Takdir Cinta Yang Kau Pilih

Takdir Cinta Yang Kau Pilih
Bab 150. Pamit Pulang Kampung.


__ADS_3

Yara lalu mengajak mereka semua untuk masuk ke dalam rumah walau masih merasa terkejut karena Ryder tidak memberi kabar jika akan datang, terlihat keluarganya menyambut kedatangan Ryder dengan hangat.


"Mari-mari, silahkan duduk," seru Via saat melihat kedatangan Ryder bersama dengan sepasang suami istri yang sudah lansia.


Nenek Weny tersenyum senang melihat keramahan dan kehangatan yang Yara dan orangtua wanita itu berikan, dia juga sangat kagum dengan kemegahan rumah mereka.


"Bagaimana kabarnya, Kek, Nek?" tanya Zafran yang baru saja keluar dari kamar, membuat kakek Domi dan sang istri langsung melihat ke arahnya.


"Kami baik, Nak. Kau sendiri bagaimana, apa luka yang dikakimu sudah kering?" tanya Weny sambil melihat ke arah kaki Zafran.


Zafran menganggukkan kepala. Tentu saja luka yang ada dikakinya sudah kering, karena selama ini dia istirahat total dan dirawat dengan rutin oleh sang kakak.


Sesaat kemudian, Via datang sambil membawa minuman dan makanan ringan untuk mereka dengan dibantu oleh Yara dan pembantu juga.


"Saya sudah mendengar tentang Anda dari Yara dan Zafran, Nek. Terima kasih sudah memperlakukan anak-anak kami dengan baik," ucap Via dengan tulus.


Nenek Weny menganggukkan kepalanya. "Mereka sudah saya anggap sebagai cucu sendiri, sama seperti Ryder. Jadi Anda tidak perlu berterima kasih."


Via merasa sangat senang karena anak-anaknya di kelilingi oleh orang-orang baik, itu sebabnya selama ini dia juga memperlakukan orang lain dengan baik berharap kebaikan itu akan kembali pada keluarganya sendiri.


Mereka semua lalu saling bertukar kabar dan mengobrol dengan hangat. Tampak Ryder terus melihat ke arah Yara membuat wanita itu menatap dengan penuh tanda tanya.


Ryder lalu melirik ke arah taman yang ada di samping rumah seolah memberi kode jika dia ingin bicara berdua, membuat Yara menghela napas kasar sambil menggelengkan kepalanya.


Yara lalu beranjak pergi dari tempat itu saat melihat Ryder sudah pergi duluan, membuat mereka semua menatap dengan lucu.


"Lihat mereka, curi-curi kesempatan dalam kesempitan," ucap Zafran sambil terkekeh pelan.


Via tampak menggelengkan kepalanya mendengar ucapan Zafran, sementara kakek Domi dan nenek Weny juga menggelengkan kepala mereka disertai tawa lucu.


Ryder dan Yara lalu duduk di taman yang ada di samping rumah, terlihat ada tukang kebun juga di tempat itu yang sedang merawat tanaman.


"Kenapa kau tidak memberitahu jika akan berkunjung ke sini, Ryder? Aku kan bisa siapkan makanan yang enak untuk kalian," ucap Yara. Jika dia tahu lebih awal maka bisa membuat persiapan.


Ryder tersenyum. "Aku kan ingin membuat kejutan untukmu, rupanya kau tidak terlalu terkejut." Dia mencebikkan bibir dengan sebal.


Yara langsung tergelak. "Aku terkejut loh, tadi pas kau datang. Masa gak keliatan?"


Ryder berdecih. Padahal dia sudah bermimpi jika Yara akan terkejut dan langsung berlari ke arahnya. Eh, ternyata yang terjadi tidak sesuai dengan ekspektasinya.


"Tapi sudah lama juga kita tidak bertemu, aku sangat merindukanmu," sambung Yara.


Ryder terkesiap mendengar ucapan Yara. "Benarkah? Apa kau benar-benar merindukanku?" Dia bertanya dengan tidak percaya.

__ADS_1


"Tentu saja," jawab Yara. "Memang kapan aku pernah berbohong?"


Ryder langsung tersenyum lebar dengan wajah bersemu merah mendengar pengakuan Yara, karena dia sendiri pun sangat merindukan wanita itu.


"Maaf karena aku baru bisa menemuimu," ucap Ryder dengan penuh sesal. "Ada banyak sekali urusan yang harus aku selesaikan, sampai tidak sadar jika sudah dua minggu berlalu sejak kau kembali ke sini."


Yara mengangguk paham. "Aku mengerti, Ryder. Kau pasti sangat lelah mengurus semuanya. Maaf karena tidak bisa membantumu." Dia merasa tidak enak hati padahal laki-laki itu selalu membantunya.


"Tidak apa-apa, aku sudah senang hanya dengan mendengar namamu. Apalagi saat kau berkata jika merindukanku, membuat dadaku berdebar keras," ucap Ryder dengan serius.


Wajah Yara langsung merah merona mendengar gombalan Ryder, dia lalu menanyakan bagaimana keadaan para penduduk desa saat ini untuk mengalihkan perhatian.


"mereka semua baik-baik saja, mereka juga titip pesan padamu."


"Wa'alaikum salam," sahut Yara sambil tersenyum senang.


Ryder lalu mengatakan jika besok pagi dia akan kembali ke indonesia untuk menemui kedua orangtuanya, sudah lama juga dia tidak bertemu dengan mereka, apalagi sang mama.


"Ya sudah, besok aku akan mengantar kalian ke bandara. Semoga perjalanannya lancar dan baik-baik saja," ucap Yara dengan tulus.


Ryder lalu mengajak Yara untuk masuk dan kembali bergabung dengan yang lainnya, dia sudah merasa senang karena bisa bicara dan menghabiskan waktu berdua dengan wanita itu walau hanya satu jam saja.


Beberapa saat kemudian, Vano juga sudah sampai di rumah. Dia pulang sedikit lebih lama karena harus menunggu Zayyan yang sedang sibuk mengerjakan tugas di rumah temannya.


*


*


Malam harinya, setelah selesai menikmati makan malam. Mereka semua kembali berkumpul di ruang keluarga untuk membahas masalah Bayu, karena Vano ingin mendengar bagaimana kabar laki-laki itu saat ini.


"Dia baru saja keluar dari rumah sakit karena terluka parah, bahkan dokter juga mengatakan kalau waktu itu kondisinya sangat parah," ucap Ryder.


"Mampus! Bajing*an itu memang pantas mendapatkannya," umpat Vano dengan geram membuat Via langsung mencubit lengannya. "Lalu bagaimana dengan hukumannya?" Dia kembali bertanya sambil mengusap lengannya yang berdenyut sakit.


"Pihak pengadilan belum menetapkannya, Pa. Tapi jaksa menuntut agar diberi hukuman mati atau penjara seumur hidup untuknya," jawab Ryder kemudian.


"Mampus! Biar dia membusuk dipenjara," ucap Zayyan, persis seperti apa yang papanya katakan tadi.


Via langsung melotot ke arah putra bungsunya itu membuat Zayyan cengengesan, sementara yang lain tertawa melihat kesamaan ayah dan anak itu. Memang buah tidak akan jatuh jauh dari pohonnya.


Waktu berlalu dengan sangat cepat hingga tidak terasa jika sekarang sudah jam 11 malam lewat. Semua orang lalu beranjak masuk ke dalam kamar masing-masing untuk segera istirahat, kecuali Vano dan Ryder yang masih berada di tempat itu.


"Ikut papa, Ryder. Ada sesuatu yang ingin papa bicarakan denganmu," ucap Vano. Dia memang sudah menyuruh laki-laki itu untuk memanggilnya dengan sebutan papa.

__ADS_1


Ryder mengangguk. Dia lalu berjalan mengikuti langkah Vano menuju ruang kerja, sepertinya laki-laki itu ingin membahas tentang hal penting.


"Duduklah," seru Vano saat sudah sampai di ruang kerjanya, membuat Ryder langsung duduk di sofa yang ada dalam ruangan itu.


"Ada apa, Pa? Apa ada sesuatu yang terjadi?" tanya Ryder.


Vano menggelengkan kepalanya. "Tidak, papa hanya ingin menanyakan sesuatu saja." Ryder mengangguk-anggukkan kepalanya. "Papa sudah dengar dari Zafran bahwa kau akan membangun rumah sakit dan juga jalan menuju desa Hyla. Apa itu artinya kau akan menetap di sana?" Dia bertanya dengan serius.


Ryder kembali mengangguk. "Benar, Pa. Aku berencana untuk menetap di desa itu." Dia menjawab dengan tenang.


"Kenapa kau memilih menetap di sana dari pada di kota?" tanya Vano kembali.


Ryder lalu mengatakan jika ingin memajukan desa itu, dan yakin jika desa itu akan berkembang maju seperti kehidupan di kota.


Mungkin bagi sebagian orang lebih enak tinggal di kota dari pada di desa, tetapi tidak untuk Ryder yang sudah merasakan keduanya. Dia lebih memilih untuk menghabiskan waktu di desa yang tenang bersama dengan istri dan anak-anaknya kelak, tetapi bukan berarti menjauh dari kota seutuhnya, karena nantinya dia pun akan banyak melakukan pembangunan di desa itu.


Vano merasa terharu dan bangga dengan jawaban Ryder. Tidak disangka laki-laki itu punya niat yang sangat baik dan juga tulus.


"Apa Papa keberatan kalau aku mengajak Yara tinggal di sana?" tanya Ryder.


Vano langsung menggelengkan kepalanya. "Tentu saja tidak. Kenapa papa harus keberatan dia tinggal di desa?"


"Yah mana tau Papa khawatir dengan kejadian yang baru saja terjadi kemarin?" ucap Ryder.


Vano kembali menggelengkan kepalanya. "Kejahatan itu bisa terjadi di mana saja, yang harus kita lakukan adalah tetap berhati-hati. Papa sama sekali tidak keberatan kau membawa Yara tinggal di desa atau pun kota, tapi kalau kau membawanya ke desa lalu kau tinggalkan di sana, barulah papa keberatan."


Ryder tergelak mendengar ucapan Vano, dia lalu berjanji bahwa tidak akan pernah meninggalkan dan menyakiti Yara dalam hal apapun.


"Seperti yang kau tahu, Ryder. Dulu dia pernah sangat terluka karena sebuah pengkhianatan. Jadi jika suatu saat nanti kau sudah bosan, sudah tidak mencintainya atau sudah tidak menginginkannya lagi, maka kembalikan dia pada papa, papa akan menerimanya dengan senang. Tapi jangan sekali pun kau meninggalkannya atau bersama dengan wanita lain di saat kalian masih bersama, karena jika itu terjadi, maka papa tidak akan tinggal diam." Dia berucap dengan serius dan penuh dengan penekanan.


Ryder mengangguk paham. Dia sendiri sudah berjanji kalau tidak akan pernah meninggalkan atau mengkhianati Yara sampai kapanpun.


"Aku berjanji, Pa. Aku berjanji pada Papa jika aku tidak akan pernah meninggalkan atau mengkhinatinya. Aku akan berusaha untuk selalu membahagiakannya walau dalam proses itu mungkin akan ada suka dan duka, tapi aku akan tetap berusaha memberikan semua yang terbaik untuknya."






Tbc.

__ADS_1


__ADS_2