
Setelah mengucapkan banyak terima kasih pada petugas hotel, Yara segera membawa masuk makanan dan minuman yang diberi oleh wanita tadi. Dia benar-benar merasa beruntung bisa menginap di tempat yang di kelilingi oleh orang-orang baik.
"Loh, udah tidur?" gumam Yara sambil terkekeh saat melihat Ryder sudah terlelap di bawah selimut. Dia lalu meletakkan makanan dan minuman itu ke samping ranjang, kemudian duduk si samping Ryder.
Yara mengusap puncak kepala Ryder dengan sayang. Betapa beruntungnya dia bisa dipertemukan dengan laki-laki seperti suaminya. Walau Ryder terkesan jahil dan terlihat angkuh, tetapi hati laki-laki itu sangat lembut dan juga baik. Juga sangat bertanggung jawab dan peduli kepada sesama.
"Terima kasih karena sudah menolong anak itu, Mas. Aku sangat bangga sekali padamu," gumam Yara sambil mengecup kening sang suami dengan penuh cinta.
"Kenapa cuma kening?"
Yara terperanjat kaget saat mendengar suara Ryder, apalagi kini kedua mata laki-laki itu sudah kembali terbuka.
"Ma-maaf, Mas. Aku sudah membangunkanmu, ya?" ucap Yara dengan tatapan rasa bersalah.
Ryder tersenyum, dia lalu mengecup bibir Yara membuat wajah wanita itu langsung memerah. "Siapa tadi yang datang, kenapa lama sekali?" Dia cemberut. Sangking lamanya menunggu dia sampai ketiduran.
Yara langsung menunjukkan apa yang petugas hotel itu berikan tadi. Lalu menyiapkannya agar bisa dinikmati oleh mereka berdua.
*
*
Ryder dan Yara benar-benar menghabiskan waktu bulan madu mereka dengan membuat kenangan yang sangat indah, seindah tempat-tempat yang mereka kunjungi.
Setelah menghabiskan lima hari di negara itu, akhirnya hari ini Yara dan Ryder kembali ke London, tempat di mana orangtua mereka berada.
Kepulangan mereka langsung disambut oleh Zayyan yang tampak sangat tidak sabar melihat oleh-oleh yang mereka bawa, membuat sang kakak langsung mencubit pipinya dengan gemas.
"Jadi kau menjemput mbak cuma karna mau ole-olenya aja?" tanya Yara sambil menatap sang adik dengan tatapan tajam.
"Tentu saja tidak," jawab Zayyan sambil menggelengkan kepalanya. "Aku kan sangat merindukan Mbak, masak Mbak gak merasakan kerinduanku ini sih?" Dia pura-pura marah, supaya dapat ole-ole yang banyak.
Yara langsung tergelak sambil memeluk lengan sang adik. "Iya-iya, Mbak percaya sama kebohonganmu."
Mereka lalu tertawa bersama, sementara Ryder hanya menggelengkan kepalanya melihat kelakuan kakak beradik itu.
Dia yang seorang anak semata wayang tentu tidak tahu bagaimana rasanya bercanda dengan adik atau pun kakak, juga tidak tahu bagaimana serunya bertengkar dengan sesama saudara.
__ADS_1
Namun, sejak mengenal keluarga Yara. Ryder merasakan semua itu. Dia tahu bagaimana rasanya menjadi seorang kakak, dan perasaan itu benar-benar membuat hatinya terasa hangat.
Bukan hanya cinta sepasang wanita dan lelaki saja, tetapi cinta keluarga yang sangat dalam sekali juga dia rasakan. Bahkan perubahan dalam dirinya pun disebabkan karena Yara.
Rumah Vano tampak ramai dengan kepulangan Yara dan Ryder. Dia memang sengaja mengundang mereka semua untuk menyambut kepulangan anak dan menantunya.
Yara tersenyum senang saat melihat mereka semua berkumpul di rumah sang papa. Bahkan sampai River dan Jean juga datang ke rumah itu.
"Nah, aku akan bagi-bagi hadiah untuk semua orang. Semoga kalian menyukainya," ucap Yara sambil mengeluarkan isi dari dua kotak besar yang ada di hadapan mereka semua.
Yara banyak membeli ole-ole agar bisa dibagikan pada semua orang, dia bahkan menyiapkan ole-ole untuk keluarga yang ada di indonesia dan langsung mengirimnya ke sana saat masih berada di Dubai.
Ada perhiasan, parfum, pakaian dan juga aksesoris yang dia beli. Tidak lupa berbagai makanan khas dari tanah arab itu yang sangat rekomendasi sekali untuk dicoba.
Setelah membagi-bagikan ole-ole pada semua orang, Yara memutuskan untuk istirahat karena tubuhnya merasa sangat lelah, sementara Ryder masih duduk bersama dengan yang lainnya.
"Bagaimana persiapan di sana, Ryder? Apa semuanya sudah selesai dibangun?" tanya Eric saat sang menantu sudah tidak terlihat lagi.
"Rumah kami sudah selesai semua, Pa. Hanya tingga merapikan di beberapa bagian saja. Untuk jalannya juga sudah selesai 90 persen, hanya tinggal penguatan untuk jembatannya saja yang masih harus kembali diperiksa. Lalu rumah sakit juga sudah mulai rampung, yah sekitar 70 persenlah, sisanya masih dalam proses pembangunan," ucap Ryder menjelaskan semuanya kepada mereka.
Semua orang menatap Ryderdengan kagum. Mereka tidak menyangka jika Ryder akan sangat berubah drastis seperti ini, terutama kedua orangtuanya.
Ryder tertegun mendengar ucapan sang papa, hatinya terasa berdesir melihat kebanggaan yang sangat besar diwajah kedua orangtuanya.
"Aku belajar semua itu dari Mama dan Papa, dan aku merasa senang jika membuat Mama dan Papa merasa bangga padaku," sahut Ryder.
Riana dan Eric menganggukkan kepala mereka. Sungguh mereka merasa sangat bersyukur dengan perubahan dalam diri Ryder. Laki-laki yang selalu membuat onar dan masalah, kini berubah menjadi laki-laki bijak dan baik hati.
Beberapa saat kemudian, semua orang pamit pulang untuk kembali ke rumah masing-masing. Begitu juga dengan kedua orangtua Ryder yang saat ini menempati rumah yang Zafran beli.
"Besok aku dan Yara akan menginap di sana, Ma," ucap Ryder saat mengantar kedua orangtua ke halaman rumah.
Riana mengangguk. "Tidak apa-apa, Sayang. Mau di sana atau di sini itu sama saja, kan mama juga bisa ke sini." Dia lalu menarik bahu Ryder agar putranya menunduk, dan melabuhkam kecupan dikening sang putra.
Ryder tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. "Hati-hati dijalan Ma, Pa." Dia melambaikan tangan ke arah mereka.
"Mama dan Papa pulang dulu," ucap Riana sambil melambaikan tangannya, tidak lupa mengucap salam yang langsung di balas oleh Ryder.
__ADS_1
Setelah mengantar kedua orangtuanya, Ryder lalu ke kamar untuk istirahat bersama dengan Yara. Tubuhnya juga terasa sangat lelah, apalagi mereka terlalu banyak beraktivitas saat di Dubai semalam.
Cup.
Ryder melabuhkan kecupan ke pipi Yara yang terlihat lebih berisi. "Mimpi indah, Sayang. Aku mencintaimu." Dia lalu melingkarkan tangannya ke perut Yara dan memeluknya dengan erat membuat Yara menggeliat.
Keduanya lalu sama-sama melewati sore hari ini dengan terlelap di bawah selimut. Mereka berdua benar-benar sangat kelelahan karena terlalu bersemangat saat bulan madu. Baik bersemangat saat jalan-jalan, juga bersemangat saat menghabiskan waktu di atas ranjang.
*
*
Setelah persiapan yang cukup panjang, akhirnya hari ini Yara dan Ryder akan kembali ke desa dengan diantar oleh seluruh keluarga. Mereka ingin melihat bagaimana desa itu karena memang belum pernah pergi ke sana.
Tepat pukul 8 pagi, Ryder dan semua keluarganya berangkat ke desa tersebur. Perjalanan yang bisa memakan waktu 4 sampai 5 jam, kini bisa dipangkas menjadi 2 sampai 3 jam saja, karena jalan menuju desa itu sudah diperbaiki oleh Ryder.
Pemerintah bahkan terkejut saat mengetahui, tetapi Ryder tidak peduli. Jika hanya mengharapkan bantuan dari pemerintah, maka sampai sepuluh tahun ke depan pun belum tentu jalan itu akan diperbaiki. Tidak papa jika dia harus menggelontorkan uang dalam jumlah besar untuk pembangunan, karena nantinya dia sendiri juga yang akan menikmati hasilnya.
"Masyaallah, pemandannya indah sekali," ucap Via saat melihat pemandangan yang mereka lewati.
"Iya kan Ma, aku saja juga terpana saat melihatnya," ucap Zafran yang duduk di samping sang mama.
Via tersenyum lalu menganggukkan kepalanya. Mungkin nanti dia akan sering berkunjung ke tempat ini, apalagi akses menuju desa itu sudah diperbaiki.
Yara yang sedang bersama dengan sang mertua juga melihat pemandangan dengan takjub. Walau dia sudah pernah atau bahkan tinggal di desa itu, tetapi tetap saja pemandangannya sangat bagus
"Tunggu, kenapa jalannya sudah diaspal semua?" ucap Yara saat baru menyadari jika sejak tadi mereka terus melaju dia atas aspal, padahal seharusnya mereka sedang melewati bebatuan.
Ryder yang sedang menyetir tampak tersenyum mendengar ucapan Yara, begitu juga dengan kedua orangtuanya.
"Ada apa, Mas? Apa kau tahu sesuatu?"
•
•
•
__ADS_1
Tbc.