ucap Hana saat sudah berdiri di samping Via.
Via menganggukkan kepalanya sambil tersenyum tipis. "Duduklah." Dia menepuk sofa yang ada di sampingnya membuat Hana segera duduk di tempat itu. "Bagaimana perasaanmu, Hana? Apa kau nyaman tinggal di sini?"
Hana langsung menganggukkan kepalanya. Tentu saja dia merasa sangat nyaman tinggal di rumah ini, apalagi semua orang memperlakukannya dengan baik. Walaupun dia masih merasa canggung dan malah membuat mereka tertawa.
"Saya merasa sangat nyaman, Nyonya. Terima kasih atas kebaikan yang Anda lakukan untuk saya," jawab Hana dengan lembut, senyum tulus terlihat jelas diwajahnya saat ini.
Via merasa senang mendengar jawaban Hana. "Syukurlah. Katakan saja jika ada sesuatu yang membuatmu tidak nyaman, dan tante minta maaf kalau Zayyan sering menganggumu. Tante harap kau tidak tersinggung."
Dengan cepat Hana menggelengkan kepalanya untuk membantah ucapan Via. "Tidak, Nyonya. Saya sama sekali tidak tersinggung, dan tuan Zayyan juga tidak melakukan kesalahan. Saya malah senang jika bisa membuat Anda semua tertawa, walaupun dengan kebod*ohan saya ini." Dia kembali merasa malu.
"Jadi, bagaimana dengan pertanyaan tante tadi malam, Hana? Apa kau sudah mengambil keputusan?" tanya Via dengan hati-hati, dia tidak mau membuat Hana kembali sedih dan juga tersinggung. "Maaf kalau tante terlalu menekanmu."
Hana tersenyum sambil menatap Via dengan mata berbinar-binar, merasa bersyukur bisa mengenal wanita selembut dan sebaik Via.
"Tidak apa-apa, Nyonya. Saya merasa sangat beruntung bisa bertemu dengan Anda dan keluarga Anda, saya juga sangat berterima kasih karena tuan Zafran sudah membawa saya ke sini," jawab Hana dengan tulus. "Saya juga sudah memikirkan semua ucapan Anda dengan baik dan mengambil keputusan, saya ingin berpisah saja dengan suami saya."
Via merasa senang mendengar keputusan Hana untuk lepas dari suami wanita itu, tetapi dia tetap menahan diri dan tidak menunjukkan kesenangan di hadapan Hana, karena keputusan itu pasti sangat berat.
"Sebenarnya tante merasa lega dengan keputusanmu, Hana. Tapi tante tahu kalau kau pasti sangat berat untuk membuat keputusan ini, butuh keberanian besar untuk melakukannya," ucap Via. Dia sendiri paham betul apa yang sedang Hana rasakan saat ini karena dulu juga mengalami hal yang sama.
"Yah, hati saya sangat berat untuk membuat keputusan seperti itu, Nyonya. Tapi di sisi lain saya merasa lega seperti terlepas dari sebuah rantai yang menyesakkan, dan semua itu berkat Anda. Jika saya tidak bertemu Anda, mungkin sampai mati saya tidak akan berani mengambil keputusan seperti itu." Lirih Hana.
__ADS_1
Via menggenggam kedua tangan Hana seolah mengatakan jika semuanya pasti akan baik-baik saja. "Tante akan mendukung semua keputusanmu, Hana. Walaupun kita baru saja bertemu, tapi anggaplah tante sebagai orangtuamu sendiri. Jika kau tidak ingin kembali pada mereka dan tidak tahu ke mana harus pergi, maka tinggallah di sini. Kau sudah kami anggap sebagai keluarga kami sendiri, bagi tante kau sama seperti Yara. Kau mengenal putri tante, 'kan?"
Hana merasa tertegun dan tidak menyangka dengan apa yang Via katakan. Dadanya berdesir hebat dengan jantung berdegup kencang mendengar setiap kata yang wanita itu ucapkan, rasanya seperti ada ribuan bunga yang mekar dalam hatinya, karena untuk pertama kali ada seseorang yang mengulurkan tangan untuknya.
"Saya mengenal dokter Yara, Nyonya. Putri Anda sangat baik dan lembut, beliau juga sangat perhatian dan ramah pada semua orang. Kebaikan hatinya persis seperti Anda," ucap Hana.
Via kembali tersenyum senang. "Syukurlah kalau Yara memiliki sifat yang baik. Jadi, maukah kau tinggal di sini menemani tante?" Dia kembali bertanya.
Hana ingin segera mengiyakan ucapan Via, tetapi dia merasa tidak pantas dan tidak layak untuk menerima bantuan dari Via begitu saja.
"Saya merasa sangat senang dan terhormat karena diizinkan tinggal bersama dengan Anda, Nyonya. Tapi saya hanya wanita rendahan yang berasal dari desa. Saya tidak berpendidikan dan tidak layak untuk menerima kebaikan Anda sebanyak itu," ucap Hana dengan pelan dan hati-hati. "Jika Anda mengizinkan, bolehkah saya bekerja menjadi pembantu atau pelayan di rumah Anda, Nyonya?" Hanya itulah yang bisa dia lakukan.
Via merasa kagum dengan kerendahan hati Hana. Padahal dia menawarkan sesuatu yang mudah, tetapi wanita itu malah memilih untuk bekerja.
"Baiklah. Tante akan mengizinkanmu untuk bekerja dengan tante, tapi dengan syarat kalau kau tidak boleh lagi memanggil tante dengan sebutan nyonya. Kau juga tidak boleh mengerjakan pekerjaan pembantu karena itu sudah menjadi tugas mereka. Jadi, tugasmu adalah membantu tante masak dan menemani tante saat ingin pergi keluar. Bagaimana?" tawar Via.
Hana menganggukkan kepalanya dengan sangat antusias. Setidaknya dia bisa membalas kebaikan Via dengan membantu wanita itu, dan siapapun pasti tidak akan menolak tawaran dari Via.
"Baguslah. Kalau gitu ayo, kita pergi keluar. Ada sesuatu yang ingin tante beli!"
•
•
•
Tbc.
__ADS_1