
Keesokan harinya, Ryder dan sang mama berangkat ke mall untuk membeli berbagai perlengkapan untuk melamar Yara. Mulai dari perhiasan, pakaian, dan juga yang lainnya.
Terlihat Ryder sangat bersemangat untuk menyiapkan semuanya, itu sebabnya dia ingin langsung membeli barang-barang yang terbaik dan tidak ingin menyerahkannya pada orang lain.
Mereka langsung menuju toko perhiasan terbesar yang ada di kota itu. Ryder ingin memberikan emas, berlian, bahkan sampai intan permata untuk Yara membuat sang mama hanya bisa geleng-geleng kepala saja.
Bukan hanya itu, Ryder juga membeli beberapa barang mewah lainnya. Seperti tas dan sepatu yang memiliki harga sangat fantastis, bahkan sampai mencapai milyaran. Tidak lupa dia juga membelikan seperangkat alat shalat beserta pakaian muslimah, yang pasti akan terlihat sangat cantik jika dipakai oleh Yara.
Setelah menghabiskam waktu sekitar tiga jam untuk berbelanja, Ryder menyempatkan untuk membeli hadiah pernikahan River.
Dia sudah dengar jika laki-laki itu akan menikah dari Zafran, itu sebabnya dia harus menyiapkan hadiah untuk mereka.
"Belanjaan kita sudah sangat banyak, Ryder. Kau mau belanja apa lagi?" tanya Riana dengan tajam. Kakinya sudah sangat lelah karena sejak tadi berjalan ke sana kemari.
"Aku ingin sekalian membeli hadiah untuk pernikahan om River, Ma. Memangnya Mama tidak menyiapkan hadiah juga?" ucap Ryder.
Ah, benar juga. Riana hampir saja lupa menyiapkan hadiah untuk River. Dia bergegas menelepon sang suami untuk menanyakan hadiah apa yang harus dia beli untuk laki-laki itu.
"Kenapa repot-repot? Berikan saja selembar cek untuknya, jadi terserah merela ingin membeli apa untuk diri sendiri," ucap Eric di seberang telepon.
Riana langsung mematikan panggilan itu dengan kesal. Suaminya selalu saja seperi itu jika ditanya tentang hadiah, sama sekali tidak membantu.
"Jadi kau mau ngasi hadiah apa?" tanya Riana pada Ryder.
Ryder diam sejenak untuk memikirkan hadiah apa yang cocok untuk laki-laki itu, mengingat jika selama ini River sudah sangat loyal terhadap keluarga Yara, dan sebentar lagi dia akan resmi bergabung dengan keluarga itu.
"Bagaimana kalau mobil?" tanya Ryder.
"Apa kau gila?" pekik Riana sambil memijat pelipisnya yang terasa berdenyut sakit. "Memanganya ada, orang yang memberi hadiah mobil untuk pernikahan?" Dia bertanya dengan tajam.
Ryder mengendikkan bahunya. "Terserahlah. Kalau tidak ada, berarti aku orang pertama yang-" Dia tidak jadi melanjutkam ucapannya saat melihat sebuah jam yang sangat indah dan menawan, membuat Riana ikut melihat ke arah jam tersebut.
"Wah, jamnya bagus sekali, Ryder. Bagaimana jika kau membeli hadiah itu saja?" saran Riana.
Ryder mengangguk. Mereka lalu masuk ke dalam toko itu dan segera menanyakan berapa harga dari jam yang dipajang di tempat itu, dan ternyata harganya juga selangit.
__ADS_1
"Jam itu memang mahal, Tuan. Tapi sudah sepaket dengan gelang wanita yang sangat indah dan elegan," ucap wanita penjaga toko itu. Dia menunjukkan gelang dan jam yang memang terlihat sangat serasi dan juga mewah, benar-benar membuat siapapun yang melihatnya terpana.
Ryder lalu memutuskan untuk membeli jam tersebut seharga 1,5 milyar. Yang jelas hari ini uangnya benar-benar terkuras banyak untuk belanja, walaupun hartanya tetap tidak akan habis sampai tujuh keturunan karena memang dia adalah anak semata wayang.
Setelah semuanya selesai, Ryder dan sang mama memutuskan untuk pulang. Barang-barang yang mereka beli masih berada di salah satu toko khusus yang persiapan untuk lamaran.
Sementara itu, di rumah Yara juga terlihat ramai karena semua keluarga sudah berkumpul di tempat itu. Termasuk ayah kandungnya dan juga oma serta opa, tidak ketinggalan nenek juga yang terlihat sangat antusias.
Kedua adik Yara dari mama Riani kuga turut hadir di tempat itu. Mereka cepat sekali besar dari terakhir kali mereka bertemu membuatnya merasa gemas.
Setelah bermain dengan adik-adiknya, Yara bergegas masuk ke dalam kamar karena akan dihias sebelum para tamu datang. Jam sudah menunjukkan pukul lima sore, dan sudah saatnya semua orang bersiap untuk menyambut kedatangan keluarga Ryder.
"Bagaimana perusahaanmu, Vano? Apa semua berjalan lancar?" tanya Mahen sambil mendudukkan tubuhnya di samping Vano yang tengah bersantai.
Vano mengangguk. "Alhamdulillah semuanya lancar, Kak. Tapi semalam ada sedikit masalah yang melibatkan Ryder dan Zafran."
"Apa ini tentang video yang tengah viral itu?" tanya Mahen.
Vano terkejut karena sang kakak ternyata sudah tahu perihal video itu. "Benar. Tapi, Kakak tahu dari mana?"
Vano hanya cengengesan saja saat melihat kemarahan sang kakak. Bukannya dia tidak mau memberi kabar, tetapi jika sudah panik dan sibuk, maka dia tidak ingat tentang hal tersebut.
"Hajar aja, Papa besar. Papaku memang selalu seperti itu. Aku aja kadang gak dikabarin kalau sedang pergi, jadilah aku sering di rumah seorang diri," ucap Zayyan tiba-tiba, sembari mengadukan perbuatan sang papa.
Dengan cepat Vano langsung memiting leher Zayyan membuat putranya itu memekik kesakitan, sementara dia dan Mahen tertawa terbahak-bahak karena melihat raut wajah Zayyan.
"Mama, tolong aku!" teriak Zayyan dengan wajah merah padam membuat semua orang yang ada di rumah itu langsung bergegas menuju sumber suara.
"Apa yang terjadi?"
"Kenapa ada yang teriak?"
Tanya semua orang secara bersamaan, wajah mereka terlihat panik, terutama Via yang sangat tanda sekali dengan suara putranya.
"Apa yang kau lakukan, Vano? Lihat, Zayyan sampai kesakitan kayak gitu," ucap mama Camelia dengan geram. Bisa-bisanya Vano menyiksa cucunya seperti itu. "Vano!"
__ADS_1
Vano langsung melepaskan pitingan dileher Zayyan saat memdengar teriakan mamanya, sementara Zayyan sendiri langsung pura-pura kesakitan sambil menghampiri omanya.
"Lihatlah Oma, Papa selalu menyiksaku seperti itu," ucap Zayyan sang raja drama.
Kepala mama Camelia langsung berasap saat mendengar ucapan sang cucu, sementara Via hanya menghela napas kasar saja dan langsung membubarkan orang-orang yang berkumpul di ruangan itu.
Jadilah Vano diceramahi oleh mama Camelia membuat Zayyan tersenyum puas. Bukan hanya Vano saja, bahkan Mahen juga terkena amukan mamanya itu.
Setelah puas membuat keributan, Zayyan lalu pergi ke kamarnya untuk bersiap. Sesampainya di kamar, dia langsung tertawa terbahak-bahak saat mengingat papanya dan papa besar dimarahi oleh sang oma.
"Makanya jangan berani menindas anak kecil, Papa. Haha," ucap Zayyan kembali sambil tertawa, bahkan perutnya sudah terasa sakit karena kebanyakan tertawa.
Beberapa jam kemudian, semua keluarga Yara sudah tampak rapi dengan menggunakan pakaian senada berwarna coklat susu. Yara sengaja menyiapkan baju semua orang dengan warna yang sama agar indah saat mengambil gambar.
Rumah itu pun sudah dipenuhi dengan dekorasi lamaran yang sangat indah. Berbagai bunga tampak menghiasi dekorasi itu, juga ada hiasan lain yang semakin menambah kesan elegan bagi siapa saja yang melihatnya.
Tidak berselang lama, terdengarlah suara mobil yang masuk ke halaman rumah. Para lelaki langsung keluar rumah untuk menyambut calon besan mereka, sementara para wanita tetap berada di dalam rumah.
Semua keluarga Ryder juga menggunakan pakaian dengan warna yang sama, yaitu hijau tosca. Sangat cocok sekali jika disandingkan dengan warna pakaian keluarga Yara.
Namun, Yara dan Ryder memakai pakaian berwarna rose gold yang berbeda dari para keluarga, karena hari ini merekalah yang punya acara.
"Selamat datang," ucap Vano dan yang lainnya secara bersamaan saat Ryder dan keluarganya sudah turun dari mobil. Mereka segera menyalami keluarga itu dan mempersilahkan mereka untuk masuk.
Semua mata sangat terpana dengan barang-barang yang dibawa oleh Ryder. Jelas mereka tahu berapa nominal uang yang laki-laki itu habiskan untuk membeli semua itu, tetapi memang apa yang Ryder dapatkan pun lebih mahal dan berharga dari sebuah materi.
"Selamat datang kami ucapkan kepada Ryder dan semua keluarga yang sudah berkumpul di tempat ini, kami merasa senang mendapat kunjungan dari Anda semua."
•
•
•
Tbc.
__ADS_1