
Aidan menatap Zafran dengan tajam dan penuh amarah. Tangannya mengepal erat dengan wajah merah padam.
"Kenapa, bukankah apa yang aku katakan itu benar, Tuan Aidan?"
Yara langsung menggenggam lengan Zafran sambil menggelengkan kepalanya, seolah memberi kode pada sang adik agar tidak melanjutkan apa yang laki-laki itu katakan.
"Ayo kita pulang! Tidak baik berlama-lama dengan manusia yang terkutuk."
"Kau-"
Vano langsung beranjak pergi dari tempat itu dengan diikuti oleh Via membuat Nova tidak bisa melanjutkan ucapannya. Yara dan juga yang lainnya ikut beranjak pergi dari tempat itu tanpa melihat ke arah Aidan dan keluarganya.
"Kau lihat, Aidan. Wanita seperti itu yang selama ini kau perjuangangkan, hah?"
Nova menatap Aidan dengan tajam membuat Aidan menghela napas kasar, sementara Rosa tersenyum senang dengan keadaan yang memanas antara keluarga Aidan dan juga Yara.
"Bagus. Itu artinya tidak ada kesempatan lagi untuk mereka kembali bersama, dan Aidan akan menjadi milikku seutuhnya."
Tentu saja Rosa merasa sangat bahagia dengan apa yang terjadi saat ini. Dia lalu beranjak pergi dari tempat itu mengikuti Aidan dan ibunya pergi.
Beberapa saat kemudian, Yara dan semua keluarganya sudah sampai di rumah. Semua orang masuk ke dalam kamar masing-masing, begitu juga dengan Yara yang membaringkan tubuhnya ke atas ranjang.
Kedua mata Yara terpejam sembari mengingat segala kenangan indah saat bersama dengan Aidan. Mulai dari pertama kenal sampai memutuskan untuk menjalin hubungan, setelah itu membina bahtera rumah tangga selama 1 tahun.
Senyum tulus terlukis indah di wajah Yara saat mengingat semua kenangan itu, tetapi senyumnya kemudian surut kala kenangan tidak mengenakkan tentang pertengkaran mereka melintas dalam pikiran.
Namun, apapun yang terjadi antara dia dan Aidan sekarang hanya tinggal kenangan saja. Baik dan buruknya semoga menjadi pelajaran untuk mereka berdua ke depannya.
"Terima kasih telah memberikan cinta dan kasih sayang untukku, Mas. Walau saat ini hubungan kita memburuk bahkan sampai terjadi perpisahan, tetapi kenangan yang kau berikan akan aku ingat selamanya."
Yara mengusap dadanya yang kembali berdebar. Tentu saja rasa cintanya masih sangat besar untuk Aidan, dan semoga saja lambat laun waktu akan memberikan ketenanangan dalam hatinya hingga cinta itu memudar.
__ADS_1
*
*
*
Setelah proses perceraian selesai, Yara memutuskan untuk berkunjung ke rumah sang papa di indonesia. Sudah lumayan lama juga dia tidak datang ke sana sekaligus menjenguk oma dan opanya.
Mahen menjemput Yara di bandara bersama dengan putra dan juga putrinya. Kedua anaknya sangat bersemangat sekali saat mengetahui kedatangan kakak mereka, bahkan Fahraz sampai tidak mau sekolah karena ingin ikut menjemput Yara.
"Mbak Yara!"
Yara yang sedang mendorong trolley langsung menolehkan pandangannya ke arah sumber suara. Dia tersenyum lebar sambil mempercepat langkah kakinya saat melihat kedua adik tercinta.
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikum salam."
Fahraz dan Yumi langsung melompat dalam pelukan Yara sambil menjawab ucapan salam dari sang kakak, sementara Mahen tersenyum senang saat melihat putri sulungnya sampai ke tempat tujuan dengan selamat.
"Mbak, Yumi gak bisa napas."
Yara tersentak kaget saat mendengar ucapan sang adik, dia lalu melepaskan pelukannya sambil terkekeh pelan.
"Maaf-maaf, mbak terlalu bersemangat."
Yumi mencebikkan bibirnya membuat Yara semakin gemas. Dia lalu mengecup pipi bulat gadis berusia 9 tahun itu membuat Yumi terkekeh geli.
"Sudah-sudah. Kapan kita pulang kalau kalian seperti ini terus?"
Mahen menatap anak-anaknya dengan menggelengkan kepala membuat Yara menoleh ke arahnya. Sontak Yara beranjak bangun dan langsung menyalim tangan sang papa.
__ADS_1
"Bagaimana kabar Papa?"
"Alhamdulillah papa baik, Sayang. Ayo kita pulang, mama sudah menunggu di rumah!"
Yara lalu menganggukkan kepalanya dan bergegas mengikuti langkah sang papa, tentu saja dengan Fahraz dan juga Yumi yang saling berceloteh sepanjang jalan.
Setelah perjalanan sekitar 20 menit, akhirnya mereka sampai ke tempat tujuan. Terlihat kedua orang tua Mahen sudah berdiri di halaman rumah untuk menyambut kedatangan Yara.
"Assalamu'alaikum Oma, Opa."
Yara langsung memeluk tubuh oma Camelia dengan erat bersamaan dengan oma Camelia yang menjawab salamnya.
"Bagaimana kabarmu, Nak?" tanya oma Camelia sambil mengusap wajah Yara. Dia menatap wanita itu dengan sendu karena sudah tahu apa yang terjadi pada sang cucu.
"Alhamdulillah aku baik, Oma. Bagaimana kabar Oma dan Opa?"
"Kami baik-baik saja, Nak," jawab oma Camelia dan juga opa Adrian secara bersamaan.
Kemudian mereka membawa Yara masuk ke dalam rumah, tidak lupa sambil bertanya bagaimana kabar keluarganya yang ada di London.
Seorang wanita paruh baya yang sedang berada di dapur bergegas keluar saat mendengar suara Yara. Dia membuka celemek yang sedang di pakai dan bergegas menuju ruang keluarga.
"Yara!"
Yara memalingkan wajahnya saat mendengar suara sang mama. "Mama." Dengan cepat dia melangkahkan kakinya menuju sang mama tiri.
"Anakku, mama sangat merindukanmu, Sayang."
•
•
__ADS_1
•
Tbc.