
Kedua laki-laki yang ada di samping kanan dan kiri Rosa langsung menarik pakaiannya, hingga robek dan menjadi beberapa bagian.
"Kalian boleh menikmati tubuhku sepuasnya, asal aku mohon lepaskan aku," pinta Rosa sambil mengerrang kuat saat salah satu dari mereka memasukkan 3 jari sekaligus ke dalam lembah kenikmatannya.
"Kau pikir kau seberharga apa, Rosa? Bahkan kami berhak untuk menikmatimu kapan saja."
Mereka langsung menyerang tubuh Rosa dengan brutal hingga membuat wanita itu mengerrang dan mendessah.
Sepanjang perjalanan, suara rintihan terus terdengar di dalam mobil itu. Ke empat lelaki yang ada di dalamnya secara bergantian menikmati tubuh Rosa, bahkan mereka bermain secara bersamaan dan memasuki wanita itu dari depan dan belakang membuat seluruh tubuh Rosa dibanjiri keringat dingin.
"Aku mohon lepaskan aku," ucap Rosa dengan napas tersengal-sengal. Tubuhnya sangat lemas, bahkan tulang-tulangnya terasa remuk redam karena terus di genjot secara bergantian atau bersamaan oleh mereka.
*
*
Keesokan harinya, seperti biasa Yara sedang bersiap untuk berangkat ke rumah sakit. Hari ini dia datang lebih pagi dari pada semalam, karena dia merasa khawatir dengan keadaan Ryder.
"Kau enggak sarapan dulu, Nak?" tanya Via yang baru saja masuk ke dalam kamar Yara.
Yara tersenyum saat melihat sang mama. "Aku sarapan di rumah sakit aja, Ma. Aku harus segera berangkat."
Via menganggukkan kepala membuat Yara langsung menyalim lalu mengecup pipinya. "Hati-hati dijalan, Sayang."
Yara mengangguk dan segera beranjak keluar dari kamar. Dia merasa sedikit bersalah dengan Ryder karena tadi malam tidak datang ke rumah sakit, tetapi perawat yang dia tugaskan untuk memeriksa kondisi laki-laki itu mengatakan jika Ryder baik-baik saja.
Setelah perjalanan sekitar 20 menit, Yara sudah sampai di parkiran rumah sakit. Dia segera keluar dari mobil dan bergegas masuk ke dalam tempat itu.
"Selamat pagi Dokter,"
"Selamat pagi Dokter Yara,"
Beberapa petugas medis yang melihat kedatangan Yara langsung menyapa dengan ramah, tentu saja berita tentang wanita itu sudah menyebar keseluruh penjuru rumah sakit. Bahkan beberapa pasien yang berada di sana ingin dirawat oleh Yara.
"Selamat pagi juga semuanya, semangat untuk hari ini ya." Yara tersenyum dengan hangat sambil menjawab sapaan semua orang, dia benar-benar sangat senang dengan keramahan orang-orang yang ada di rumah sakit itu.
__ADS_1
Yara lalu melangkahkan kakinya menuju ruangan Ryder. Dengan perlahan dia membuka pintu ruangan itu, dan tersenyum saat melihat semua orang masih tidur.
"Mereka pasti kelelahan menjaga Ryder."
Yara menatap kedua orang tua Ryder dengan kasihan, padahal mereka bisa saja menyuruh orang lain untuk menjaga laki-laki itu. Namun, kedua orang tua Ryder ingin menjaga putra mereka sendiri.
"Mungkin makanan yang dimasak mama tadi bisa menghangatkan tubuh mereka, kenapa tadi tidak ku bawa saja ya?"
Yara menyesal karena tidak membawa bekal masakan yang kedua mamanya masak, dia lalu mengambil ponselnya dan segera mengguhubungi sang mama.
Ryder yang punya pendengaran sangat sensitif tentu saja tahu jika ada seseorang yang masuk ke dalam ruangannya, dia mencoba untuk mengintip siapa orang tersebut melalui ekor matanya.
"Dia datang sepagi ini?"
Ryder merasa heran tetapi juga senang, dia lalu membuka kedua matanya saat melihat Yara keluar dari ruangan itu.
"Kenapa dia cepat sekali datangnya?"
Ryder melirik ke arah jam yang masih menunjukkan pukul setengah 7 pagi, tetapi wanita itu sudah datang untuk melihat keadaannya.
"Apa dia merindukanku?"
Yara yang sudah selesai menelepon sang mama untuk mengirim makanan ke rumah sakit, tampak sedang duduk di depan ruangan Ryder. Dia sedang mengecek beberapa email yang masuk ke dalam akunnya, dan salah satunya dari Aidan.
"Mas Aidan ingin meminjam uang?"
Yara sedikit terkejut saat melihat pesan yang Aidan kirim, dan tumben sekali laki-laki itu menghubunginya melalui email.
"Ah iya aku lupa, aku kan sudah ganti nomor ponsel." Yara terkekeh sendiri.
Kemudian Yara beranjak dari tempat itu dan kembali masuk ke dalam ruangan Ryder. Terlihat laki-laki itu sudah duduk manis sambil bersandar pada sandaran ranjang.
"Jika diam seperti itu, dia benar-benar sangat tampan." Yara seakan terhipnotis melihat wajah Ryder yang tampak bersinar terang. "Tunggu, apa yang sedang aku pikirkan sih?" Dia menggeleng-gelengkan kepalanya yang sudah lari dari jalur kebenaran.
Ryder yang melihat Yara terpaku di depan pintu mengernyit bingung, apalagi saat wanita itu menatap wajahnya.
__ADS_1
"Tunggu, jangan-jangan masih ada sabun di wajahku?" Ryder langsung mengambil ponsel untuk berkaca dan memastikan jika wajahnya sempurna tanpa cela sedikit pun.
"Selamat pagi, Ryder."
Tubuh Ryder terjingkat kaget saat mendengar sapaan Yara. "Se-selamat pagi."
"Maaf, apa aku mengagetkanmu?"
"Tidak." Ryder langsung menggelengkan kepalanya. "Kenapa masih sepagi ini kau sudah datang?"
Yara tersenyum sambil berjalan mendekati ranjang, dan senyumnya itu membuat dada Ryder kembali jedag-jedug.
"Aku sengaja datang cepat untuk memeriksa keadaanmu. Bagaimana, apa semua baik-baik saja?"
Ryder langsung mengangguk. "Aku baik-baik saja."
"Lalu, kenapa tadi malam kau berkata jika sedang kesakitan?"
Ryder terkesiap. Entah kenapa jika bicara dengan Yara selalu membuat pikirannya tidak fokus, yang tadinya ingin bicara A menjadi bicara Z.
"I-itukan tadi malam, sekarang aku baik-baik saja."
Yara mengangguk-anggukkan kepala, kemudian seorang perawat masuk ke dalam ruangan itu dan membantunya untuk melakukan pemeriksaan.
"Maaf, aku harus melihat luka yang ada di perutmu."
Ryder langsung membuka kemeja yang dia pakai menampakkan tubuhnya yang sangat atletis, tentu membuat semua mata memandang tanpa berkedip. Namun, tidak untuk Yara yang tampak biasa saja.
"Kenapa dia tidak tergoda? Apa tubuhku kurang bagus?"
•
•
•
__ADS_1
Tbc.