
Yara dan Ryder lalu berjalan dipinggiran pantai dengan seburan ombak yang tidak terlalu besar. Terlihat ada beberapa orang juga yang berada di tempat itu dan menikmati suasana tenang ini.
"Setelah pulang dari sini, kita harus segera mempersiapkan kepindahan kita ke desa," ucap Ryder sambil terus berjalan menyusuri garis pantai.
Yara mengangguk paham. "Aku ikut keputusanmu saja, Mas. Tapi, bagaimana dengan pekerjaanku yah?" Dia merasa sayang jika harus keluar dari rumah sakit.
Ryder tersenyum, dia lalu mengeratkan genggaman di tangan Yara. "Nanti di sana kau juga akan bekerja, Sayang."
Yara mengernyitkan kening bingung. "Kerja apa?" Dia tidak tahu harus bekerja di mana. Mungkinkah dia akan bekerja di pabrik?
"Yah ngerjai akulah," jawab Ryder sambil tergelak membuat Yara langsung mendengus sebal.
"Aku serius, Mas!" seru Yara sambil mncubit pinggang Ryder.
Ryder semakin tertawa melihat wajah Yara yang tampak sangat menggemaskan dimatanya. "Iya mas serius loh, Sayang. Kau lihat saja nanti."
Yara menghela napas kasar. "Ya sudah terserah Mas saja." Dia lalu kembali melihat ke arah deburan ombak yang saling kejar-kejaran.
Tiba-tiba, langkab Ryder terhenti saat mendengar suara teriakan seseorang membuat Yara menatap sang suami dengan bingung.
"Ada apa Mas?" tanya Yara saat melihat wajah serius Ryder.
"Apa kau tidak mendengar suara teriakan seseorang, Yara?" tanya Ryder sambil menajamkan pendengarannya.
Yara terdiam sambil mencoba untuk mendengarkan suara-suara yang ada sekitar mereka, sampai akhirnya samar-samar dia mendengar jeritan seorang wanita.
"Help me!"
Teriakan itu kembali terdengar membuat Ryder dan Yara bergegas mencari dari mana asal suara itu.
"Please, help me!"
"Di sana, Mas!" ucap Yara sambil menunjuk ke arah seorang wanita yang sedang berdiri di pinggir pantai.
Mereka lalu bergegas menghampiri wanita itu, begitu juga dengan beberapa orang yang mendengar teriakannya.
"Ada apa ini?" tanya Yara dengan napas tersengal-sengal akibat berlari untuk menghampiri wanita itu.
Wanita yang tampak masih sangat muda itu menangis dengan tersedu-sedu, sambil meminta tolong agar mereka menyelamatkan adiknya yang tenggela terbawa ombak di pantai itu.
Semua orang terkejut saat mendengar ucapannya. Bagaimana mungkin adiknya bisa bermain di pantai saat malam seperti ini?
"Please, help me!" ucap wanita itu sambil menangkupkan kedua tangannya di depan dada.
Salah satu dari mereka langsung menghubungi petugas pantai untuk memberitahukan tentang apa yang terjadi, sementara yang lainnya segera menelepon petugas kepolisian.
__ADS_1
"Bagaimana ini, apa yang harus kita lakukan?" ucap Yara dengan panik. Dia benar-benar merasa khawatir dengan nasib anak yang tenggelam itu.
"Ka-kakak!"
Mereka semua lalu melihat ke arah pantai saat mendengar teriakan seseorang, terlihat ada sepasang tangan yang berada di dalam air, kemungkinan itu adalah anak yang terseret ombak tadi.
"Tunggu di sini, Sayang," ucap Ryder membuat Yara langsung melihat ke arahnya. Dia lalu berlari ke arah anak yang tenggelam itu untuk menyelamatkan nyawanya.
"Mas mau- Mas!" Yara langsung berteriak dengan sangat kuat saat melihat Ryder berlari ke arah pantai. Wajahnya berubah pucat dengam perasaan cemas dan berusaha untuk mengejar sang suami.
"Jangan, Nona!" salah satu dari orang-orang yang berada di tempat itu langsung menahan tangan Yara saat melihat wanita itu akan menyusul lelaki tadi.
"Lepaskan tanganku!" pinta Yara sambil mencoba untuk melepaskan genggaman laki-laki itu, tetapi laki-laki itu tetap menahannya dan tidak memperbolehkannya pergi. "Aku mohon lepaskan aku. Aku, aku harus menyusul suamiku." Dia terisak pilu.
Semua orang menatap dengan sendu, mereka lalu mencoba untuk menenangkan Yara dan percaya bahwa suaminya akan baik-baik saja.
Yara terus menangis sambil berdo'a agar suaminya baik-baik saja, karena sampai sekarang Ryder belum juga kembali.
"Ya Allah aku mohon selamatkan suamiku, aku mohon," gumam Yara dengan terisak. Sudah lebih dari 10 menit berlalu, tetapi belum ada tanda-tanda kemunculan suaminya.
Tidak berselang lama, datanglah para petugas pantai bersamaan dengan orang-orang dari kepolisian. Mereka segera menyebar untuk melakukan pencarian di pantai itu.
"Tunggu, lihat di sana!" teriak salah seorang petugas pantai saat melihat seorang lelaki keluar dari air sambil menggendong seorang anak.
Yara yang sedang duduk di atas pasir karena merasa lemas, seketika langsung berdiri saat mendengar teriakan laki-laki itu. Dia lalu berlari ke arah Ryder yang sedang berjalan ke arah mereka.
Ryder berhasil menyelamatkan anak yang tenggelam karena terbawa oleh arus ombak itu. Dia lalu membaringkannya di atas pasir supaya bisa diperiksa oleh polisi.
Grep.
"Mas." Yara langsung memeluk Ryder dengan erat karena merasa benar-benar takut terjadi sesuatu dengan laki-laki itu. Air matanya langsung berjatuhan dengan tubuh gemetar.
"Pakaian basah, Sayang. Nanti kau terkena demam," bisik Ryder sambil mengusap puncak kepala Yara.
Yara menggelengkan kepalanya karena merasa tidak peduli dengan apa yang Ryder ucapkan. "Syukurlah kau baik-baik saja, Mas. Aku sangat mengkhawatirkanmu."
Ryder tersenyum. Dia juga tidak menyangka kalau akan langsung berlari ke pantai saat melihat tangan anak yang tenggelam itu.
"Aku baik-baik saja, Sayang. Jangan menangis," ucap Ryder. Dia lalu merenggangkan pelukannya dan mengusap air mata yang ada diwajah Yara.
Petugas medis lalu membawa anak kecil itu ke rumah sakit agar mendapatkan pengobatan lebih lanjut, mereka juga ingin memawa Ryder agar bisa diperiksa oleh Dokter.
"Saya tidak baik-baik saja," ucap Ryder. Dia tidak ingin ke rumah sakit dan hanya ingin bersama dengan Yara saja.
"Apa kau yakin kalau baik-baik saja, Mas? Bagaimana kalau kita ke rumah sakit agar Dokter bisa memeriksa keadaanmu," pinta Yara.
__ADS_1
Ryder menggelengkan kepalanya. "Untuk apa aku ke rumah sakit jika istriku sendiri juga bisa mengobatiku, hem?"
Yara menghela napas kasar. Benar juga, percuma ada dia di samping Ryder jika laki-laki tetap harus ke rumah sakit.
Yara lalu menunjukkan identitasnya pada petugas medis bahwa dia seorang dokter, jadi mereka tidak perlu cemas jika terjadi sesuatu dengan suaminya.
Setelah apa yang terjadi, Yara segera membawa Ryder kembali ke hotel agar suaminya bisa segera membersihkan diri dan istirahat.
Semua orang yang mengetahui tentang perbuatan Ryder langsung mengucapkan banyak terima kasih, terutama orangtua dan kakak dari anak yang tenggelam tadi.
Sesampainya di hotel. Yara langsung membawa Ryder ke dalam mandi lalu memandikan sang suami. Setelahnya dia memakaikan pakaian yang hangat agar tidak masuk angin.
Ryder tersenyum senang dengan apa yang Yara lakukan. Perhatian dan kasih sayang yang wanita itu berikan benar-benar membuat cintanya semakin besar.
"Aku jadi seperti bayi yang dimandikan dan dipakaikan baju," ucap Ryder saat Yara sedang mengeringkan rambutnya.
Yara tersenyum mendengar ucapan sang suami. "Mas kan memang bayi, bayi besarku."
Tawa Ryder langsung pecah karena merasa lucu dengan apa yang Yara ucapkan, begitu juga dengan Yara yang ikut tertawa lucu.
"Biasanya setelah dipakaikan baju, bayi pasti akan disusui. Tapi kenapa aku enggak?" tanya Ryder dengan penuh makna membuat Yara kembali tertawa dengan wajah merah merona.
"Oh, jadi Mas mau juga?" tawar Yara.
Jelas saya Ryder langsung menganggukkan kepalanya sambil berbalik ke arah Yara. "Cepat buka, aku mau-"
Tok, tok. "Permisi Tuan, Nyonya. Maaf mengganggu waktu Anda."
Ryder langsung menggeram marah saat mendengar ketukan dipintu berserta suara seorang wanita, sementara Yara langsung mendorong tubuh Ryder sambil tertawa penuh ejekan.
"Lihat saja nanti," gimam Ryder sambil menatap Yara bak seekor singa kelaparan.
Yara langsung bergegas membukakan pintu untuk melihat siapa yang bertamu malam-malam ke kamar mereka. Ternyata seorang wanita yang merupakan karyawan di hotel itu.
"Selamat malam, Nyonya. Maaf jikasaya mengganggu kenyamanan Anda," ucap wanita itu sambil tersenyum ramah.
Yara ikut tersenyum membalas keramahan wanita itu. "Tidak papa, Nona. Apa ada yang bisa saya bantu?"
Wanita itu diperintah oleh pimpinannya untuk memberikan minuman hangat yang terbuat dari jahe dan juga madu untuk Yara dan Ryder, juga ada makanan khusus yang dapat menghangatkan tubuh. Tidak lupa dia memberi berbagai obat juga mana tau nantinya laki-laki itu terkena demam.
Yara tertegun melihat perhatian yang pihak hotel berikan pada mereka. "Terima kasih banyak, saya sangat senang dengan perhatian yang kalian berikan. Tolong ucapkan terima kasih juga pada pimpinan Anda, semoga Allah membalas semua kebaikan ini."
•
•
__ADS_1
•
Tbc.