
Semua orang langsung menatap ke arah layar monitor saat mendengar suara Zafran, begitu juga dengan Bayu yang sudah bersiap untuk pergi dari tempat itu.
Setelah memastikan semua orang memperhatikan ke depan, Zafran langsung memutar film yang sudah dia siapkan dengan sepenuh hati untuk Bayu.
"Kita lihat bagaimana wajahmu setelag menyaksikan film persembahanku ini," gumam Zafran.
Perlahan video itu mulai berputar dan menampakkan keadaan yang sedang gelap gulita, lalu tiba-tiba tampaklah Bayu yang sedang berjalan bersama dengan para bawahannya.
Kedua mata Bayu terbelalak lebar saat melihat apa yang ada di depan matanya, sontak dia menghampiri Zafran yang saat ini sedang melihatnya dengan sinis.
"Apa yang kau lakukan? Hentikan semua ini!" ucap Bayu dengan tajam. Dia lalu berusaha untuk merebut laptop Zafran tetapi dengan cepat ditangkis oleh laki-laki itu.
"Diam dan nikmati saja semuanya, Bayu. Lihat, kau sudah seperti artis yang ditonton oleh banyak orang," seru Zafran.
Wajah Bayu berubah menjadi merah padam karena dikuasai oleh emosi, sementara orang-orang yang sedang menyaksikan film itu tampak sangat terkejut dan tidak menyangka jika Bayu melakukan hal seperti itu.
"Dasar penjahat! Jadi selama ini kau yang menggelapkan bahan pabrik, hah?" Pekik manager pabrik dengan emosi. Pantas saja tadi Ryder meminta semua nama pekerja yang bertugas di gudang, ternyata selama ini mereka telah melakukan kejahatan.
"Dasar tidak punya malu! Bagaimana bisa kau mengkianati tuan Ryder seperti itu?" teriak salah satu ibu-ibu yang merupakan fans garis kerasnya Ryder.
"Benar. Ternyata kau diam-diam menghanyutkan yah. Padahal selama ini kau selalu baik di depan orang lain, tapi ternyata kau menikam dari belakang!" seru yang lainnya.
Wajah Bayu memucat mendengar teriakan demi teriakan yang orang-orang layangkan padanya, hingga dia memilih untuk berbalik dan pergi dari tempat itu.
"Mau ke mana kau?" tanya Ryder yang sejak tadi berdiri di belakang Bayu.
Bayu terpaku di tempatnya berdiri. "Se-semua ini hanya salah paham, Ryder. Aku, aku tidak mungkin meng-"
Buak.
Tinjuan Ryder melayang tepat ke wajah Bayu membuat tubuh laki-laki itu tersungkur di atas tanah. Orang-orang yang melihatnya langsung riuh dan melempari tubuh Bayu dengan batu.
"Hentikan. Aku tidak bersalah, aku tidak melakukan semua itu!" teriak Bayu yang masih keukeh untuk membela diri
Yara dan rekan-rekannya merasa bingung saat melihat apa yang terjadi. Sebagai petugas medis, mereka sudah bersumpah untuk mengobati semua orang tanpa terkecuali. Namun, bagaimana jadinya jika seperti ini?
"Apa yang harus kita lakukan, Dokter Yara? Tubuhnya sudah terluka," tanya Dokter Ansel.
Yara terdiam sambil menatap Bayu dengan tatapan berapi-api. "Biarkan dulu, dia tidak akan mati hanya dengan karena luka seperti itu."
Glek.
Ansel dan Lewis langsung menelan salive mereka saat mendengar ucapan Yara, mereka tidak menyangka jika wanita itu akan mengeluarkan kata-kata seperti itu.
__ADS_1
"Dasar anak haram!"
"Bawa saja dia ke kantor polisi!"
"Tidak tahu malu, bajing*an kurang ajar!"
Semua orang terus mencaci maki Bayu untuk meluapkan amarah mereka, padahal masih ada pertunjukan lain yang lebih parah dari semua itu.
"Ke sini kau!" Ryder menarik kerah kemeja Bayu lalu menghempaskan tubuh laki-laki itu ke arah Zafran, hingga bersimpuh tepat di hadapan laki-laki itu. "Buka kaos kakimu, Zafran!" Perintahnya.
Zafran langsung membuka kaos kakinya lalu menunjukkan luka yang ada dikedua kaki itu, sementara Bayu melotot dengan tidak percaya.
"Kau lihat luka itu, hah?" tanya Ryder dengan tajam. "Itu adalah luka yang dia dapatkan saat kau mengejarnya tadi malam."
Kedua tangan Bayu terkepal erat. Dasar bajing*an, ternyata Zafranlah yang tadi malah menguping pembicaraannya dengan teman-temannya.
"Tidak, aku tidak melakukan itu. Aku tidak-"
Buak.
Ryder kembali melayangkan pukulan-pukulannya saat Bayu tetap saja tidak mengaku, padahal semua bukti sudah terpampang nyata di hadapan semua orang.
Para anak buah Bayu langsung berlari dari tempat itu saat melihat Bayu ditangkap, tetapi orang-orangnya Edward langsung mengejar mereka.
"Sudah hentikan, Ryder. Kau bisa membuatnya mati," ucap Yara sambil menarik tangan Ryder agar menghentikan pukulan-pukulan diwajah Bayu.
Setelah pukulan Ryder terhenti, Ansel dan Lewis segera membawa Bayu untuk diobati. Terlihat laki-laki itu sudah sangat mengenaskan tanpa bisa melawan.
"Tunggu!"
Ansel dan Lewis menghentikan langkah mereka saat mendengar seruan Edward, dengan cepat laki-laki paruh baya itu mendekati mereka.
"Apa kau juga ada hubungannya dengan kematian Edwin?" tanya Edward dengan tajam.
Bayu menggelengkan kepalanya. "Tidak. Aku, aku tidak melakukan apapun. Aku tidak bersalah." Dia tetap teguh pendirian.
Lewis dan Ansel lalu melanjutkan langkah mereka untuk mengobati Bayu, lalu Edward memerintahkan dua orang anak buahnya untuk mengawasi Bayu agar laki-laki itu tidak kabur.
Suasana benar-benar sangat ramai dan juga menyeramkan. Semua orang benar-benar tidak menyangka jika Bayu menggelapkan bahan-bahan pabrik, juga berniat untuk merebut pabrik itu dari tangan Ryder.
"Kita harus membongkar ruangan itu, Pak," ucap Ryder tiba-tiba.
Edward tersentak kaget. "Apa, apa maksud Anda? Kenapa kita membongkarnya?" Dia merasa heran.
__ADS_1
Entah kenapa Ryder merasa jika ada sesuatu dalam ruangan itu, dan aneh sekali rasanya jika Edwin muncul di ruangan itu tanpa memberikan pertanda apa-apa.
"Aku merasa ada sesuatu di dalam ruangan itu, jadi kita harus membongkarnya," ucap Ryder.
"Benar, Pak. Aku juga yakin jika kemunculan Edwin adalah sebuah pertanda untuk kita, jadi tidak ada salahnya jika memeriksa ruangan itu," sambung Zafran.
Edward lalu menganggukkan kepalanya dan menyetujui ucapan Ryder dan Zafran. Mereka lalu pergi ke pabrik untuk memeriksa semua itu.
Sebagian masyarakat ikut pergi bersama dengan Ryder, sementara sebagian lagi tetap berada di tempat itu karena takut jika nantinya Bayu melarikan diri.
Zafran juga sudah menghubungi pihak kepolisian beberapa saat yang lalu, dan kini mereka masih dalam perjalanan menuju desa tersebut.
Yara juga ikut bersama dengan Ryder dan Zafran untuk melihat apa yang terjadi. Dia merasa penasaran dan juga cemas, semoga saja dugaan mereka tidak benar.
Alat berat terpaksa dikerahkan untuk membongkar sesisi ruangan itu. Baik bagian dinding, lantai, dan semua yang ada dalam ruangan tidak boleh terlewat dari pemeriksaan.
Sedikit demi sedikit penggalian dilakukan untuk memastikan bahwa tidak ada sesuatu dilantai ruangan itu. Namun, tiba-tiba operator menghentikan alat beratnya saat melihat sesuatu.
"Ada kerangka manusia!"
Deg.
Semua orang tersentak kaget saat mendengar ucapan laki-laki itu, terutama Edward, Ryder, Zafran dan juga Yara yang langsung menghampiri galian tersebut.
"Innalaillahi," seru Yara saat benar-benar melihat mayat manusia yang hanya tinggal kerangka saja dalam lubang itu.
Rayder dan Zafran terpaku di tempat mereka saat dugaan yang ada dalam pikiran mereka ternyata benar adanya, dan bisa dipastikan bahwa itu adalah mayat Edwin.
"Tidak, putraku!" teriak Edward setelah beberapa saat terpaku menatap kerangka manusia di depan matanya. "Edwin, Edwin!" Dia kembali berteriak saat melihat sebuah kalung yang ada di tubuh mayat itu, dan kalung itu adalah kalung yang dia berikan untuk putranya.
Edward menangis sejadi-jadinya sambil bersimpuh di atas tumpukan tanah. Dia meraung-raung saat melihat apa yang terjadi pada putranya.
Dengan cepat Ryder mendekati Edward lalu memeluk tubuh laki-laki paruh baya itu dengan erat.
"Aku akan membunuhnya, aku akan membunuh orang yang telah menghabisi nyawa putraku!"
•
•
•
Tbc.
__ADS_1